
Dasar, orang keadaan darurat pun masih memikirkan uang cih … Sungguh menyebalkan," umpat Abian saat sedang membangunkan Tasya.
“Woi, bangun buruan!” dengan menggunakan alat pengeras suara itulah Bian membangunkan Tasya, hingga ia terjatuh dari atas tempat tidur.
“Apa kamu sengaja membuat celaka diriku!” seru Tasya dengan mengusap bokongnya yang cukup sakit akibat terjatuh.
“Itu bukan salahku, karena kamu aku harus bersusah payah membangunkan kamu. Harusnya kamu itu berterima kasih kepadaku bukannya marah,” ujar Bian yang menanggapi kemarahan Tasya dengan keadaan tenang.
“Apa menurut kamu ini lucu, dan aku harus mengatakan ‘Terimakasih’. Oh tidak, itu sangat tidak adil.” Tasya mencabik kesal karena ulah pria gila itu hingga membuat seluruh tubuhnya remuk.
“Sudahlah jangan berbelit dan saya harap kamu tidak akan lupa untuk hari ini,” ucap Bian dengan posisi duduk lalu menyilang kan satu kakinya.
“Allahuakbar.” Tasya langsung mengutuk dirinya karena ia melupakan upacara yang membuatnya ketiban sial, yah hari ini dimana mereka akan melangsungkan pernikahan di KUA, karena tidak ingin membuat acara mewah. cukup sederhana bukan, bukan pelit hanya saja ini adalah pernikahan rahasia.
“Sekarang cepat bangun dan segera bersiap,” perintah Abian.
“Woi, aku kaga budek jadi buang barang itu.” Tasya kesal karena alat itu lagi-lagi membuat gendang telinganya sedikit bermasalah.
Tidak membutuhkan waktu lama. Tasya pun sudah bersiap dengan pakaian yang hampir setengah jam untuk memilihnya.
“Apa kau ingin lari pagi?” tanya Bian dengan wajah yang teramat kesal.
“Memangnya ada masalah dengan baju yang ku gunakan?” Tasya pun balik bertanya.
“Kita akan ke KUA, bukan ingin lari pagi apa kau mengerti!” dengan tangan yang mengepal Bian berkata.
“Memang siapa yang akan lari pagi,” tukas Tasya.
“Lantas ini apa, oh lihat apa yang kamu pakai ini.” Dengan rasa frustasi Bian menunjuk apa yang tengah melekat di tubuh Tasya dengan rasa tidak percaya.
“Ah sudahlah. sekarang cepat dan cara jalan kamu seperti siput saja,” dengus Bian.
Abian hanya tinggal menunggu bude Rumi dan pak Harun. Dikarenakan Tasya sudah tidak diakui oleh keluarganya maka dari itu, ia hanya butuh wakil untuk menjadi walinya.
Bian yang melihat bu Rumi dan Pak Harun berjalan, ia pun langsung memintanya agar segera naik ke dalam mobil.
“Siap semua?” tanya Bian pada semua orang yang berada di dalam mobil.
“Kami sudah siap, Nak.” Jawab pak Harun.
Waktu menunjukkan pukul sembilan siang. Mobil yang yang dikendarai oleh Bian pun berhenti di depan salon ternama yang cukup terkenal.
“Turun!” Bian pun mengajak Tasya untuk turun dari mobil.
“Kenapa aku di turunkan di sini?” tanya Tasya heran.
“Mereka ingin mengubah mu menjadi power rangers,” ucap Bian tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Memangnya aku ingin perang apa!” sungut Tasya dengan mata yang membulat.
“Iya, karena kita nanti malam mau perang di atas kasur, itu mengapa saya ingin mengubah mu menjadi power rangers pink.”
Uhuk … Uhuk.
Seketika Tasya tersedak akan ucapan Bian yang membuatnya ngeri.
“Maka telan ludah kamu dengan pelan, tersedak kan.” Dengan wajah bodohnya Bian berucap.
“Sumpah ya, lama-lama bisa gila ini otak.” Dalam hati Tasya mengumpat, karena ternyata lelaki yang ada di sampingnya somplak, dia juga bisa membuat orang gila.
Di dalam salon.
Seseorang sudah siap menyambut para pelanggan, dengan ramah ia pun berkata.
“Silahkan masuk, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya karyawati tersebut.
"Tolong ubah dia menjadi power rengers, karena saya muak liat mukanya." Dengan tampang arogannya ia pun mengatakan demikian pada karyawati tersebut.
Lantas Karwati itu langsung mengangguk dan mempersilahkan untuk duduk sambil menunggu wanitanya diubah.
"Baik, silahkan duduk dan nikmati waktu anda sampai saya selesai membawa wanita anda." Dengan sopan perempuan itu menjawab.
Tanpa pamit atau permisi. Bian pun langsung melenggang pergi dan langkahnya terhenti pada jejeran kursi, ada di ruang tunggu.
Bu Rumi dan suaminya tetap berada di mobil. Sedangkan Tasya dan Bian masuk kedalam salon untuk mengubah penampilan Tasya yang semula seperti orang yang sedang berolahraga.
