
Karena terburu-buru hanya karena ingin makan, Bian sampai melupakan jika dirinya hanya mengenakan kolor berwarna pink. Serta sepatu saja tanpa memakai celana, entah kenapa pagi ini dirinya menjadi seorang yang amat bodoh.
"Bagaimana? Apa memang itu model baru yang kamu sedang tren kan," ujar Tasya dengan sesekali tersenyum karena tidak menyangka bahwa, Bian juga memiliki sifat pelupa yang amat besar.
"Semua ini karena kamu," tuduh Bian yang malah melemparkan kesalahannya pada Tasya.
"Kenapa menjadi aku yang salah, yang lupa tidak melengkapi pakaian siapa? Yang dipersalahkan juga siapa." Tasya pun tidak terima kalau semua itu karenanya.
"Enak saja main nyalain orang," gerutunya dalam hati.
"Coba saja kalau kamu tidak membuat hidungku mengendus-endus bagai kucing. Hingga membuat perutku meminta haknya, semua ini kan tidak akan terjadi." Jawab Bian dengan seribu jurus dan 101 alasan, sampai-sampai ia lupa dengan sesuatu yang amat penting.
"Kamunya saja yang sungguh terlalu," sungut Tasya dengan kesal.
Bian tidak menanggapi karena dirinya sudah hampir telat, jadi ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mengenakan celana kerjanya.
"Dasar pria menyebalkan," dengus Tasya lalu ia segera merapikan meja makan yang sudah acak-acakan, karena ulah Bian makan dengan terburu-buru sampai-sampai semua berjatuhan di meja makan.
Tasya mengambil kotak makan dan mengisinya dengan nasi dan lauk sisa dari Bian, karena ia masih kenyang jadi memutuskan untuk membawa bekal. Untuk di bawanya ke toko dan itu bisa dibuat makan jam siang nanti.
Setelah selesai semuanya Tasya langsung bersih-bersih dan ia akan berangkat bekerja juga, karena sekarang sudah jam delapan pagi.
πππππππ
Setengah jam kemudian Tasya sudah berada di toko, dan penyambut semua karyawan yang bekerja di toko roti milik mertuanya.
"Pagi semuanya," sapa Tasya dengan wajah sumringah.
"Pagi juga Syah." Jawab mereka serempak, tapi tidak dengan Sandra. Sandra menatap sinis ke arah Tasya dengan wajah tidak suka.
"Eh ada karyawan sok cantik dan sok berkuasa datang." Tasya tidak menghiraukan celoteh Sandra dan mencoba acuh, dengan orang yang tak penting menurutnya.
"Syah, apa itu?" tanya Sonia saat melihat kotak makan yang berada di tangan Tasya.
"Bekal." Jawab Tasya dengan enteng.
__ADS_1
"Oh." Sonia pun hanya ber oh ria saat mendengar jawaban dari Tasya.
"Syah ada yang mau aku bicarakan sama kamu, penting."
"Soal apa?" Tasya mengerutkan keningnya saat bertanya pada Sonia.
"Nanti saja karena kamu banyak hutang penjelasan padaku," kata Sonia sedikit kesal karena banyak hal yang dirahasiakan oleh Tasya kepadanya.
"Ikut aku," titah Tasya.
Lalu Tasya pun naik ke lantai atas, bukannya Sonia mengikuti malah yang ada mencegahnya karena menurutnya itu semua tidak benar, dan terkesan lancang.
"Syah, kenapa kamu mengajakku ke ruang bos. Bagaimana kalau kita ketahuan," ujar Sonia menolak dengan gelengan kecil.
"Kamu tenang saja, tidak akan kepergok oleh bos. Lagian meskipun orang melihat kenapa? Toh tak ada masalah," ucap Tasya menanggapi Sonia dengan santai.
"Apa maksud kamu."
"Maka diam lah dan ikuti aku," perintah Tasya lagi pada Sonia.
Sedangkan di lantai atas.
Brakh.
"Apa! Semua ini pasti cuma candaan kamu saja kan."
"Bisakah kamu tidak menggebrak meja, apa kamu pikir aku tuli!" sungut Tasya sedikit terkejut karena ulah Sonia yang menggebrak meja baru saja.
