
Bagai sambaran petir yang menyambar tubuhnya. Perlahan pertahanannya runtuh kala dirinya melihat foto yang terpampang jelas di sisi jalan pintu masuk masuk.
Tiga tahun. Tiga tahun ia menjalin kasih dengan Aldo namun sekarang yang diterima adalah sebuah penghianatan. Di tambah mempelai wanitanya adalah orang yang sangat ia benci. Sosok itu adalah Tia! Bagaimana semua ini bisa terjadi.
"Syah, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sonia saat melihat Tasya berada di titik yang menyakitkan.
"Apa aku harus berkata jika aku sedang baik-baik saja."
"Apa ini alasan Aldo yang tak mau mengenalkan aku pada orang tuanya." Tasya berkata lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan sudah siap mengeluarkan cairan bening itu.
"Syah, sebaiknya kita pergi untuk menenangkan pikiran kamu." Sonia mengajak Tasya untuk pergi agar tidak bertambah sakit saat melihat janur kuning yang melengkung itu.
"Kamu pulanglah. Aku sedang ingin sendiri," ucap Tasya datar.
Seakan Sonia tahu akan isi hati Tasya. Akhirnya ia pun meninggalkan Tasya berharap jika nanti dirinya akan baik-baik saja.
"Ya sudah. Jangan membuat hati kamu semakin terluka karena memikirkan orang yang sudah mengkhianati kamu," ujar Sonia lalu pergi dari hadapan Tasya.
Setelah kepergian Sonia. Tasya terus berjalan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Ia tidak menyangka kalau nasib percintaannya akan seperti ini. Tidak ada kata putus namun tahu-tahu dirinya di tinggalkan dengan cara menyakitkan. Terlebih lagi yang dinikahi adalah Tia! Sungguh lengkap sudah kehancuran Tasya saat ini.
Tanpa sadar Tasya sudah berjalan sejauh itu. Dan sekarang pun ia tidak tahu berada di mana. Saat klakson membuyarkan lamunannya.
Tin.
Tin.
Aaaaaaaa.
Tasya terduduk sambil memegang kedua telinganya. Berharap dirinya masih hidup karena ia masih punya keinginan untuk menjadi orang kaya.
"Apa aku sudah mati. Oh, aku berharap tidak karena aku ingin menjadi orang kaya, dengan begitu aku bisa balas dendam." Tasya terus mengomel hingga berhenti bicara saat netra nya melihat sepasang sepatu. Yang ada di depannya.
"Apa yang ada di hadapanku ini malaikat yang akan membawaku ke surga?" tanya nya pada diri sendiri.
Pletak.
"Auh ... Kalau aku mati kenapa sungguh sakit jidatku," ucapnya lirih sambil mengelus keningnya yang terasa sakit.
"Apa sudah mengkhayal nya, Nona." Seketika Tasya mendongak untuk melihat suara itu.
__ADS_1
"Ka-mu...."
"Apa!" lelaki itu terlihat sangat marah karena ulah Tasya yang berjalan tidak dengan hati-hati.
"Dasar gadis pembawa sial!" saat lelaki itu berkata. Tasya langsung menunduk dan kemarahannya menjadi kesedihan.
"Apa aku memang pembawa sial bagi semua orang," ucapnya lirih.
Lelaki yang sempat marah tadi kini berhenti dari langkahnya. Kala mendengar gadis itu berkata.
Lelaki itu menghampiri Tasya dan mengulurkan tangannya pada orang yang masih bersimpuh di tanah.
Tangan lelaki itu di tepis. Karena menurutnya ia tak perlu dikasihani.
"Maaf. Aku terlalu kasar," ucap lelaki tersebut.
"Apa yang kamu katakan adalah benar kalau aku memang membawa sial," ujarnya pada lelaki itu.
Setelah mengatakan itu. Tasya berlalu pergi meninggalkan pria tadi.
Sedangkan pria tadi buru-buru membenarkan motornya dengan segera ia menaikinya dan membuntuti gadis, yang sudah membuatnya terjungkal bersama motornya.
