Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
35. MULUT MERCON ITU ISTRIKU


__ADS_3

"Sepertinya dia kelelahan," gumam Bian saat melihat wajah polos milik Tasya yang saat ini tertidur sangat pulas. Hingga mengeluarkan dengkuran halus, dan sedikit mengganggu pendengaran Bian.


Bian pun membiarkannya tidur dan ia juga langsung menuju ke arah dapur dan melihat, di meja makan sudah ada makanan atau tidak.


Sesampainya di meja makan. Bian terkesima melihat menu yang di olah oleh Tasya, karena perutnya sudah tak sabar ingin segera meninta haknya. Tidak membutuhkan waktu lama, Bian sudah duduk dan menikmati setiap olahan yang di masak oleh sang istri.


"Tidak sia-sia aku menikahi gadis bermulut mercon itu, semua masakannya membuatku tak bisa berhenti untuk memakannya." Dengan keadaan mulut yang penuh Bian sempat nengucapkan kata-kata pujian terhadap menu yang ada dihadapannya.


Dirasa sudah kenyang ia pun langsung berdiri dan kembali bekerja untuk menuntaskan urusannya. Kalau tidak pasti asisten sialannya itu akan menjadi mulut panci, karena tidak bisa berhenti untuk tidak uring-uringan, perihal dirinya yang pergi tanpa pamit meninggalkan tumpukan laporan di atas meja.


Tidak berapa lama kemudian Bian sudah berada dimana dirinya mencari pundi-pundi rupiah. Benar saja saat dirinya masuk ke ruangannya, dirinya sudah dihadapkan oleh pria yang selama ini ikut membantunya dalam mengelola pabrik, hasil usahanya sendiri.


"Darimana kau ini, seperti anak kecil saja tiba-tiba menghilang di jam istirahat." Delon mencabik kesal karena Bian pergi tanpa pamit.


"Kau ini sudah seperti anak prawan yang habis di sosor bebek, orang baru datang sudah marah-marah tidak jelas." Jawab Bian sembari meletakkan jas yang dikenakannya itu.


"Apa seperti ini gayanya," ujar Delon dengan menirukan gaya perempuan.


"Dasar menjijikkan," tukas Bian dengan badan yang bergidik karena menurutnya bukan seperti perempuan tetapi, lebih tepatnya mirip banci kaleng yang ada di jalan.


"Ini adalah tips menggoda para lelaki bodoh."


"Yang ada orang itu akan kabur duluan sebelum kau goda," kata Bian dengan wajah mengejek.


"Ngomong-ngomong kau darimana?" tanya Delon penuh selidik.


"Pulang karena lapar." Jawabnya.


"Tumben, apa tante Mira berada di rumahmu?"


"Tidak, yang pasti mulut mercon yang memasak."


"Mulut mercon?" Delon mengerutkan keningnya rupanya Bian tidak sadar saat bibirnya mengatakan hal itu padanya.


"Siapa yang kau bilang mulut mercon?" dengan posisi penasaran Delon terus memaksa Bian agar mengatakannya.


"Telingamu saja yang bermasalah. Kapan saya bilang begitu," elak Bian yang memang belum mengetahui perihal pernikahannya dengan Tasya waktu itu.


"Kurasa tidak, karena kau benar-benar mengatakannya." Delon yakin kalau pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Jadi, dia tak salah dengar.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kubicarakan?" tanya Bian pura-pura lupa dengan kata-kata yang sempat diucapkannya.


"Kau tadi menyebut 'Mulut mercon' dan aku yakin akan hal itu," ujarnya penuh keyakinan.


"Nah kan telingamu sepertinya harus di bawa ke dokter THT, karena tadi yang kukatakan adalah oseng mercon bukan mulut mercon." Jawab Bian panjang lebar dan meralat ulang kata-katanya.


"Jadi diriku yang salah dengar, karena kau mengatakan itu."


"Tentu," balas Bian.


Ck … Ck.


"Bi, bagaimana apa kamu sudah memenuhi syarat dari tante Amira untuk mencari istri?" tanya Delon karena dirinya hampir satu bulan tidak bertemu dengan Bian, karena ia pulang kampung jadi tentu tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.


"Sebenarnya saya sudah menikah. Mama juga sudah tahu istri yang kunikahi seperti apa, lagian kita menikah karena terpaksa setelah semua aset sudah di alihkan namaku, maka kita akan bercerai." Jawaban Bian sontak membuat Delon langsung kaget dan mulut yang menganga. Sungguh ia tak tahu jika temannya itu kini sudah beristri namun ia malah tidak mengetahuinya.


