Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
49. HARI BAHAGIA UNTUK ABIAN


__ADS_3

Entah dendam apa yang mereka miliki di masa dulu yang pastinya Tasya tidak tahu akan masalah itu, namun yang ia tahu untuk saat ini, kenapa adik dari mamanya selalu ingin membuatnya hancur, dan merebut semua harta yang sama sekali bukan miliknya.


Sawah, Rumah dan ada beberapa usaha lainnya yang dikuasai oleh tantenya Tasya yang amat serakah itu, harusnya ia yang pemilik aslinya rela? Tentu saja tidak. Namun, lagi-lagi Tasya tidak mampu untuk melawan. Sekarang ada Abian yang tak lain adalah suaminya yang akan membantu merebut, apa yang harus di perjuangkan.


Pagi hari, setelah melewati malam yang penuh kebahagiaan untuk seorang Abian. Di kamar dengan ponsel yang berada di tangannya, sudah siap untuk menyuruh orang untuk menjebak keluarga tasya yang rakus, agar bisa masuk dalam perangkapnya.


Dengan senyuman yang tercetak jelas, membuat Tasya yang berada di depan pintu. Membuatnya setengah bergidik ngeri karena melihat suaminya seperti orang gila.


"Mas, kamu kenapa? Sudah mirip orang gila saja." Ucapan Tasya secara tiba-tiba membuat Abian langsung diam. Senyumannya pudar karena kedatangan istrinya yang sejak kapan datang ia tidak tahu.


"Kamu ganggu saja sih," dengus Bian karena Tasya datang dengan waktu yang tidak tepat, pikirnya.


"Ya sudah kalau begitu lanjutkan tingkahmu yang konyol itu, aku tidak jadi ke kamar." Dengan nada terdengar merajuk, Abian berusaha untuk membuat Tasya tidak akan marah lagi.


"Stop, mau apa kamu?" Tasya yang sudah berkeringat karena Abian terus mendekat, sampai tubuhnya mentok di daun pintu. Dengan dada yang bergemuruh menhan gejolak yang ada, Tasya semakin salah tingkah dan tentunya masih takut. Walau itu pun dengan Abian.


"Kam habis makan apa sampai berkeringat seperti itu?" tanya Abian dengan wajah polosnya.


"Apa! Ini bener lagi sinting kali ya. Orang sudah gemetar karena di pepet terus, masih bisa bertanya seperti itu." Dalam hati Tasya terus mengumpat nama suaminya yang tak peka, terhadap dirinya yang sudah hampir mati berdiri karena rasa takut itu.


"Ke-napa kamu terus menghimpitku?" tanya Tasya dengan suara sedikit kaku dan gaguk.


"Memangnya kenapa? Itu kan tidak ada larangan mau saya apa kan kamu," ujar Abian dengan wajah datarnya, dan itu semakin membuat Tasya merasa risih.


"Mundurlah, aku sangat risih." Tasya protes dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bian.


"Perasaan hawanya dingin, dan bukannya kamar ini sudah saya pasangkan Ac, jadi kenapa kamu masih berkeringat dan pucat?" Abian yang semakin penasaran akhirnya memilih bertanya.


"Apa yang kamu mau, cepat katakan dan setelah itu lekas mundur." Tasya pun menyuruh Abian segera mengatakan apa yang di mau. Dengan begitu dirinya tidak akan menjadi seorang peserta maraton yang di kejar oleh nafas.


"Memangnya mau ngapain saya," kata Abian mengerutkan keningnya. Bukannya tujuannya ingin membuat Tasya tidak marah, dan berniat memberikan hadiah pada sang istri. Sekarang justru malah Tasya panik.


"Maka dari itu mundurlah," titah Tasya pada Abian.


"Saya hanya ngin memberikan ini, mengapa kamu sangat ketakutan seakan-akan ada yang ingin meculikmu." Abian lantas berujar sambil tangan merogoh saku untuk mengambil hadiah, lalu diberikannya pada Tasya.

__ADS_1


"Ini." Mata Tasya seakan ingin meloncat dari rumahnya karena melihat sesuatu dari tangan sang suami.


