Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
7. AWAL PERTEMUAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Tasya langsung membuka pintu dan masuk tanpa memperdulikan seseorang yang selalu menunggunya, di ruang tamu.


Saat dirinya sudah beberapa langkah kemudian. Tasya berbalik badan guna melihat bude nya yang tengah terbaring, dengan begitu sangat pulas.


Tasya yang melihat sang bude langsung menggelengkan kepala karena bu Rumi. Tertidur dengan cara terlentang dan mulut yang menganga.


"Apa tidak takut di masukin kodok. Kalau tidur dengan cara seperti itu?" Setiap tidur selalu saya seperti itu. Padahal dulu pernah di pipinya ada kecoak. Saking takutnya Tasya, akhirnya ia mengambil buku dan di tabok nya. Si hewan bukannya mati yang ada bu Rumi marah dan menjewer Tasya karena merasa di kerjai.


Setelah mengatakan kalau ada kecoa. Dan hewan itu masih ada, barulah bu Rumi percaya dan melepaskan jemarinya yang terus menarik kuping Tasya.


Sakit tentu dong. Memangnya di jewer itu rasanya enak! Mana ada hehehe.


"Hem ... Sepertinya aku harus menutupnya agar tidak ada hewan yang masuk ke dalam gua tersebut," gumam Tasya. Lalu dirinya secara perlahan mendekati tubuh bude Rumi. Dan menaikkan kedua tangannya untuk di letakkan di mulutnya.


Setelah itu ia mencoba untuk membangunkan siapa tahu bude nya mau bangun, saat Tasya menepuk kakinya.


"Bude bangun!" teriaknya sambil menepuk kalinya.


Namun, untuk sesaat bude nya belum juga bangun.


Huf..


Tasya menghela nafas karena belum juga bangun. Dan sekali lagi Tasya membangunkannya.


"Bude ... Bangun!"


Bugh.


"Aish sial. Sakit kan pantatku," gerutu Tasya saat dirinya hendak berdiri namun merasakan ngilu pada pantatnya, yang habis terkena tendangan maut bude Rumi.


"Tau ah. Bodoh amat! Capek bangunin bukannya bangun malah di depak," dumal Tasya sembari mengayunkan langkahnya. Untuk meninggalkan bu Rumi yang masih tertidur.

__ADS_1


Dan akhirnya Tasya pun berjalan ke arah kamar untuk meninggalkan ruang tamu. Dan kembali beristirahat karena besok ia harus bekerja lagi.


...****************...


Tak terasa hari-hari sudah di lewati tanpa adanya sosok pujaan hati. Aldo berjanji tidak akan lama berada di luar kota. Nyatanya ini sudah jalan bulan ke-2 namun belum juga kembali. Sedangkan Tasya merasa ada yang berbeda karena selma ini Aldo, sudah jarang menghubunginya. Namu. Tasya juga harus bisa berpikir positif akan semuanya. Dan juga berdoa kalau semuanya akan baik-baik saja.


Hari ini adalah hari minggu. Tasya sengaja meminta izin untuk libur karena ia juga butuh hiburan. Meski dirinya masi membutuhkan uang.


Tasya berjalan menyusuri taman. Hanya uuntuk sekedar menghilangkan penat yang dirasakannya.


Terlihat ada kaleng bekas minuman bersoda, dengan senyuman yang terukir di sudut bibirnya. Tasya menendang-nendang kaleng tersebut.


Pakh.


"Oh **!*." Seseorang tengah mengumpat karena jidatnya terkena lemparan kaleng bekas minuman bersoda. Netra nya celingukan gun mencari pelaku dari semua itu. Sedangkan Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Karena tida menyangka bahwa tendangannya mengenai seseorang.


"Oh. kamu ternyata pelakunya! Lihat jidat saya berdarah, kalau saya gagar otak memangnya kamu mau tanggung jawab apa!" seru lelaki yang tengah memarahi Tasya.


"Ya elah Dik, memangnya bisa mengakibatkan gagar otak." Tasya malah bersikap seolah-olah sedang tidak melakukan kesalahan, apapun yang sudah di perbuat olehnya.


