
Dengan spontan Delon langsung melepaskan tubuh Bian hingga membuatnya terjatuh lalu sang pemilik tubuh mengamuk.
“Maaf Bos, saya tidak sengaja.” Dengan tanpa rasa bersalah justru Delon tersenyum saat melihat Bian, merintih kesakitan akibat terjatuh.
“Dasar bangsat,” umpat Bian sembari mengelus bokongnya yang sedikit nyeri.
“Sudahlah kamu lebih baik angkat dia ke kamarnya,” ucap Tasya yang meminta pada Delon agar membawa Bian ke kamarnya.
“Haruskah saya lagi.” Dengan tampang bodohnya ia berkata.
“Lalu siapa?”
Dalam hati Delon mengumpat habis-habisan karena lagi-lagi dirinya yang harus direpotkan.
Ck …Ck.
Dengan hati yang dongkol serta kekesalan yang sudah berada di pucuk ubun-ubun. Dengan amat terpaksa Delon melakukannya.
Delon dan Tasya lantas masuk ke dalam rumah dan menuju ke lantai atas, dengan perlahan ia meletakkan Bian di atas kasur.
“Baik, tugas saya selesai dan waktunya saya pulang tapi … Sepertinya saya butuh baju untuk mengganti pakaian yang sekarang sudah kotor akibat kelakuan suami kamu,” kata Delon dengan wajah yang sudah mirip kanebo kering.
“Tidurlah di ruang tamu, di sana tinggal memakainya.” Justru Tasya bukan mengambilkan pakaian untuk Delon, malah menawarinya untuk menginap.
Hufff.
“Baiklah saya akan menginap untuk malam ini,” ujar Delon sedikit berat hati namun ia terpaksa mengambil penawaran dari Tasya, karena juga tidak mungkin dengan membawa mobil Bian dengan keadaan yang sudah penuh oleh muntahan.
“Jangan abaikan perasaan lelaki yang tulus padamu, karena jika kamu menolak nantinya belum tentu kamu mendapatkan seseorang yang bisa menerima keadaanmu untuk saat ini.” Sebelum keluar Delon mengatakan sesuatu hal pada Tasya, dan itu membuatnya bungkam seketika.
“Apa Bian mengatakan tentang keadaan kita kepadamu?” tanya Tasya sedikit penasaran.
“Tidak, hanya saja saat dirinya dikuasai oleh alkohol ia meracau dan beberapa kali menyebut nama kamu. Dia frustasi karena cintanya ditolak dan untuk alasan mengapa Bian memilih kamu saya tidak tahu,” terang Delon panjang lebar.
__ADS_1
“Aku perlu memikirkan ini semua bukan. Meski perjanjian pranikah sudah kita sepakati namun tetap saja semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan, kalau dia memang mencintai aku tentu ia dengan sabar akan menunggu sampai hati ku terbuka.” Tasya menatap wajah lelaki itu dengan sangat serius, dan sekarang mereka saling tatap.
“Sedikit untuk memberikan perhatian padanya, itu membuat kalian akan semakin dekat.”
“Dulu Bian pernah di khianati oleh perempuan dan mereka hampir saja menikah, namun lagi-lagi fisik menjadi tolak ukur. Wanita itu hanya ingin hartanya dan kamu tahu? Perempuan itu berselingkuh dengan adik angkat dari Bian setelah mendapat hartanya maka perempuan itu akan menceraikannya, dan untung semua didengar tanpa sepengetahuan Bian sendiri.” Delon mulai menceritakan perihal masa lalu, bukan memaksa Tasya untuk menerima temannya. Hanya saja supaya perempuan itu sadar jika lelaki yang sekarang teler sangat mencintai istrinya lebih dari apapun.
"Lantas ke mana perempuan itu?"
"Dia pergi dengan pria lain karena lagi-lagi wanita itu hanya butuh harta Doni saja," terang Delon.
"Kalau begitu selamat malam menjelang pagi, karena saya akan keluar untuk tidur."
"Ya, selamat malam juga.
Selepas kepergian Delon dari kamar. Lantas Tasya pun melepas sepatu dan pakaian Bian, lalu menggantinya agar merasa tidak risih di tambah bau aroma dari alkohol itu sangat mengganggunya.
