
"Bagaimana para saksi?”
SAH!
SAH!
“Alhamdulillah, hari ini kalian sudah sah menjadi suami istri di mata agama dan negara."
"Semoga hubungan kalian sakinah mawadah dan warohmah, hingga usia yang akan memisahkan kalian."
"Kalau begitu cium tangan suami dan begitu pula dengan sebaliknya." Pak Penghulu pun memberi tahu agar keduanya melakukan seperti yang sudah dikatakan oleh Penghulu tersebut.
Dengan ekspresi malas keduanya terpaksa melakukan perintah tersebut.
Hari ini detik juga, kamu telah sah menjadi istriku jadi usahakan menjadi istri yang baik dan penurut." Abian membisikkan kata-kata wejangan pada Tasya, dan sang pemilik telinga hanya tersenyum kecut karena tak mau menanggapi ucapan Bian, lebih dalam lagi karena itu akan membuang tenaga.
Setelah prosesi ijab qobul selesai Tasya dan yang lainnya pun keluar dari kantor KUA, (Kantor urusan agama).
"Bu, setelah ini saya mohon izin untuk membawa Tasya pulang ke rumah saya." Abian sengaja meminta izin pada orang yang selama ini merawat sedari kecil hingga tumbuh dewasa, untuk dibawa pulang ke rumah pribadinya. Bian tidak akan membawa istrinya itu ke rumah orang tuanya dan lebih memilih hidup sendiri, karena itu juga untuk memuluskan rencananya.
"Sekarang Tasya bukan hak kami lagi, semua tanggung jawab kita sebagai orang tua. Telah berpindah pada Nak Bian," ucap pak Harun pada sosok seseorang yang saat ini telah menjadi anak menantunya.
"Tapi sesekali tengok keadaan kami di rumah ini, hanya itu permintaan saya bersama istri. Semoga Nak Bian mengerti," tutur beliau lagi. Meski berat harus kehilangan Tasya namun kedua paruh baya itu harus bisa mengikhlaskan.
"Tentu Pak, kami akan sering ke sini bahkan bila perlu setiap hari." Jawab Bian dengan suara enteng tanpa beban.
"Tidak perlu sampai sebegitu nya. Kalian mau main ke sini saja kita sudah senang," ucap pak Harun tersenyum.
"Iya Nak Bian, apa yang dikatakan Bapak benar, dan tolong jaga Tasya untuk kami. Selain kami berdua tak ada orang lain yang peduli dengannya," ujar bu Rumi dengan tatapan memohon.
"Apa ada yang belum aku ketahui?" batin Abian saat orang tua angkat dari Tasya memintanya untuk menjaga serta menyayangi istrinya. Layaknya mereka yang dengan ikhlas memberi seluruh cinta serta kasih sayang yang tak terhingga.
"Kalian tenang saja, kami akan selalu menengok kalian setiap waktu." Seakan tahu jika Bian sedang bersandiwara, dan Tasya pun dengan apik mengikuti semua alur yang diciptakan oleh Bian.
"Baiklah, kami berdua percaya itu." Pak Harun langsung menyahutinya.
Sesampai di rumah bude Rumi menyuruh mereka berdua untuk istirahat sejenak, karena sekarang sudah jam dua siang. Sebelum memutuskan untuk pindah dan hidup berdua saja, maka semua akan baik-baik saja.
"Kalian istirahatlah dulu, Bude mau nyiapain makan siang untuk kita semua." Setelah berucap bude Rumi pun langsung meninggalkan sepasang pengantin baru.
__ADS_1
"Ingat! untuk tetap bersandiwara," bisik Bian dengan tegas.
"Meski sekalipun kamu tak berbicara, aku tahu akan hal itu."
"Bagus." Setelah menjawab Abian langsung pergi dan melangkahkan kakinya ke kamar milik Tasya.
"Hye tunggu!"
"Lepas tidak," seru Bian.
"Ini kamarku jadi jangan coba-coba untuk berkuasa!" sergah Tasya. Lalu membalikkan tubuh Bian.
"Berbagilah sedikit denganku, apa kau tak kasihan melihat suamimu ini amat lelah." Dengan jurus andalannya Bian mulai memelas.
"Cih, pintar sekali ini orang memainkan tokoh yang penuh kepalsuan." Tasya membatin.
