Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
39. BAJU TIDUR BERWARNA PINK


__ADS_3

Tidak harus memakai baju tidur dengan warna pink kan? Lalu ada gambar beruangnya. Baju tidur dengan berbahan kaos saat ini yang sedang dikenakan oleh Bian. Membuatnya sangat cantik, ah tidak tapi terlihat sangat membuat orang merinding.


"Tapi kau nampak cantik mengenakan pakaian itu," ujar Delon yang lagi-lagi tak kuasa untuk tidak tertawa.


"Memangnya saya kekurangan baju apa, sungguh menyebalkan." Bian tidak habis pikir dengan Tasya, bukannya baju tidurnya juga ada banyak. Mengapa harus dipakaikan bajunya, itu sungguh menjijikkan.


Saat mereka berdua tengah mengobrol. Tiba-tiba saja seorang wanita yang tidak lain adalah Tasya berjalan ke arah dapur. Dengan muka yang kusut serta rambut yang acak-acakan, tanpa diketahuinya jika Bian dan Delon terus memandanginya.


Lalu tiba-tiba saja Bian teringat akan kejadian tadi pagi, saat dirinya bangun tanpa sengaja menyentuh kulit kenyal dan berbentuk bak gunung tersebut. Pikirannya sekarang sedikit kotor karena bayangan itu tak bisa hilang dari ingatannya.


"Maaf, dia kenapa?" tanya Tasya pada Delon karena melihat Bian hanya bengong dan sesekali tersenyum.


"Sepertinya lagi membayangkan yang jorok-jorok," timpal Delon karena Delon yakin jika memang Bian sedang berpikir kotor. Terlihat mulutnya yang menganga dengan sesekali mengusap bibirnya dan jigong yang hampir terjatuh.


"Dasar otak mesum," ucap Tasya yang memandang sedikit jijik ke arah suaminya tersebut.


"Sejak kapan laki kamu gak mesum, hanya saya dia belum tahu rasanya dan itu hanya berlaku di pikirannya bukan di sifatnya." Delon menjawab keluhan Tasya karena ia tahu kebiasaan buruk Bian.


"Ah sudahlah, buang-buang waktu saja." Tanpa memperdulikan pria itu Tasya langsung mengambil gelas, lalu meminum segelas hingga tandas tanpa tersisa.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Delon untuk memastikan kalau dugaannya kuat dan pastinya benar.


"Apa dia seorang peramal sampai bisa tahu kalau aku semalam tidak bisa tidur?" dalam hati Tasya bertanya-tanya dan berpikir kenapa Delon tahu.


"Saya harap kamu mendengar," kata Delon.


"Ten-tu saja nyenyak," ujar Tasya sedikit terbata.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Delon tersenyum tipis dan ia pun tahu jika Tasya sedang berbohong karena terlihat dari suaranya yang terbata, di tambah mimik muka yang memperlihatkan kebohongan.

__ADS_1


Tasya masih melihat Bian layak orang kesurupan berinisiatif untuk membuatnya sadar, agar tak lagi seperti orang gila.


"Kau mau apa?" tanya Delon saat melihat peralatan perangnya yang sekarang berada di tangan Tasya.


"Kamu diam saja jika ingin temanmu sembuh," ancam Tasya pada Delon dan sekarang.


Glontang.


Brakh.


Tieng.


Anggap saja seperti itu suaranya, karena Tasya membanting panci beserta tutupnya.


"Apa kau ingin membuat saya setrup!" bentak Bian saat melihat sebuah barang jatuh dan menimbulkan bunyi yang sangat keras.


"Maaf ralat ulang maksudnya setruk, tadi lidah saya keseleo."


Tasya menghela nafas karena pagi ini dirinya harus sesering mungkin mengusap dadanya, agar rasa sabar itu terus ada dan tidak meninggalkannya.


Sedangkan Delon dalam hati tertawa karena melihat kekonyolan Tasya yang bingung, karena Bian berkata dengan lidah tertekuk.


"Sudahlah jangan berdebat lagi, mending sekarang kita sarapan karena saya sudah lapar."


"Dan kau tahu Bian, saya dari kemarin sore belum makan dan itu gara-gara siapa … Kau," ketus Delon dengan tatapan kesal yang mengarah kepada Bian.


"Kenapa jadi saya yang kamu salahkan," sahut Bian tidak terima jika karenanya lah Delon sampai-sampai melupakan makan.


"Lantas saya harus menyalahkan siapa? Itu semua memang karena kamu," kata Delon dengan menunjuk Bian.

__ADS_1


"Ya sudah maaf, dan bulan ini saya akan memberikan bonus pada kamu." Bian tahu apa yang dibutuhkan oleh Delon, karena dengan memberikan bonus maka masalah selesai.


"Tidak semudah itu kau menyogokku, ini bukan soal bonus tapi lebih tepatnya ke arah kesehatan." Untuk saat ini dirinya tidak menerima bonus yang diberikan padanya, harusnya sih Delon senang karena sudah mendapat keuntungan. Namun, dirinya untuk saat ini harus sok jual mahal agar tidak di katai matre oleh Bian.


"Tumben kau menolak, apa sekarang sudah tidak membutuhkan uang lagi?"


"Cih, siapa yang tidak butuh pasti butuh. Hanya saja aku menjaga nama baikku di depan wanita," gumam Delon pada hatinya.


"Kalau kau memaksa ya sudah saya menerima dengan senang hati," kata Delon.


"Dasar laki-laki mata duitan, begitu saja sok jual mahal." Bian berdecih karena nyata seorang Delon tidak bisa jauh dari yang namanya uang.


Tasya yang terus saja melihat dua lelaki itu saling melontarkan umpatan, menatap jengah ke arah keduanya.


“Apa kalian akan terus seperti anak keci saling ejek dan saling mengatai. Bisa-bisa aku mati kelaparan menunggu kalian selesai gelut,” sungut Tasya pada mereka berdua.


Bian dan Delon saling menggaruk kepala karena merasa dirinya layaknya bocah yang kalah dari permainan.


“Sekarang cucilah tangan kalian dan segera sarapan,” perintahnya pada mereka berdua. Para lelaki mengangguk patuh bak kucing manis namun terkadang bisa berubah seperti kucing garong.


Kini mereka bertiga sudah duduk berhadapan di meja makan dan langsung menikmati nasi goreng dari made in Delon, karena dialah yang memasaknya dan membuat lauk berupa telur ceplok.


Tasya yang tanpa sengaja melirik ke arah Bian pun dengan tatapan gelinya, karena ia baru sadar jika baju yang di pakaikan kemarin adalah baju dengan warna pink.


Bian yang merasa di tatap pun sesaat menghentikan sendok yang sudah siap terbang ke mulutnya. “Apa kamu sedang menertawakan saya?”


“Aku baru sadar jika kamu seperti si unyil sangat lucu,” kata Tasya yang tak sekalipun merasa bersalah.


“Ini semua kan ulahmu.”

__ADS_1


__ADS_2