Satu persatu semua sudah di lepas. Kini Tasya berada di sampingnya, menatap lekat ke arah wajah pria yang sudah dua bulan ini menjadi suaminya.
"Kamu cukup tampan, tapi hatiku belum dag, dig, dug. Lalu aku harus apa," kata Tasya lirih.
Untuk saat ini dirinya tidak akan tidur di ranjang. Melainkan tidur di bawah karena aroma asap bercampur dengan minuman yang memabukkan itu. Membuatnya pusing, jadi ia memutuskan untuk menggelar karpet untuk tidur di bawah.
“Kenapa aku sama sekali tidak bisa tidur. Padahal sekarang sudah jam setengah tiga pagi, kalau begini caranya aku tidak akan bisa kerja.” Tasya kesal dan terus uring-uringan karena tidak bisa tidur, hingga suara toa yang berada di masjid. Samar-samar terdengar di telinganya.
Entah sampai berapa kali ia berganti posisi hingga kini tubuhnya dan terpejam dengan keadaan terlentang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bian yang baru saja terbangun begitu sangat terkejut saat mendapati tubuhnya sudah tidak mengenakan pakaian yang semalam.
“Siapa yang menggantikan pakaianku?” Bian bergumam seraya bertanya-tanya karena jika itu Tasya rasanya sungguh mustahil pikirnya.
“Dimana Tasya?” Bin mencari-cari istri kecilnya itu namun matanya tak melihat.
__ADS_1
“Sudahlah.” Akhirnya Bian bangkit dan hendak akan turun, namun kakinya menyentuh sesuatu dari bawa sana. Sesaat Ia mengeryitkan dahinya dan mencoba berpikir, benda apa yang disentuhnya. Sedikit kenyal dan itu membuatnya geli.
Huh.
“Tasya, jadi yang ku sentuh barusan adalah gunungnya yang menjulang tinggi namun kurus.” Bian tidak menyangka dengan apa yang di sentuhnya barusan.
“Pasti kedinginan karena semalam tidur di bawah,” gumam Bian, lalu ia pun berinisiatif untuk memindahkan tubuh istrinya ke atas kasur.
Dengan perlahan Bian mengangkat tubuh Tasya dan langsung menyelimutinya. Lantas Bian sendiri kini sudah keluar kamar dan kerongkongannya terasa tercekat karena haus.
Sesampainya di dapur netra nya menangkap sosok Delon yang sedang berada di depan kompor. Entah sedang melakukan apa dan itu membuat Bian langsung menghampirinya.
“Lon, kamu di sini?” tanya Bian sembari menyeret kursi dan langsung meletakkan bokong dimana tempat ia harus meletakkan.
“Sudah bangun rupanya. Iya, kamu tahu sendiri karena ulahmu semalam sampai-sampai pakaianku kotor ditambah mobil yang penuh dengan muntahan mu itu, betapa menjijikkan bukan.” Delon pun berbalik badan menimpali pertanyaan Bian.
“Apa kamu juga yang menggantikan pakaianku ini?” tanya Bian sekalian karena ia sungguh ingin tahu akal hal itu.
Sedetik Delon langsung memperhatikan pakaian yang saat ini tengah di pakai oleh Bian.
“Apa menurutmu aku ini seorang waria yang menyukai baju wanita dan berwarna pink pula,” ucap Delon dengan suara tawa yang menggelegar.
“Kau sengaja mengejekku dengan baju tidur ini. Cih sungguh menyebalkan,” umpat Bian yang tidak terima ia ditertawakan hanya soal baju tidur.
“Karena itu sangat lucu dan kamu sangat terlihat lucu dan unyu-unyu,” balas Delon dengan sejuta tawa hingga membuat perutnya sakit karena berlebihan dalam tertawa.
"Jangan bilang kalau ini kerjaan Tasya."
"Tentunya, kalau bukan dia lalu siapa lagi." Jawab Delon yang tak bisa berhenti tertawa.
Pluk.
"Dasar sialan."
__ADS_1
Bian melempar lap yang ada di meja makan, bukannya dirinya tidak bersyukur atau tidak punya rasa terimakasih hanya saja.