
"Bagaimana bisa?"
"Kamu ini maunya apa sih, bertanya terus dijawab. Udah gitu masih tidak terima dengan jawaban yang kamu buat sendiri!" lama-lama Sonia geram dengan Tasya karena menurutnya itu sangatlah mengesalkan.
"Ah, aku juga tidak mengerti mengapa bisa jadi seperti ini. Padahal awalnya cuma cari pelarian eh gak taunya malah terjebak cinta yang rumit," ucap Tasya lalu meletakkan satu tangannya di dagu.
Sonia menatap malas ke arah Tasya, mengapa juga harus mempunyai teman seperti dia. Kalau harus menjadi orang yang terbodoh.
"Aku harap kamu tetap menjaga kewarasan karena aku lelah mendengarkan celoteh mu, yang membuat kepalaku semakin berdenyut." Entah hari ini Sonia benar-benar pusing dibuat oleh Tasya hanya karena soal 'Suami'.
"Son, bagaimana kalau aku bercerai tepat diwaktu yang sudah di tentukan." Tasya menatap lekat ke arah Sonia, berharap ada solusi untuk sekarang. Enam bulan bukanlah waktu yang lama karena hanya membutuhkan beberapa bulan lagi kontrak berakhir, dan disaat itulah kemewahan pangkat bos sudah tak berarti.
"Jika Abian adalah seseorang yang bertanggung jawab maka jangan lepaskan dia. Kamu pun belum tentu mendapatkan lelaki sepertinya karena di dunia ini 1001 orang, yang mempunyai sikap seperti itu." Mendengar kata demi kata dari mulut Sonia, Tasya pun diam dan pandangannya semakin serius pada sosok yang berada di depannya saat ini.
"Jadi, aku harus tetap bertahan?"
"Iya, selama tidak ada yang dirugikan tetap pertahankan hubungan kalian." Jawab Sonia dengan sangat serius.
"Baiklah terimakasih untuk waktunya, karena kamu sudah bersedia mendengarkan ceritaku."
"Tentu, meski aku sedikit bosan harusnya tetap menghargai bukan. Kita sudah berteman lama jadi harusnya seperti itu," kata Sonia dengan senyuman yang terukir di sudut bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu aku ingin turun," imbuh Sonia lagi pada Tasya.
"Iya, kita turun barengan karena aku juga akan melihat keadaan di bawah." Tasya pun ikut turun juga untuk melihat keadaan di bawah.
__ADS_1
Setelah berada di bawah, Tasya langsung ke dapur untuk ikut membantu menghias kue tart.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di mana Abian sekarang berada.
"Mama! Kapan mama datang kok sudah ada di sini?" tanya Bian pada ibu Amira.
"Lumayan, tumben kamu jam segini baru datang?" tanya balik bu Amira pada putranya.
"Tadi ngantar Tasya dulu Ma, makanya sedikit telat." Jawab Bian, lalu ia pun ikut duduk di samping sang mama yang tengah duduk di sofa panjang.
"Pantas, apa belum ada tanda-tanda jika Tasya hamil?"
"Pertanyaan macam apa ini, sungguh menyebalkan. Lantas mau bunting bagaimana malam panas saja belum terlaksana," ucap Bian dalam hati yang tak tahu harus beralaskan seperi apa lagi.
"Mungkin saja Tuhan masih belum mempercayakan anak sama kita, nanti kalau sudah waktunya pasti diberi momongan." Bian mencoba mengelak dan beralaskan seperti itu. Berharap kalau sang mama mau mengerti akan keadaannya untuk saat ini, walau itu harus berbohong demi keselamatannya.
Saat ini Abian bimbang, tidak tau harus berbuat apa. Sekarang posisinya sungguh terjepit karena permintaan sang mama, apa orang pikir membuat bayi segampang mencetak kue? Itu sungguh mustahil. Semua butuh proses bukan dan tidak gampang seperti yang diharapkan.
"Bian tahu Ma, tapi semuanya kembali pada Tuhan. Mungkin kita masih di suruh menata hidup dulu, Mama tahu usia pernikahanku dengan Tasya sudah jalan berapa bulan! Masih dua bulan Ma, dan belum ada satu tahun dan Bian harap Mama sabar." Bian tidak tau harus mengatakan apalagi, namun paling tidak ia sudah berusaha untuk membela diri.
"Mama pasti akan sabar, tapi semuanya juga butuh usaha." Bu Amira tak kalah sengit saat menjawab ucapan putranya.
"Itu pasti, Doakan kami. Hanya itu yang saat ini kita butuhkan dari orang tua."
"Doa terbaik untuk kalian, ya sudah kalau begitu Mama mau pergi karena masih ada urusan. Tadi Mama cuma mampir sebentar," ucap bu Amira yang tak lagi membahas soal kehamilan.
__ADS_1
Setelah kepergian bu Amira, Bian menghempaskan bokongnya sedikit kasar. Dalam pikirannya mengapa juga mamanya datang kalau hanya untuk merusak mood nya.
"Kenapa begini sih jadinya," umpat Bian yang saat ini tidak berselera dalam bekerja. Pada saat Bian mengacak-acak rambutnya secara kasar, tiba-tiba pintu terbuka.
Ceklek.
"Bi, ada klien yang bertemu denganmu. Ups maaf," ucap Delon saat melihat muka Bian amburadul.
"Kenapa muka kamu? Sudah mirip kanebo kering saja," ejek Delon karena memang wajah Bian saat ini sedang tak enak dipandang.
"Ck ... Ck ... Kau ini suka sekali membuat kesal orang saja," tukas Bian lalu ia bedecak karena kesal.
"Lagian itu muka kayak orang yang habis kikuk-kikuk. Asem, gak enak dilihat." Delon terus saja menggoda Bian, dan itu membuat semakin kesal.
"Mama tadi datang."
"Sudah tau," sahut Delon dengan cepat.
"Bukan masalah soal kedatangannya yang membuatku pusing," ungkap Bian pada Delon karena untuk menahan di dalam hati rasanya Bian tidak sanggup. Maka dari itu ia memilih untuk mengatakan pada Delon, perihal permintaan mamanya yang dianggap nyeleneh.
"Lantas, tante Amira membahas masalah denganmu?" tanya Delon dengan penuh rasa ingin tahu.
"Soal pernikahanku," jawab Bian.
“Maksudnya?"
__ADS_1
"Ini soal ... Soal itu,"