Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
19. DUA MANUSIA YANG TAK PERNAH AKUR


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh bude Rumi, kalau malam ini akan ada tamu. Tasya pun berencana untuk balas dendam dengan cara mengerjainya.


"Rasain kamu, makanya jangan coba-coba melawanku." Dengan senyuman licik Tasya bergumam, matanya menatap benda yang berada ditangannya. Berharap kali ini rencananya akan berhasil dan berjalan mulus, sesuai yang diinginkannya.


Jam dinding sudah menunjukkan angka tujuh malam.


Demi memperlancar Tasya pun membantu menyiapkan semua hidangan yang yang berada di dapur, lalu dipindahkan di meja makan.


Semua sudah selesai dan kini tinggal menanti si tamu meresahkan dan menjengkelkan itu.


Baru saja Tasya duduk di tengah-tengah bu Rumi dan pak Harun. Sebuah ketukan membuatnya mereka saling pandang. Dalam pikirannya itu pasti calon suami dari Tasya.


Ceklek.


Saat bu Rumi berdiri untuk membuka pintu. Ternyata benar kalau yang datang adalah Abian, tapi yang satu lagi tidak tahu karena bu Rumi sama sekali belum pernah berjumpa.


"Nak Bian, masuk." Bu Rumi pun mempersilahkan Bian dan temannya untuk masuk.


"Terimakasih Bu, oh ya. Ini kenalkan Restu teman saya," Bian pun memperkenalkan temannya pada calon mertuanya itu.


Tak ada dandanan yang spesial atau gaun, atau mungkin baju yang bagus untuk dikenakan Tasya. Yah, Tasya sengaja hanya memakai setelan santai karena ia tidak suka berlebihan dalam berpakaian atau berdandan.


"Pak, calon suami Tasya sudah datang temui gih." Bu Rumi pun menyuruh sang suami untuk menemui Bian. Sedangkan kini pandangannya beralih menatap Tasya.


"Syah, kamu serius berpakaian seperti ini?" tanya bude Rumi pada Tasya yang masih santai dengan ponselnya.


"Memangnya aku harus apa Bude," ujar Tasya pada bude Rumi.


"Ya baju yang bagusan dikit atau poles kek itu muka, biar tambah seger." Bude Rumi protes akan penampilan Tasya, karena menurutnya semua itu tidak mencerminkan seorang perempuan.


"Kita hanya akan malam di rumah, bukan kencang atau acara apalah itu. Lagian semua itu tidak penting," ucap Tasya dengan wajah masa bodohnya.


"Terserah kamu dah, lebih baik kita segera makan." Akhirnya bude Rumi mengalah dan tak jadi melanjutkan perdebatannya pada Tasya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang dengan Bian, akhirnya bu Rumi pun mengajak para lelaki itu untuk makan malam.


"Kita makan saja dulu ya, obrolan dilanjut nanti."


"Iya ada benarnya mari kita makan dulu," ucap pak Harun menimpali ucapan sang istri.


Keduanya pun mengangguk, lalu mengikuti langkah para orang tersebut untuk masuk.


Sesampainya di meja makan, rupanya Tasya sudah berada di sana terlebih dulu.


Semuanya duduk dan semuanya masih dengan keadaan canggung karena mereka kali pertama, untuk acara makan bersama.


"Syah, calon suami kamu tolong dilayani dulu." Bu Rumi pun menyuruh Tasya untuk melayani calon suaminya.


Dengan penuh kebanggaan Bian tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Tasya dengan hati yang dongkol terpaksa mengikuti perintah budenya.


Tanpa bertanya ingin memakan lauk apa? Tasya langsung mengambil semua menu, lalu diletakkan di piring Bian.


"Apa kamu kira aku orang yang sedang kelaparan," protes Bian karena piringnya yang penuh bak gunung yang siap untuk menyemburkan lava.

__ADS_1


"Jangan protes. Makan yang banyak agar tumbuh kembangmu semakin bertqmbah," ucap Tasya tanpa ekspresi.


Sedangkan pria yang bernama Restu itu pun ingin tertawa namun ia mencoba untuk menahannya.


"Sumpah ngakak, akhirnya ada yang berani ngalahin si Bian." Dalam hati Restu tak henti-hentinya tertawa.


Sedangkan Tasya yang merasa jika ada yang menertawakannya. Akhirnya mengangkat kepalanya untuk melihat pria asing tersebut.


Di waktu yang sama. Keduanya saling mengangkat wajah untuk saling melihat, dan setelah itu.


"Kamu!" ucap mereka secara bersamaan.


Semua mata pun langsung mengalihkan pandangannya pada Tasya dan Restu.


"Kalian saling kenal?" tanya Bian dengan rasa tak percaya.


"Ini gadis tadi siang yang salah gandeng, dan menyeretku dengan paksa."