"Kenapa sampai tidak tahu kalau kau sudah menikah?"


"Pernikahan sengaja di rahasiakan dan itu disetujui oleh kedua belah pihak," kata Bian membeberkan kenapa tak ada pesta dan lain sebagainya.


"Apa dia cantik?"


Bian tidak langsung menjawab, ia justru malah membayangkan dirinya bulan madu di atas awan biru, dan tiada yang menganggu.


Seketika senyuman Bian memudar saat dirinya mendengar kata-kata yang menyakitkan dari mulut Delon.


"Cih, kenapa bisa tahu kalau sedang membayangkan yang tak mungkin menjadi mungkin." Batin Bian, ia diam dan belum memberikan respon pada Delon, karena kini dirinya masih asik berbicara sendiri dalam hati.


Bian menatap tidak suka karena seperti dukun yang mengetahui isi hatinya. Delon selalu saja begitu hingga membuat Bian merasa jika dirinya mempunyai ilmu.


"Karena itu terlihat dari guratan kasar yang ada di wajahmu bodoh," kata Delon dengan diiringi sebuah gelengan.


"Ketimbang kau terus mengoceh, lebih baik buat sana kopi. Biniku tadi pagi hanya membuatkan ku teh saja," ujar Bian yang memilih menyudahi obrolan tersebut.


"Baiklah karena mataku juga butuh si hitam maka dengan senang hati kakiku ini akan berjalan ke pantry."


"Cih, banyak drama buruan jangan banyak bicara." Dengan nada sedikit meninggi Bian berkata, entak sebuah anugerah atau memang dirinya sedang apes. Bisa-bisanya mempunyai teman tidak punya akhlak sama sekali.


Delon sudah keluar dan meminta OB, untuk membuatkan dirinya dan juga Bian kopi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dua cangkir kopi sudah mendarat di meja, karena Delon lebih memilih untuk menunggu dan langsung membawanya ke ruangan.


"Nih kopi kamu."


Bian tidak menjawab karena dirinya masih serius dengan tumpukan berkas yang berada di atas meja. Membaca satu persatu setelah itu memberi tanda tangan, hingga tumpukan itu kini tinggal separuh.


Cukup lelah namun itulah pekerjaannya yang dilakoninya dalam satu tahun kebelakang.


...----------------...


Pukul tiga sore Tasya baru saja bangun. Cukup lama dirinya tertidur hingga ia melupakan Bian yang katanya pulang.


"Astaga, kok aku bisa bablas seperti ini ya." Tasya menepuk jidatnya karena ia benar-benar melupakan jika Bian akan pulang.


Dengan buru-buru Tasya bangun dan melihat meja makan hanya untuk memastikan saja.


"Ternyata dia pulang beneran, dan makanan ini. Apa hanya dirinya saja yang menghabiskan? Apa perutnya amat lapar juga sampai bersih tidak tersisa," ucap Tasya saat melihat menu yang ia buat bersih tanpa ada sisa sedikitpun.


Perut Tasya lapar namun di atas meja hanya ada sisa sup saja. Dengan terpaksa Tasya pun akhirnya memasak mie, karena tubuhnya sudah lelah jika harus memasak lagi.


"Hemm … Pasti enak soto dengan isian mie terus diplating dikasih telur cabe dan sawi, yummy." Tasya tidak sabar untuk segera memakan soto yang berisi mie di dalam bungkus tersebut.


Beberapa menit kemudian. Apa yang baru saja di masak sudah selesai dan sekarang tinggal menyantapnya.


"Makan ini dengan kuah yang masih mengepul dan minum kopi, berasa hidup di dalam surga." Dengan penuh khayalan ia berkata, lalu matanya berbinar-binar karena garpunya sudah tidak sabar untuk segera melayang dan masuk ke dalam mulutnya.


Tepat baru beberapa suapan terdengar suara pintu di buka.


Benar saja saat Tasya sengaja melirik ternyata suaminya yang datang.


"Roman-romanya ada yang makan mie nih," ucap Bian saat menghampiri Tasya yang berada di ruang tengah.


"Siapa yang makan," kata Tasya.


"Itu apaan kalau bukan mie," ujar Bian.


Mana? Kamu saja yang salah lihat," ucap Tasya yang masih bersihkerasa dan menyangkal kalau itu bukan mie.


"Apa kamu kira mataku sudah rabun," serang balik Bian karena nyata-nyata ia melihat kalau yang di mangkuk adalah mie.

__ADS_1


"Memang matamu yang rabun, nih baca." Lalu Tasya memberikan bungkus berwarna hijau pada Bian.


"Soto mie?"


__ADS_2