"Apa kau tuli," ucapnya lagi.
"Kenapa kamu terus mengikutiku," sergah Tasya pada lelaki yang terus mengikutinya.
"Saya hanya takut kalau kau bunuh diri."
Sejenak Tasya terdiam. Dengan menahan amarahnya ia mencoba menurunkan emosinya.
"Apa menurut kamu aku sudah tidak waras. Meski aku dikhianati sekalipun! Pantang bagiku untuk bunuh diri sebelum dendamku terbalas. Karena aku masih kere makanya tidak ingin mati terlebih dulu, ups." Tasya membekap mulutnya karena berkata terlalu jujur.
Lelaki yang terus membuntutinya merasa lucu saat melihat kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Dalam hati pria itu teramat beruntung karena merasa sudah menemukan mangsa. Jadi, dirinya tidak perlu repot-repot untuk mencari seseorang yang akan membantunya.
"Saya ada penawaran untuk kamu membalas dendam pada orang yang kamu benci." Dengan tiba-tiba lelaki itu memberi penawaran pada Tasya.
"Kita tidak saling kenal. Jangan coba-coba menjebakku," ucap Tasya dengan wajah dinginnya.
"Sekarang kita kenalan. Lalu terima penawaran saya," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Tasya.
Tasya tidak menanggapi. Namun, dirinya langsung pergi dan mengabaikan pria itu. Karena menurutnya itu tidaklah penting.
__ADS_1
Tasya terus berjalan hingga berhenti di jembatan dan bawahnya terdapat sungai, dengan arus yang cukup deras.
"Hye! Apa kau akan benar-benar bunuh diri." Lelaki itu turun dari motornya dan langsung memegang tangan Tasya, untuk jaga-jaga jika seandainya gadis itu benar-benar akan bunuh diri.
"Aku tidak segila itu ya! Kenapa terus mengikutiku," seru Tasya.
"Kau pasti habis patah tulang, eh maksudnya pada hati."
Tasya sudah memberikan tatapan nyalangnya karena pria itu sempat salah ucap.
"Maaf. Lidahku ikut keseleo gara-gara kamu tadi," ucapan lelaki itu membuat Tasya mendelikkan matanya ke arahnya lagi.
"Bisa-bisanya di saat seperti ini masih saja bercanda," sungut Tasya.
Sejenak Tasya melihat ke arah arloji yang bertengger di pergelangan tangannya. Di liriknya jarum yang berputar itu kini sudah berada di angka 17:30. Tandanya sebentar lagi memasuki magrib, namun Tasya terlalu lelah jika harus berjalan karena membutuhkan waktu satu jam lagi.
Dengan terpaksa ia akan meminta pada pria itu untuk mengantarkannya pulang.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu," ujar lelaki yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sepertinya kamu benar-benar masih waras. Jadi, saya mau pamit," ucap pria itu lagi.
Saat pria itu sudah bersiap untuk melajukan motornya, namun Tasya memegangi bajunya.
"Lepaskan!" bentak pria itu. Dan Tasya pun menggeleng kecil dan tak mau melepaskan baju yang ada di genggamannya.
"Saya mau pulang. Bisa tidak baju saya di lepaskan! Baju yang saya gunakan itu bermerek. Kalau robek apa kamu mau menggantinya!" seru lagi pada Tasya. Dan Tasya pun semakin enggan untuk melepaskannya.
"Jangan tinggalin aku," pinta Tasya dengan wajah yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu ini lupa ingatan atau otak kamu lagi gesrek! Kamu kan yang bilang kalau mau sendiri, jadi ya saya pamit dong." Lelaki itu mengacuhkan Tasya yang sedang merengek karena tidak mau di tinggal.
"Jangan pergi. Aku mohon," ucap Tasya dengan tatapan memelas.
"Saya tidak mau tahu. Sekarang lepas!" bentaknya lagi pada Tasya.
Sedangkan Tasya masih erat memegang baju dengan kedua tangannya.
Hup.
"Buruan jalan. Dan segera nyalakan!"
__ADS_1