
"Lha iya kan, apa ada yang salah dari ucapanku?"
Bian mengeryitkan dahi, benar-benar aneh perempuan ini pikirnya.
"Tetap saja kamu makan mie," ujar Bian mengajukan protes pada Tasya karena memang yang dimakan oleh gadis itu adalah mie instan.
"Soto tapi dengan isian mie," Tasya masih bersikeras jika yang dimakan adalah soto dengan isi mie bukan berisi daging.
"Kalau tidak percaya coba saja rasanya, maka dari situ kamu bisa menilai yang ku makan apa." Saat Tasya berkata Bian langsung mundur, bukan tidak suka hanya saja dirinya takut kalau akan kejadian kemarin, akan menimpanya lagi. Secara Tasya itu gadis bermulut mercon jadi bisa dipastikan tiap makanannya mengandung mercon.
Rupanya Tasya tahu apa yang ada di pikiran Bian. "Tenang saja ini tidak beracun." Tasya menyakinkan Bian agar mau merasakannya.
"Mie itu pasti mengandung mercon dan jika saya memakannya, takutnya usus saya ancur di dalam sana."
"Tidak, ini beda dengan kemarin."
"Apa kau yakin, Nona?"
"Tentu nih."
Tasya menggeser mangkuk tersebut ke arah Bian, dengan sedikit ragu akhirnya lelaki itupun langsung memasukkannya ke dalam mulutnya dan setelah itu Tasya pun bertanya. "Bagaimana?"
"Iya ini soto karena kuahnya juga rasa soto, tapi kenapa pabrik membuat seperti ini. Bukannya ini termasuk penipuan kalau begini ceritanya?"
"Jangan bertanya soal itu, karena aku tidak tahu saat ini yang ada dibenakku. Segera menghabiskan makanan tersebut karena aku sangat lapar," kata-kata Tasya,membuat Bian teringat sesuatu ia lupa kalau tadi siang semua makanan, hanya dirinya sendiri yang menghabiskan tanpa menyisakan Tasya.
...----------------...
Malam hari pukul delapan malam. Bian masih berada di ruang kerja dan tidak ingin waktunya diganggu.
Sedangkan di luar Tasya ingin membuatkan kopi untuk menemani pekerjaan suaminya, namun ragu untuk menawarinya.
"Apa aku harus masuk untuk menawarinya," gumam Tasya yang terus mondar-mandir bak setrika butut.
"Ah kenapa ini lagi, kok aku jadi orang yang lagi salah tingkah ya." Tasya berucap lirih seraya menyakinkan hatinya bahwa ia akan masuk untuk menawarkan kopi.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
"Boleh aku masuk." Tasya sengaja datang ke ruang kerja dan semoga Bian tidak marah.
"Masuklah," ujar Bian saat Tasya mengetuk pintu.
Ceklek.
"Maaf mengganggu," kata Tasya sedikit kikuk.
"Ada apa?" tanya Bian dengan mata yang menatap ke arah laptop.
"Mau kopi," tawar Tasya.
"Boleh." Jawab Bian yang masih fokus dengan layar yang ada di depannya tersebut.
"Baiklah aku akan membuatkanmu," ujar Tasya lalu ia pun melangkah keluar untuk ke dapur.
Sekarang Bian tidak memikirkan apapun karena otak dan matanya fokus pada pekerjaan, dan sesekali menghisap rokok yang mengeluarkan aroma buah blueberry.
Sekitar 15 menit, Tasya sudah kembali ke ruang kerja milik Bian dengan membawa secangkir kopi.
"Minumlah mumpung masih panas." Tasya langsung meletakkan kopi hitam tersebut di meja.
"Wah di sini rupanya ada novel ya?"
Bian menghentikan aktivitasnya lalu melirik Tasya yang sangat kegirangan kala menemukan Rak, yang berisikan novel dan komik.
"Jika suka bacalah," kata Bian saat Tasya melihat-lihat ke arah rak tersebut.
"Aku akan membacanya, tapi sebelumnya bolehkah aku ikut duduk di sini karena di luar sendirian dan tidak asik." Tasya pun sangat antusias dan meminta izin juga untuk ikut menemani sang suami yang sedang bekerja.
