
Sumpah ya, lama-lama mulut kamu itu seperti petasan renteng. Udah gitu pedes kek cabe," keluh Sonia pada Tasya karena menurutnya temannya itu keliwat sadis kalau berbicara.
Pletak.
"Auh, sakit bego." Sonia mengusap keningnya karena sehabis mendapat landasan jemari dari seorang Tasya.
"Bodoh amat." Tasya langsung melenggang pergi meninggalkan Sonia yang masih mendumal karena kesal.
"Aish, menyebalkan." Sonia pun langsung masuk karena Tasya juga sudah tidak terlihat dan terlihat sangat buru-buru.
Sedangkan di lantai atas. Abian dilema karena tidak bisa mengatakan keinginannya yang ingin mengajak Tasya ke pantai, dan bisa-bisanya justru berkata di luar dugaan. Seperti merasakan kekakuan dalam bibirnya hingga tak mampu berkata-kata. Entah dirinya lelaki seperti apa? Abian juga merasa jika dirinya adalah seorang yang pengecut karena memang seperti itu kenyataannya.
Lama ia mengumpulkan keberanian hingga lelah dalam berpikir, sampai-sampai ia tertidur di sofa.
Tasya pun yang baru datang lekas membuka pintu dengan membawa dua bungkus nasi padang. Entah dirinya benar atau salah saat memilih nasi itu, karena memang tidak tahu selera Abian.
Ceklek.
Krieeet.
"Lha, ini bagaimana? Minta makan tapi ngorok." Dalam hati Tasya mendengus kesal karena sudah lelah untuk membeli nasi, malah yang minta dibelikan tidur..
"Dasar pria aneh," gumamnya sembari meletakkan bungkusan itu di meja. Agar nanti kalau suaminya bangun bisa segera makan.
Untuk sesaat Tasya memandangi wajah tampan milik Abian, dan satu kata 'Tampan' itulah yang ada dibenak Tasya. Yah, memang Abian masih sangat tampan, kulit putih, hidung mancung, bulu mata bak milik wanita hitam dan lentik. Serta bibir yang sangat menggoda.
"Eh, kenapa ini otak tiba-tiba mesum sih," batin Tasya saat teringat tempo hari dimana mereka berdua sempat saling bertukar slavia.
Tasya memegang bibirnya dan benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan anggota tubuhnya, seperti meminta lebih namun semua itu buru-buru ditepisnya karena tidak mau makin membuatnya bertambah gila.
"Aish, ini apaan sih. Makin ngawur saya," ucap Tasya berkata lirih sambil menepuk-nepuk keningnya agar tersadar dari pikiran yang tidak sepantasnya.
__ADS_1
"Hemmm … Entah kenapa aku kok jadi rindu sama bude ya, apa sore ini enaknya aku ke sana saja." Tasya pun akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah Rumi, sepertinya sudah lama ia tidak main ke sana. Meski dirinya tidak telat mengirimkan uang untuk pengobatan pakde nya. Namun, bukan berarti Tasya layaknya kacang yang lupa pada kulitnya.
"Nunggu lelaki itu bangun kali ya, terus minta izin buat ke rumah bude," ucapnya lirih seraya matanya menatap ke arah bungkusan tersebut, karena tiba-tiba saja perutnya menjadi lapar dan cacing-cacing di dalam sudah berdisko ria dan berdendang meminta haknya.
Sebetulnya Abian sudah terbangun dari tadi, hanya saja ia sengaja berpura-pura masih tidur untuk melihat aksi sang istri. Kira-kira apa saja yang dilakukan di dalam ruangan selama ini. Sesungguhnya dalam dalam hati Abian tertawa terbahak, karena melihat tingkah konyol Tasya yang sedikit membuatnya sangat terhibur dikala hatinya sedang galau.
Eumm.
Aghhh.
"Enaknya." Abian pura-pura menggeliat layaknya orang yang habis bangun tidur, agar wanita yang tak jauh dari tempatnya tidak curiga. Kalau sebelumnya ia memang sudah bangun.
"Kamu sudah bangun?" tanya Tasya dengan wajah datar.