"Enak saja panggil Adik. Memangnya saya Adik kamu! Lantas say juga tidak merasa menikah dengan Mbak kamu ya," tukas lelaki itu yang nampaknya benar-benar marah pada Tasya.


"Memangnya mau di panggil abang, sepertinya tidak mungkin. Atau kamu di panggil Mas, apalagi itu! Sungguh tidak pantas." Tasya tersenyum simpul meremehkan lelaki itu. Karena menurutnya ia memang pantas di panggil adik.


"Kamu sungguh tidak sopan ya," ucap lelaki itu dengan tangan masih memegang kaleng tersebut.


"Tidak sopan yang bagaimana? Kamu yang seharusnya sopan denganku bocah!" kata tasya dengan nada yang sedikit kesal juga.


"Dasar cewek gila! Sifa saja yang anak kecil tidak mau di panggil bocah. Apalagi aku," ucap lelaki itu dengan wajah menyeramkan seperti hendak menelan mangsanya.


"Apa kau bilang! Kamu saja yang berlebihan. Memang wajahmu itu pantas di panggil Adik. Lah bukannya terima malah marah-marah," keluh Tasya pada lelaki tersebut.

__ADS_1


Tasya berpikir. Bukannya libur mendapatkan ketenangan yang ada malah darah tinggi, yang di buat oleh lelaki yang ada di depannya saat ini.


Hanya panggilan adik. Mereka berantem dan pria yang di perkiraan usia 17tahun. Itu, tidak terima karena menurutnya sifa saja yang anak kecil tidak mau di panggil seperti itu. Lantas mau orang itu seperi apa? Sungguh membingungkan.


"Oh ya. Awas saja kalau bertemu lagi! Aku akan membuat perhitungan denganmu," ancam lelaki itu pada Tasya.


Sedangkan yang di ancam hanya tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya. Dengan tawa yang penuh ejekan Tasya berkata.


"Aku tidak takut, jika sekarang bisa kenapa harus menunggu nanti." Tasya pun dengan berani menantang laki-laki itu.


"Harusnya seperti itu. Akan tetapi, saya masih ada urusan yang jauh lebih penting, daripada mengurusi wanita gila seperti kamu!" seru lelaki itu sembari langkahnya meninggalkan Tasya yang masih diam di tempat.


"Dasar. Bocah juga sudah songong," umpat Tasya karena lelaki itu tiba-tiba langsung meninggalkannya. Dengan perasaan kesal.


Setelah di rasa sudah cukup untuk mencari udara segar. Tasya pun memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah semakin siang.


Dalam bayangannya saat dirinya sampai di rumah. Ingin rasanya ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dan pergi ke alam mimpi, siapa tahu ia bertemu dengan pangeran tampan.


Tasya terus berjalan karena jarak antara rumah dan taman tidaklah terjauh. Mungkin sekitar setengah jam ia akan sampai di rumah.


Sesampainya di rumah. Tasya melihat bude Rumi baru juga masuk dari rumah.


"Dari mana bude Rumi? Kok tumben dandanannya sedikit berbeda?" Tasya pun bertanya-tanya akan ke mana bude nya keluar. Dan tidak terlihat jika pakde nya ikut serta juga.


Tasya pun buru-buru masuk untuk bertanya. Karena rasa penasarannya cukup besar.


"Bude, darimana?" tanya Tasya saat hendak masuk namun melihat bude Rumi tengah terduduk di sofa panjang.


"Dari rumah yang ada di ujung sana, Syah." Jawab bude Rumi.


Sedetik Tasya pun berpikir. Bukan kah rumah yang ada di ujung jalan itu milik saudagar kaya, lalu untuk apa bude nya datang ke rumah itu? Apa di suruh bantu-bantu, tapi ... Bukan kah rumah itu jarang di huni.

__ADS_1


"Bude jalan kaki?" tanya Tasya lagi.


"Tidak, tadi bareng bu Ningsih bawa motor." Jawab bude Rumi, sedangkan kan Tasya hanya mangut-mangut.


__ADS_2