Tak ingin berdebat lagi, Tasya memilih untuk mengalah karena ia juga tidak mau membuang waktu hanya bertengkar dengan pria gilanya itu.
Tasya tidak menghiraukan dengan segera langkahnya mengayun ke arah kamar, dan lekas membaringkan tubuhnya yang amat lelah. Lelah dengan semuanya dengan keadaan yang berbeda secara tiba-tiba.
Entah Tasya sudah berapa lama memejamkan mata. Namun, untuk saat ini ia tak ingin memberatkan otaknya yang sudah penuh dengan masalah-masalah yang ada.
Sedangkan Abian juga, mungkin karena seluruh otak dan tubuhnya juga penuh dengan pikiran, hingga membuatnya lelah dan tertidur dengan tangan yang tertumpu di atas kepalanya.
Keesokan paginya saat sudah berada di rumah Abian, yang tak lain adalah suaminya.
Pukul 4:30 pagi.
Huaaaaa malinggg!
Tanpa kata, Tasya langsung memukuli pria yang ada di sampingnya dengan guling.
"Berhenti … Berhenti!" teriak pria itu sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
Tetapi teriakan Bian tidak dihiraukan dan Tasya masih terus memukulinya berulang.
"Stopp!"
Untuk kesekian kalinya Bian berteriak dan Tasya pun langsung berhenti untuk memukulinya.
__ADS_1
"Apa sudah puas memukuli saya! Lihat. Sekarang kamu berada di mana?"
"Yang jelas ini kamarku," ucap Tasya.
"Apa kau buta hingga tak dapat melihat." Suara tegas dan sedikit mengerikan, membuat Tasya langsung memasang matanya benar-benar. Untuk melihat tempat dimana dirinya berada sekarang, lantas beberapa menit kemudian.
"Jadi, ini benar bukan kamarku? Lantas kenapa kita bisa tidur dalam satu ranjang?"
"Pertanyaan bodoh macam apa ini, apa kau juga lupa siapa saya." Pandangan Bian tertuju pada perempuan yang ada disampingnya, pria itu terus mendesis karena benar-benar geram dengan istrinya iti. Dalam benaknya bisa-bisanya orang itu melupakan siapa dirinya.
"Yang pasti kamu manusia kan."
Pletak.
"Auh, sakit dodol." Tasya mengusap keningnya karena telah menjadi landasan jemari pria yang amat dikenalnya.
"Makanya punya otak itu jangan ditinggal usahakan tetap nempel di kepala!" umpat Bian.
"Emang bisa?"
"Nyatanya bisa, dan orang itu sekarang ada di sini."
"Siapa?"
"Aku?" tanya Tasya lagi karena Bian menunjuk ke arahnya.
"Sekarang bangun, jangan lupa buatkan saya sarapan." Abian kembali meringkuk setelah memerintahkan Tasya untuk secepatnya bangun.
"Aku bukan babu, kenapa kamu menyuruhku seenak udelmu sih." Tasya tidak terima dan terus menggerutu menatap wajah lelaki dengan sebal.
"Apa saya harus menunjukkan sesuatu agar kau tak melanggar perintahku!" sergah Bian dengan sesekali mendesis karena ulah wanita itu, hingga membuat darah tingginya sudah berada di pucuk kepala.
"Jangan mesum." Seketika Abian membulatkan matanya, kalau wanita yang beristri itu. Selain pikun ternyata otaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Siapa yang mesum, otak kamu saja yang mesum. Dasar gadis berotak pendek!" Bian tak habis pikir dengan wanita yang tak jauh berada di tempatnya kini.
"Memangnya kamu akan menunjukkan apa, ingat! Aku bisa berkelahi jika kau berani macam-macam maka akan ku copot kunci mu itu, lalu ku gantung di atas pohon."
Glek.
__ADS_1
Bian bersusah payah menelan ludahnya hanya karena ucapan istri gilanya itu. Bagaimana tidak, Tasya mengucapkan kata 'Kunci' tetapi dengan melirik ke arah celana yang dikenakan Bian.
Karena sekarang posisi Bian sedang berdiri. Maka dari itu ia merinding dan takut, kunci yang dimilikinya adalah satu-satunya barang antik yang di punya, bisa-bisa istri gilanya itu akan melepaskan dari kulitnya begitu saja.