Seketika Tasya pun mendelikkan matanya lebar-lebar pada pria yang ada di sampingnya itu.


Wahhhh.


"Ternyata ada orang yang seperti itu ya. Duh, betapa malunya diriku." Mungkin inilah kesempatan Bian untuk membuat keadaan semakin panas.


Tasya yang sudah kehilangan muka langsung melempar udang ke arah Bian dan.


Huph.


Semua orang tertawa melihat udang itu mendarat dengan tepat berada di mulut Bian.


Namu, dengan sekali lahap udang itu langsung masuk ke ususnya.


Merasa tidak puas, Tasya kembali berulah dengan melempar jengkol ke arahnya nya dan.


Huph.


Untuk kedua kalinya Tasya memasukkannya dengan tepat goal.


Tanpa berpikir panjang Bian langsung mengunyah apa yang sudah masuk di dalam mulutnya.


Tidak lama kemudian, ia berhenti mengunyah karena merasa aneh dengan makanan yang di dalam sana.


Hemp.


Huekkk.


"Mampus, mampus dah." Dalam hati Tasya merasa menang karena merasa berhasil.


Bu Rumi dan yang lain merasa bingung dengan keadaan Bian yang terbatuk-batuk.


"Uhuk … Uhuk, apa yang kamu lempar tadi?" wajah kemerahan kini menatap lekat ke arah Tasya.


"Petai." Jawab Tasya enteng.

__ADS_1


"Da–."


"Sudah-sudah, kalian ini mau makan apa mau berantem sih!" bentak pak Harun karena dari awal duduk sampai hampir satu jam, mereka semua malah berantem dan itu membuatnya jengah.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Tasya dan juga Bian.


"Sekarang makan dan jangan ada yang berisik," ucap pak Harun.


Setelah mendapat gertakan dari pak Harun, semuanya pun makan dengan penuh hikmat. Hingga tanpa terasa acara makan malam pun telah usai.


Sekarang di ruang tamu. Mereka semua berkumpul dan berbincang-bincang, tapi tidak dengan Tasya yang memilih keluar untuk menghirup udara malam. Abian yang melihat Tasya sedang berdiam pun lantas menghampiri.


"Kenapa itu muka, kek pete saja cemberut." Bian duduk disebelah Tasya, sedang yang diajak bicara hanya menoleh sesaat, lalu tatapannya menjurus ke arah depan tanpa berkata apapun.


"Ternyata kamu mempunyai mulut mercon ada juga yang baru ku ketahui … yaitu tuli," ujar Bian dengan tawa mengejek.


"Lama-enek aku liat muka kamu, bisa gak kamu langsung pulang! Mataku terintonasi oleh mu." Dengan nada tidak suka Tasya berucap. Bukan tanpa alasan ia benci, gara-gara dia Tasya kehilangan satu pekerjaan dan itulah alasannya yang membuatnya marah.


"Apa kamu marah?"


"Jika kamu tahu mengapa harus bertanya! Kamu sengaja ya," ucap Tasya berapi-api.


"Aku akan pulang. Persiapkan dirimu besok, dan jangan coba-coba kabur." Setelah berpamitan pada Tasya lantas Bian pun masuk ke dalam, meninggalkannya dengan posisi keterkejutan.


"Kenapa orang itu pemaksa banget sih, duh. Kenapa pula hidupku apes mulu." Tasya menggerutu dengan sesekali jemarinya mengetok jidatnya sendiri.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Tanpa perlu izin libur sekalipun bagi seorang Tasya tidak jadi masalah, karena yang akan dinikahinya adalah anak dari bos nya itu. Ets, tapi bukan seenaknya sendiri Tasya berbuat seperti itu. Melainkan bu bosnya sendiri yang menyuruh untuk libur, jadi Tasya dengan rasa tenang jam tujuh pun masih berbalut oleh selimut.


Tanpa diketahuinya jika Bian sudah datang menjemputnya, tapi siapa sangka pada waktu sampai yang di jemput malah masih asik dengan dunia mimpinya.


"Tasya belum bangun Nak, kalau mau masuk saja ke kamar karena tangan Bude sedang kotor."


"Iya Bude terimakasih."


Bian bukannya masuk ke dalam kamar, melainkan keluar rumah untuk mengambil sesuatu dari dalam mobilnya.


Dengan senyuman licik, Bian kembali masuk dan siap untuk membangunkan Tasya.


Sesampainya di kamar.


Bian sudah siap untuk membangunkan si mulut mercon.


"Dalam hitungan ketiga maka kamu siap untuk bangun," gumam Bian.


"Satu, dua, tiga … Gempa … Gempa!"


"Mana gempa mana sebentar aku mau ambil uangku."


Gubrak.


Auh.

__ADS_1


__ADS_2