"Mbak, memangnya bisa wajah saya berubah menjadi pahlawan dengan berkostum warna pink?" tanya Tasya yang tak mengerti dengan bahasa planet yang diucapkan oleh pria gila tersebut.
"Tentu dong." Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, perempuan yang akan mengubah Tasya entah akan dijadikan apa lantas menjawab.
Satu jam telah berakhir. Kini, penampilan Tasya benar-benar apa yang diinginkan oleh Bian.
"Bos, bagaimana menurut anda?" Perempuan yang sukses mengubah Tasya itu pun lantas meminta pendapat pada Bian.
"Cantik."
"Apa!"
"Kau tak berubah dan sama saja," ucap Bian buru-buru mengulang ucapannya dengan kalimat berbeda.
Sedangkan Tasya merasa bahwa Bian sedang memujinya 'Cantik' tapi ternyata, itu hanya pendengarannya saja yang salah.
"Tidak buruk,karen saya sedang buru-buru maka untuk hari ini cukup." Dengan wajah datar tanpa ekspresi Bian langsung menggandeng Tasya.
"Ini, sekalian tips untuk kamu." Bian langsung memberikan lembaran uang pada perias tadi.
__ADS_1
"Terimakasih."
Mereka pun lalu meninggalkan tempat ajaib itu, bagaimana tidak. Sejelek apapun maka jika sudah berada di tempat yang dipenuhi oleh makeup, semua akan berubah cantik.
"Calon suami, apa aku sudah cantik." Tasya sengaja menggoda Bian dengan bibir yang di buat seperti ayam yang sedang bertelur hingga membentuk huruf O, Bian langsung bergidik ngeri dan bukannya terpesona.
"Bisakah bibirmu itu kembali normal. Saya jijik lihatnya," ucap Bian dengan wajah jijiknya.
"Memangnya kenapa? Lihat lipstik ku, cantik kan." Tasya pun semakin menggoda Bian.
"Hiii lepas. Kau tahu sedang mirip siapa jika bibirmu seperti itu," ujar Bian.
"Mirip apa?" kini Tasya mulai terpancing dan penasaran.
"Mirip ayam yang lagi eek." Jawab Bian, dan seketika Tasya pun menormalkan bibirnya.
Mendapat olokan dari Bian, membuat Tasya kesal.
Akhirnya mereka berdua sampai di mobil, dan penampilan Tasya. Tak lepas dari pandangan bu Rumi dan pak Harun.
"Wah … Anak Ibu cantik ya Pak, lihatlah Tasya mirip yang di film-film itu lho." Pujian yang diberikan oleh budenya, membuat Tasya bak di awang-awang.
"Iya Bu cantik, memangnya mirip siapa?" tanya pak harun pada sang istri, karena ia juga penasaran.
"Mirip Dewi Palasik Pak, betulkan Nak Bian?" Seketika semua yang ada di mobil tertawa terbahak-bahak karena Tasya mirip dengan Dewi Palasik.
"Bude, kenapa Dewi Palasik sih. Yang betul itu Dewi persik Bude!" Tasya berteriak protes karena bu Rumi sudah salah sebut.
"Mana kamu mirip Dewi persik, yang betul itu kamu persis sama Dewi Palasik." Bu Rumi masih membahas soal nama dan itu membuat Abian tertawa dalam hati.
"Huaaa … Palasik itu demit, sedangkan aku manusia."
"Nyatanya kamu memang persis Palasik." Bian ikut menyahut karena mulutnya sudah gatal untuk ikut serta menghujatnya.
"Dasar menyebalkan semua. Orang cantik kaya Ayu tong-tong malah dikatain kek Palasik," ucap Tasya dengan nada merajuk.
"Setahuku namanya Ayu ting-ting, sejak kapan dia ganti nama? Apa memang saya yang cupu hingga tidak tahu." Bian pun berkata sembari tangan menggaruk kepalanya yang ia rasa tidak gatal.
"Sejak sekarang," sahut Tasya.
"Mana ada." Jawab Bian.
"Bodoh dengan semua itu," ketus Tasya yang tak ingin menanggapi percakapan yang unfaidah itu lagi.
Jam sebelas siang. mereka sudah berada di depan KUA, bagi Tasya semua ini bak mimpi karena dengan tiba-tiba dirinya akan menjadi seorang istri. Sebentar lagi, ia resmi dengan status barunya.
Karena kekecewaan pada sang kekasih yang tega berkhianat, hingga membuat Tasya putus asa. Entah hantu berjenis apa hingga merasukinya lalu menerima sebuah tawaran yang tak masuk akal.
__ADS_1
Menyesal itu pasti, namun bagi Tasya untuk membatalkan itu tidak mungkin karena sudah ada bukti hitam di atas putih. Bila berani membatalkan pernikahan maka Tasya wajib membayar denda sebanyak 20 juta, sedang dirinya tak punya uang dengan nominal angka tersebut, dan yang kedua percakapannya sudah direkam juga oleh Abian.
Kini, Tasya hanya bisa menyesali semua dan merutuki jalan yang sudah diambilnya. Entah setelah ini kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya bersama suami tanpa cinta.