"Ja-jadi, maksudnya."


Pletak.


"Auh, sakit tau." Tasya baru saja mendapat sentilan dari Abian. Sedikit sakit dan bisa-bisa kening Tasya sering dijadikan tempat berselancar, untuk para jari-jari milik Bian.


"Saya tahu apa yang kamu sedang pikirkan, dasar otak isinya mesum mulu."


Tasya semakin merajuk karena ulah Abian yang terus saja menggodanya dengan cara tidak biasanya.


"Apa kamu menolak hadiah dariku?" Abian langsung membuka kota beludru dengan warna biru itu pada Tasya, dan seketika wajah Tasya berbinar-binar saat matanya melihat hadiah apa yang diberikan Abian.


"Cincin ini sangat cantik," puji Tasya saat melihat cincin yang berada di depannya saat ini.


"Saya pakaikan, ya." Tasya mengangguk saat Abian ingin memakaikan cincin tersebut, di antara jari-jari yang pas untuk sebuah lingkaran kecil itu.


Cincin yang sangat cantik sudah bertengger di jari manis milik Tasya.


"Kenapa harus menunggu punya anak?"


Tok.


Tok.


Tok.


Belum sempat Abian mengatakan, terdengar suara ketukan yang membuat mereka berhenti berbicara.


"Mas, siapa itu?" Tasya justru bertanya pada Abian, dan itu membuat mata lak-laki itu menatap tajam pada Tasya. Lantas bagaimana caranya tahu jika pintu di tutup. Lalu membuat tebakan, aish. Itu sangat tidak lucu pikir Abian.


"Kamu bertanya padaku lantas saya harus bertanya pada siapa, kamu tahu kan setiap kali saya bertanya rumput tidak menjawab." Abian mendengus dan sekalian saja membuat kata-kata gila, agar istrinya tidak bertanya lagi.


Suara ketukan kembali terulang, hingga Tasya memtuskan untuk membukanya.

__ADS_1


"Ais menyebalkan," dengus Tasya lalu.


Ceklek.


Pintu pun sudah terbuka dan memperlihatkan sosok wanita yang sangat ia kenal, sadis namun tetap menjadi orang yang sangat penyayang.


"Kamu ini lama amat, abis ngapain sih?" tanya bude Rumi disertai desisan karena Tasya tidak kunjung membuka pintunya.


Hoamm.


"Maaf, kami tertidur. Makanya tidak mendengarkan jika ada seseorang yang tengah mengetuk pintu," ucap Tasya pada bu Rumi.


"Berbohong demi kebaikan gak apa-apa kali," ucap Tasya dalam hati, padahal yang ada ingin rasanya Tasya tertawa.


Sedangkan Abian yang masih berpura-pura tidur, merasakan hal yang sama kalau sebetulnya ingi tertawa. Akan tetapi, ia mencoba menahannya kalau tida kiamat dunia terkena kemarahan bude Rumi.


"Ya sudah bangunkan suami kamu, karena kita akan segera sarapan."


"Iya, Bude.


Setelah memberi tahu untuk keduanya keluar dari kamar, Tasya menutup kembali pintunya, dan tertawa terbahak-bahak karena sudah berani membohongi bude Rumi.


"Huh, sudah. Aku lelah kalau harus tertawa lagi," kata Tasya yang memilih untuk berhenti tertawa karena perutnya sudah tidak sanggup lagi.


"Lagian kamu, bisa-bisanya berbohong." Abian tak kalah hebohnya saat menertawakan Tasya.


"Yuk keluar, hari ini kita kan akan pulang." mendengar ucapan Tasya. Membuat Abian langsung terbangun dari tempat tidurnya, dan segera beranjak karena ia juga akan berangkat bekerja.


...----------------...


Setelah kepulangan dari rumah keluarga Tasya, Abian sangat bahagia, meski dirinya belum merasakan nikmatnya surga dunia.


Dengan Tasya membalas perasannya saja sudah membuatnya senang, karena cintanya terbalaskan dan tidak terbuang sia-sia.


"Mas."

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2