Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
29. KHAYALAN MEMBUATKU GILA


__ADS_3

Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Bian dengan penuh tanda tanya.


"Terlihat dari wajahmu, kalau kamu sedang berpikir mesum. Ingat! kita menikah berdasarkan mencari keuntungan dan jangan macam-macam apalagi sampai membuatku rugi besar," cerocos Tasya yang panjang lebar.


"Apa salahnya kita menikah sah di mata hukum dan negara bukan."


"Bodoh amat dengan semua itu," bentak Tasya.


Brakh.


"Astaga, bikin orang jantungan saya." Bian berkata lirih karena akibat suara pintu yang di tutup dengan sangat keras hingga membuat dirinya terlonjak kaget.


Saat ini Bian frustasi karena benar-benar bingung harus bagaimana. Warisan, semua ini karena warisan jika saja dirinya tidak ada saudara mungkin saja ia tak akan senekat ini, untuk melakukan pernikahan kontrak. Namun, semua itu harus dilakukannya agar dirinya tetap bisa menjaga harta orang tuanya. Bukannya tidak percaya pada Doni, hanya saja Doni tidak bisa bersikap dewasa dan belum mengerti cara mengelola harta kedua orang tuanya, dan alasan yang paling utama tentunya seorang wanita yang selalu mendekati sang adik, membuatnya lupa daratan hingga semua apa yang mereka mau Doni memberikan itulah kegoblokan adiknya dalam bercinta.


Argh.


"Kenapa jadi kacau seperti ini sih," umpat Bian dengan mengacak-acak rambutnya karena sekarang dirinya berada di posisi terjepit.


Dengan keadaan yang bimbang. Akhirnya Bian memutuskan untuk keluar tujuannya mencari udara segar agar otaknya bisa berjalan dengan benar, namun siapa sangka saat berada di perjalanan Bian mendapat telepon dari sahabat lamanya, dan menurutnya itu adalah kesempatan karena mereka akan bertemu di cafe sebentar lagi.


Sedangkan di rumah Tasya celingukan mencari keberadaan Bian namun tidak di temukan walaupun dirinya sudah berkeliling ruangan.


"Ke mana itu orang, tumben ngilang?" Tasya pun bertanya pada dirinya sendiri.


Tasya pun baru sadar kalau ada yang lupa karena belum sempat di cek. Buru-buru ia keluar garasi dan melihat jika motornya masih ada, lantas ia keluar ke teras untuk melihat mobilnya. Ternyata benar Bian keluar dengan menggunakan mobil. Tanpa berpikir lagi Tasya kembali masuk karena sekarang sudah jam tujuh malam, ia akan merebahkan tubuhnya di kasur empuk dan mahal tentunya yang tak pernah ia rasakan selama ini.


Entah sekarang pukul berapa karena tiba-tiba saja Tasya merasakan haus dan ia pun segera bangun, untuk mengambil air putih.


Diliriknya jam yang berada di gawai ternyata masih pukul 10 malam, namun terlihat kalau Bian belum pulang juga. Sepertinya tak ada masalah untuknya toh ia tidak mau terlibat dalam urusan kehidupannya, maka dari itu dia tidak perduli meski lelaki itu sekalipun tak pulang.


"Ah lega," ucap Tasya setelah meneguk air segelas. Setelah itu ia kembali lagi ke tempat tidur karena tadi dirinya sempat bermimpi satria baja hitam yang sangat tampan.


Siapa tahu dengan melanjutkan tidurnya ia akan bertemu kembali dengan pangeran dengan wajah yang amat mempesona, hingga membuat dadanya bergetar hebat.


Akhirnya Tasya pun kembali tidur dengan harapan akan di datangi oleh pangeran berkuda.


Pagi hari.

__ADS_1


"Kenapa terasa sesak nafasku," batin Tasya yang tak mampu menggerakkan tubuhnya.


"Apa pangeranku benar-benar datang dan memelukku saat tidur semalam?" batin Tasya lagi.


Karena Tasya ingin segera beranjak dari tempat tidur karena sudah tidak tahan hingga sesuatu di sana, ingin segera meminta di keluarkan.


Aaaaaaa.


"Apa yang kamu lakukan!" seru Tasya saat matanya mulai dibuka dan melihat kaki Bian berada diantara pahanya.


