
Mereka kini sudah berada di depan rumah bu Rumi, dan nampaknya mereka berdua sudah ditunggu juga. Itu karena bu Rumi dan pak Harun sudah menunggu di teras dengan ditemani secangkir kopi untuk laki-laki paruh baya tersebut.
Sedangkan Tasya yang masih tidur, buru-buru Abian membangunkannya dengan cara ditepuk.
"Syah, bangun, ini sudah sampai." Abian menepuk-nepuk halus bahu Tasya dan rupanya perempuan itu merespon, karena tidak lama kemudian Tasya menggeliat kecil.
"Eum … Sudah sampai ya?" tanya Tasya yang belum tahu sekarang berada dimana.
"Sudah, kita turun." Ucapan Abian membuat Tasya langsung mengangguk.
Brak.
Brak.
Suara pintu tertutup karena mereka sudah berada di luar, dan.
"Budeee … Tasya kangen," ucap Tasya sambil berlari layaknya anak kecil.
Pletak.
Auh.
Suara pak Harun dan Abian terasa sangat menyedihkan saat melihat keadaan Tasya.
Pak Harun, dan Abian mengelus keningnya dan ikut merasakan sakit karena ada seseorang yang mendapatkan give away dari bu Rumi.
"Bude, kenapa aku di jitak?" dengan nada kesal Tasya bertanya. Bukannya disambut ini justru malah dianiaya pikirnya.
"Lagian, kamu itu bukan bocah lagi. Bude geli liatnya," kata bu Rumi dengan nada sinis nya yang tak pernah hilang dari kebiasaannya. Meski begitu beliau orang yang paling menyayangi Tasya karena semua tak bisa dipandang hanya dengan kata-kata bukan, paling tidak memberikan perhatian dari hal-hal kecil itulah bude Rumi.
Mata Tasya membulat karena bude Rumi menolak dipeluk, apa bude tidak kangen dengannya? Apa bude sungguh-sungguh tidak merindukannya juga? Karena sudah lama tidak bertemu.
Tasya menghela nafas panjang karena bu Rumi tidak mau memeluknya di saat masalah datang menghampirinya.
"Sebaiknya kita masuk." Pak Harun membuka suara dan meminta semuanya untuk masuk.
"Baik, Pakde." Abian menimpali disertai anggukan. Lantas pada akhirnya semuanya masuk ke dalam dan mereka kini sudah duduk di ruang tamu.
"Syah, suami kamu suruh istirahat bisa jadi sekarang dia lelah, dan kamu lekas lah mandi sebentar lagi kita akan makan. Bude sudah nyiapin makanan kesukaan kamu," ujar bu Rumi yang membuat mata Tasya berbinar-binar karena ternyata bude rumi nyatanya masih sayang kepadanya.
__ADS_1
"Iya, Bude." Jawab Tasya patuh.
"Mas, istirahatlah sebentar di kamar." Sedetik mata Abian membulat karena sungguh tercengang dengan panggilan 'Mas'. Pasalnya hampir jalan tiga bulan masa pernikahan mereka, tidak sekalipun Tasya memanggilnya dengan sopan, dan baru sore ini kata-kata manis terucap dari bibir Tasya.
"Mas," tegur Tasya lagi karena sedari tadi Abian melamun.
"Ah, iya. Tentu saya akan istirahat sebentar," ucap Abian dengan suara gugup.
"Pakde, Bude, saya izin ke kamar kalau begitu." Abian berpamitan pada tuan rumah, karena memang seluruh tubuhnya perlu di istirahatkan.
Bu Rumi dan pak Harun mengangguk.
Tasya mengikuti Abian dari belakang karena dirinya akan mengambil handuk di dalam lemari.
“Syah, Apa kamu sengaja memainkan sandiwara lagi pada keluargamu?” tanya Abian dengan tatapan intens.
“Tidak.” Jawab Tasya datar.
“Lantas?”
“Memangnya tidak boleh kalau aku memanggil seperti itu,” ujar Tasya sekilas melirik ke arah sang suami.
Abian diam, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Tasya.
“Kenapa?” tanya Tasya saat melihat wajah bingung Abian.