"Tinggal duduk dan jangan bicara lagi, kau ini mengganggu saja." Maka seperti itulah jika Bian kesal panggilan kamu pun bisa berubah menjadi 'Kau' jadi harusnya Tasya diam.
Tasya pun akhirnya meletakkan bokongnya di sofa panjang. Sembari membaca komik dan beberapa novel ia merebahkan tubuhnya, hingga tanpa disadari buku itu kini menutupi wajahnya, dan itu pun tak luput dari pandangan Bian.
"Jika mengantuk mengapa harus numpang tidur di sini, apa tidak bisa langsung ke kamar? Sungguh ceroboh." Bian menatap tubuh langsing milik Tasya, dan entah mengapa ia semakin ingin melihat lebih dekat lagi.
Kini Bian sudah berjalan dn mendekati Tasya, dan entah mengapa seperti tersengat listrik dan tiba-tiba sesuatu di sana terasa sesak.
__ADS_1
“Aish, ini kenapa si jono tiba-tiba tegang sih.” Bian mengumpat kesal karena ada yang tegang dan itu membuat kepalanya pening.
Memberanikan diri untuk jauh lebih dalam untuk menatap di setiap inci, tubuh Tasya.
Bian sudah tidak tahan dengan semuanya, dan terlebih lagi dirinya pria normal. Mana mungkin tidak tertatik, tentunya sangat tertarik apalagi perempuan yang ada di sofa itu istrinya.
“Apa nanti saya akan di teriaki maling, setelah berhasil mencium perempuan ini?” Bian bertanya-tanya soal dirinya yang akan mencuri ciuman dari Tasya.
Saat tangan Bian sudah lihai dalam menciptakan permainan di tubuh Tasya. Tanpa sengaja pemilik dari tubuh itu melenguh.
Enggggh.
Satu lenguhan lolos dari bibir Tasya dan itu membuat Bian bertambah semangat. Kini wajahnya tak ada jarak dan hanya suara deru nafas yang terdengar.
Satu kecupan lolos, dan itu membuat Bian semakin bergairah.
“Malam ini kamu adalah milikku, mulut mercon.” Dengan senyuman liciknya Bian menikmati di setiap rasa yang ia buat.
Tasya hanya menggeliat rupanya tubuhnya belum sadar jika ada sesuatu yang membuatnya terus melenguh dan menggeliat hebat.
“Syah, saya mencintai kamu.” Bian berbisik di telinganya dan mengatakan jik dirinya sudah jatuh hati padanya.
Sedikit terusik hingga membuat Tasya membuka mata dan.
Aaaaaaaaa.
Tanpa menunggu aba-aba Bian langsung membekap mulutnya dengan bibirnya.
Kaget tentu, karena Bian menyerang secara tiba-tiba. Tasya hanya mampu mendelikkan matanya, dia tidak mengingkinkannya namun tubuhnya merespon dan membuatnya sedikit basah karena ulah Bian.
Auh.
Bian mengggit bibir bawah Tasya hingga ia berteriak, namun itu adalah salah satu trik agar bisa membuat Bian memasukkn sesuatu di mulut Tasya.
Saat ini mereka larut dalan keindahan malam dan tanpa sadar Tasya membalas ciuman tersebut.
“Syah, saya mencintai kamu. Apa kita bisa memulai hubungan yang baru,” ucap Bian setelah melepaskan pagutannya. Lalu memegang kedua tangan sosok yang berada di depannya itu.
“Aku sudah tahu kalau kamu suka padaku,” kata Tasya menjawab ucapan Bian.
__ADS_1
“Bagaimana kamu mengetahui hal itu?” tanya Bian, apa jangan-jangan Tasya tahu kalau kemarin dirinya berbcara sendiri di ruang kerja, lalu tanpa sepengatahuannya Tasya mendengar? Jika memang itu benar, betapa bodohnya ia karena di anggap sangat memalukan pikirnya.
"Jika kamu suka padaku lantas bagaimana dengan surat kontrak itu? Bukankah perjanjian kita masih empat bulan lagi?"