"Mulut mercon bisa tidak suaramu itu sedikit di kurangi, apa kamu ingin membuat saya masuk di dokter THT, karena pendengaranku yang berkurang."


Bian yang kala itu mendengar Tasya berteriak langsung terlonjak karena saking terkejutnya.


"Aku kira yang memelukku adalah satria baja hitam, eh ternyata kamu. Kenapa mesti peluk-peluk sih," kata Tasya dengan suara tidak suka.


"Saya harap kamu tidak mabok."


"Apa maksudmu!" ketus Tasya.


"Kamu sendiri yang memeluk saya dan tidak membiarkan saya pergi," terang Bian dan itu membuat Tasya mendelikkan matanya lebar-lebar. Bagaimana bisa semua itu terjadi bukannya memeluk pangeran malah yang ada di peluk oleh cucunguk pikirnya.


"Apa kamu menganggap saya berbohong."


"Tentu mengapa tidak. Mana ada pria normal kalau liat perempuan di sampingnya kuat," kata Tasya penuh keyakinan.


"Saya orang kaya, kalau hanya mencari kehangatan saya bisa mencarinya. Saya kalau lihat tubuh kamu sama sekali tidak selera orang badan mirip seng gitu, apa yang mesti di banggakan." Dengan suara kerasnya Bian berkata karena ia tidak mau di bilang mesum oleh perempuan yang ada di sampingnya itu.


Merasa tidak terima hingga tersulut emosi.


Bukh.


"Makan tuh bantal."


Entahlah hari-hari yang mereka jalani seperti apa karena dari awal bertemu hingga sekarang satu atap pun, keduanya tidak bisa akur.


"Dasar mulut mercon," dengus Bian.

__ADS_1


"Kan sayang kalau ada barang nganggur kalau gak dipeluk," batin Bian dengan senyuman jahilnya.


Setelah puas tertawa dalam hati, Bian pun kembali tidur karena matanya masih mengantuk akibat semalam pulang hampir menjelang pagi.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sedangkan Tasya sedari tadi uring-uringan tidak jelas. Khayalan yang tak bisa menjadi nyata, membuatnya merasa kesal.


"Lagian ini kan bukan dunia putri tidur. Ish, betapa bodohnya diriku." Tasya sesekali menggetok keningnya sendiri karena tidak menyangka bahwa ia terlalu larut dalam dunia khayal.


"Sudahlah sepertinya aku harus memasak agar pria menyebalkan itu, tidak memarahiku lagi."


Setelah itu Tasya benar-benar memasak untuk dibuat sarapan. Tumis kangkung, dan udang krispy dan tahu bacem. Semua sudah siap masakan sederhana namun membuat perut ingin terus diisi oleh nasi.


Saat ini sudah jam tujuh pagi. Bian juga sudah bersiap untuk berangkat bekerja, karena bau masakan yang menggugah selera hingga membuatnya buru-buru untuk mandi, dan setelah itu ia juga tak sabar untuk segera sarapan karena perutnya sudah amat lapar.


"Tampan." Bian memuji dirinya sendiri di depan pantulan cermin, setelah menyisir rambutnya dan dirasa semua sudah rapi. Ia pun langsung keluar dari kamar dan menuju meja makan.


Di dapur.


"Syah, mana piringnya saya sudah sangat lapar?" saat Bian menanyakan piring ada perasaan aneh yang melingkupi pikiran Tasya.


"Tumben ini orang," batinnya dalam hati karena Bian tak seperti biasanya yang sangat antusias soal makanan.


Namun, Tasya tak ingin menanyakan perihal itu. Tanpa menjawab ia pun langsung mengambilkan piring.


Bian makan dengan sangat nikmat tanpa toleh sana toleh sini. Hingga tak terasa ia menghabiskan banyak makanan.


"Terimakasih untuk sarapannya, kalau begitu saya akan berangkat kerja."


Bukan suara Bian yang membuat Tasya menelan ludah, namun sesuatu yang terlupakan dari sang empu.


"Apa kamu akan berangkat kerja dengan keadaan seperti itu?" sedikit memejamkan mata tidak banyak hanya sedikit jadi Tasya masih bisa melihat.


"Apa maksudmu?" tanya balik Bian.


"Lihat saja."

__ADS_1


Aaaaaaa.


"Sial."


__ADS_2