"Maaf, aku terlalu terkejut karena ucapan kamu." Jawab Sonia dengan tangan yang berada di bokong lalu pura-pura menggaruknya.
"Jadi, setelah aku pulang waktu itu dan disitulah kamu bertemu dengannya. Begitu kan?"
"Iya, dan bu bos sudah menyerahkan beberapa tokonya untuk aku kelola termasuk toko ini."
"Tapi aku minta tolong sama kamu tolong jangan beri tahu tentang semua ini. Pada orang-orang yang berada di bawah, biarkan mereka menganggap aku sebagai karyawan rendahan ataupun perempuan bermuka dua, yang menurutnya panggilan itu pantas untuk aku, mengerti kan." Saat Tasya menjelaskan entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya. Di rendahkan lalu dihina sesuka hati, tanpa ingin memberi tahu siapa dirinya? Karena Sonia tahu banyak orang yang membenci Tasya bukankah itu adalah kesempatan, tapi mengapa justru sahabatnya ingin dirinya merahasiakan itu semua.
__ADS_1
"Son, apa kamu bisa janji kepadaku." Tasya pun mengulangi kata-katanya lagi dan berharap Sonia mau membantunya menutupi identitasnya untuk sekarang.
Sonia pun yang diajak bicara sedikit bingung antara bisa atau tidaknya, melihat ada beberapa yang sangat tidak menyukai Tasya.
"Insya Allah ya Syah. Ingat untuk selalu memberitahu aku tentang semua permasalahan yang sedang kamu hadapi padaku," ucap Sonia menatap tajam ke arah Tasya.
"Iya lain kali aku akan bercerita. Maaf sudah membuatmu ikut dalam masalahku," kata Tasya memegang erat jemari Sonia, sebagai bentuk persahabatan dan ucapan terimakasih.
"Ya sudah yuk turun, takut anak-anak di bawah curiga." Sonia mengangguk dan mereka berdua lekas berdiri dan langsung keluar.
Sesampainya di bawah lagi-lagi Sandra,membuat masalah dengan Tasya.
"Hati-hati nanti kepergok lho. Eh maksudnya siap-siap di pecat kalau cara kerja kamu seperti ini terus," ucap Sandra lalu tertawa keras menertawakan seseorang yang di anggapnya remeh dan tak ada artinya apapun di matanya.
"Kamu tidak lelah membuat masalah denganku?"
"Hye siapa yang membuat masalah denganmu! Apa yang aku katakan adalah benar dan sebentar lagi kamu akan kehilangan pekerjaan. Lihat saja nanti apa ucapanku itu benar atau salah," ketus Sandra yang terus menyerang Tasya.
"Baik kuberi tantangan untuk kamu. Kalau aku benar di pecat maka aku akan bersujud padamu, tapi kalau kalau apa yang kamu bilang adalah bohong maka berhenti menggangguku hidupku!"
"Deal." Sandra setuju dengan persyaratan yang diberikan oleh Tasya. Menurutnya ini adalah kesempatan lantas kapan lagi ia merasakan di sembah oleh Tasya.
Tasya berpikir jika memberi tantangan seperti itu, maka Sandra tidak akan berulah lagi dan membuat masalah padanya. akhirnya keduanya pun setuju dengan sarat masing-masing.
Kriiiet.
Terdengar suara pintu kaca di buka oleh seseorang. Semua mata tertuju pada sosok yang perempuan yang masih cantik dan elegan dengan setelan blazer berwana hitam.
βMampus kamu Tasya sebentar lagi,β batin Sandra dengan penuh keyakinan. Sedangkan Tasya menanggapi orang itu dengan amat santai, tanpa ada keraguan sedikitpun.
βTadi ada laporan yang mengharuskan saya datang ke sini,β kata perempuan itu dengan sangat berwibawa.
βDan untuk Sandra terimakasih untuk laporannya.β
βSama-sama Bu, karena menurut saya itu penting untuk melaporkan karyawan lancang seperti Tasya.β Dengan senyuman kemenangan sebentar lagi tidak ada orang yang dianggap saingannya.
__ADS_1
βUntuk kamu Tasya β¦ Kamu saya pecat!β