"Menurut kamu?" serang balik Abian.
"Apa dia pikir aku ini malaikat?" batin Abian mendengus kesal, bisa-bisanya bertanya dengan pertanyaan yang tak masuk akal.
"Tidak jadi, ini makanlah. Bukannya kamu tadi bilang kalau sedang lapar," ujar Rasya sembari matanya menunjuk ke arah bungkusan yang ada di atas meja tersebut.
"Tadi aku membelikanmu nasi padang, apa kamu suka?" tanya balik Tasya.
"Tentu saya, baiklah sekarang temani saya makan. Tentu kamu lapar juga kan?" Abian tahu jika Tasya sedang lapar, karena tadi terdengar suara lantunan nada dari perutnya yang sedang mengeluarkan suara.
"Kamu makanlah dulu," kata Tasya yang menyuruh Abian untuk lebih dulu makan.
"Sini." Abian tidak menggubris dan lebih menyuruh Tasya untuk duduk disampingnya, dan ia juga memberikan isyarat tepukan pada sofa agar Tasya segera duduk.
Dengan rasa malas akhirnya Tasya pun duduk di sebelahnya, dan mulai membuka bungkusan tersebut.
"Oh ya, aku ingin mengatakan sesuatu." Tasya menoleh lalu berkata pada Abian yang saat ini tengah mulai menyendok kan nasi, namun di urungkan nya dan meletakkan lagi sendok itu di atas piring.
__ADS_1
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, apa ini soal bulanan kamu? Ah maaf aku lupa dan segera mentransfer uangnya."
"Ish, apaan sih kamu. Bukan itu yang ingin aku katakan, lagipula uang kamu masih banyak di penyimpanan uang." Tasya mendengus kesal karena bukan itu yang ingin dikatakan.
Abian yang melihat tingkah lucu tersenyum simpul, karena Tasya terus memonyongkan bibirnya.
"Apa kamu ingin membuat bibir kamu menjadi dua meter," ujar Abian lalu berpura-pura tidak melihat.
"Kenapa selalu menyebalkan," sungut Tasya yang tengah merajuk.
"Apa kamu sedang datang bulan? Makanya sekarang lebih banyak sensinya dibanding dengan baiknya?" ujar Abian yang mulai berani bertanya tentang masalah kewanitaan, pasalnya sedari pagi Tasya lebih banyak marahnya ketimbang diamnya.
"Seperti nanti," kata Tasya.
"Sekarang makanlah dulu, setelah ini katakan apa yang ingin kamu sampaikan." Lebih baik makan dulu bukan daripada harus menunda, karena Bian yakin jika Tasya sudah berbicara maka dari ujung sampai akhir tidak akan kelar. Tasya ada tipe wanita jika berbicara akan terus mungkin kalau ditulis, yang ada buku catatan sampai habis pun. Tidak akan selesai, itulah sosok 'Tasya' bagi Abian.
Tasya tidak protes lagi dan langsung memakan apa yang dibelinya tadi. Entah setan apa yang merasuki Abian, hingga tiba-tiba dengan berani mengambil nasi yang ada di bawa bibir Tasya.
"Maaf." Hanya itu yang dikatakan pada Tasya, sedikit gemetar namun terpaksa memberanikan diri.
"Ada apa?" tanya Tasya saat Bian mengambil sesuatu yang ada di bibirnya.
"Tidak ada yang meminta nasi kamu, kenapa harus di sisain di sini." Seketika Tasya melotot bisa-bisanya Bian berkata seperti itu. Membuat nafsu makannya jadi berkurang saja.
"Kamu mau mengambil atau memang ingin mengejek," sergah Tasya dengan raut wajah yang tengah menahan kesal.
"Tadinya cuma mau mengambil, tapi kalau dipikir-pikir kamu sengaja nyisahin itu nasi...."
"Auh, sakit ... Berhenti, berhenti. Sakit Syah!" Tasya tidak peduli dan terus mencubit paha Abian dengan sangat keras.
"Karena ini memang pantas."
__ADS_1
"Ampuuuuun!"
Arghh.