“Apa itu artinya kamu mengakui saya sebagai suami kamu,” ucap Bian dengan nada serius.
“Memangnya selama ini kamu siapaku, pertanyaan macam apa ini.” Tasya tersenyum bak orang bodoh. Menggelengkan kepala karena tidak mengerti dengan suaminya, bukannya selama ini dia adalah mengakui siapa Abian, hanya saja dirinya belum siap sepenuh hati untuk benar-benar menjadi seorang istri.
“Ah, maksud saya apa kamu sudah membuka hati kamu untuk nama saya?”
Tasya tersenyum, dan tidak menjawab melainkan langsung keluar dari kamar, dengan membawa handuk untuk mandi.
Setelah Tasya pergi.
“Yes, bisa malam pertama. Yeah,” ucap Abian berjingkrak senang karena merasa dirinya adalah manusia yang paling bahagia di muka bumi ini.
Abian di dalam kamar terus bersorak senang dengan joget-joget tidak jelas. Layaknya bocah TK, yang telah mendapatkan sebuah hadiah.
__ADS_1
Ceklek.
Abian yang mendengar suara pintu. Buru-buru langsung berbaring dan pura-pura kalau sedang tidur.
Tasya baru saja selesai mandi, lalu masuk kamar untuk melihat suaminya karena ia akan menyuruh Abian untuk segera bersih-bersih juga. Semua orang sudah menunggu untuk makan, dan beberapa hidangan juga sudah tersaji di atas meja.
Namun, Tasya melihat kalau suaminya itu sedang tertidur dengan pulas, ada rasa kasihan jika harus membangunkannya. Jad, niat membangunkannya ia urungkan.
“Pasti sangat capek, ya sudahlah.” Lalu Tasya kembali keluar untuk menemui pakde dan juga bude nya. Untuk menyatakan kejadian tadi di toko roti.
Sesampainya di ruang tengah. Tasya langsung duduk di antara kedua orang tua yang selama ini cukup berjasa untuknya.
Pak Harun yang melihat Tasya keluar sendiri pun langsung bertanya karena keluar sendiri tanpa ada Bian.
“Syah, mana suami kamu?” tanya pak Harun dengan mata celingukan, mungkin saja sedang mencari sosok Abian.
“Mas Bian tidur, Pakde. Kasian kalau harus di bangunin,” kata Tasya berbicara dengan wajah lesu nya.
“Kenapa? Kusut amat itu muka,” ujar bu Rumi karena beliau menyadari tidak ada aura senang di wajah Tasya.
“Tante Rasti tadi datang ke toko.”
“Apa! Mau apa perempuan itu datang.” Dengan wajah yang merah padam bu Rumi berujar.
“Dasar wanita licik,” gumam bu Rumi dan itu sempat didengar oleh suami dan juga Tasya.
Apa mungkin bu Rumi tahu sesuatu tentang kedatangannya tante Rasti di toko?
"Apa Bude tahu sesuatu tentang perempuan itu?" terlihat jika bude Rumi terlihat bingung dan itu sangat kentara, namun bu Rumi tetap berusaha untuk tetap tenang.
"Tidak, Bude tidak tahu dan aku yakin jika wanita itu sedang menginginkan sesuatu." Ucapan bude Rumi dibenarkan oleh Tasya karena semua itu memang benar.
"Bude tahu apa yang di bawa oleh wanita serakah itu."
Bude Rumi menggeleng karena memang ia tidak tahu soal apa yang di bawa ke toko roti milik Tasya.
"Dia tadi membawa…."
"Eh, Nak Abian." Belum sempat Tasya melanjutkan ucapannya, namun bude Rumi melihat kedatangan suami Tasya dan seketika ketiganya menoleh ke arah lelaki tersebut.
__ADS_1
"Abian, rupanya kamu sudah bangun?" Pak Harun pun ikut menyahut dan Abian yang mendapat pertanyaan hanya tersenyum tipis, yang terlihat di sudut bibirnya.
"Sekarang kita makan saja, kasian nanti suami kamu Syah, untuk urusan perempuan serakah itu. Kita bahas nanti karena biar bagaimanapun kita butuh tenaga walau hanya sekedar mengumpat.