
"Maksud kamu," ucap Sonia tidak mengerti.
"Iya, tadi pagi udah kerjain bude di rumah." Jawab Tasya dengan santai.
"Kamu mah suka begitu kualat kan jadinya." Sonia pun ikut kesal namun di samping itu, ia mengira jika Tasya sudah terlihat hilal jodohnya.
Untuk sesaat mereka berdua melupakan kejadian tersebut, karena waktu mereka tidak banyak. Jadi, keduanya cepat-cepat menyelesaikan makanan mereka.
Tepat jam satu kurang sepuluh menit, mereka selesai dan buru-buru tancap gas.
Huf.
"Beruntung kita gak telat," ucap Tasya lega.
"Ini semua gara-gara kamu, andai gak salah orang pasti makan dengan tidak terburu-buru!" gerutu Sonia sedikit kesal dengannya.
"Iya kan aku sudah meminta maaf, kenapa pula masih kamu bahas." Tasya tak mau jika ia terus disalahkan. Ia pun hanya manusia biasa dan bukan saras, jadi menurutnya wajar dong salah gandeng.
"Sudahlah." Lantas Sonia pun langsung masuk ke dalam toko dan semua karyawan sudah memulai pekerjaannya masing-masing.
Ada satu pelanggan lagi saat Tasya sedang menata kue untuk diletakkan di etalase.
"Silahkan dipilih, apa ada yang bisa saja bantu." Dengan ramah dan sopan Tasya berkata.
"Ambilkan kue tar susun itu ya," ucap lelaki itu meminta tolong.
"Baik, silahkan ditunggu. Jawab ramah Tasya.
Sedangkan lelaki itu tanpa menoleh ke arah Tasya, ia pun masih memilih jejeran kue tersebut.
" Eum, Mbak. Saya minta yang ini juga," panggil pria tersebut pada Tasya.
Dan seketika.
"Kamu!" ucap mereka bersamaan.
"Kenapa saya harus ketemu kamu lagi sih," sungut lelaki itu pada Tasya.
"Yeah, itu mulut jaga ya. Aku memang kerja disini," ujar Tasya menimpali dengan enteng.
"Ouh, kerja." Dengan enteng pria itu pun menjawab.
"Jangan banyak omong, cepat kerjakan karena saya buru-buru." Pria itupun kembali berkata.
"Dasar pria mulut tapi kek cewek," umpat Tasya sembari berjalan.
"Telinga saya masih berfungsi baik. Jadi, jangan mengumpat."
"Bodoh." Dengan cepat Tasya pun menyelesaikan pengemasan biar nantinya orang itu, bisa secepatnya pergi dari tokonya.
__ADS_1
"Semuanya sudah kumasukkan dan pergilah ke kasir untuk membayar," ujar Tasya sembari memberikan kotak kue pada pria tersebut.
"Baik terimakasih, lain kali pakai kacamata kuda biar nanti tidak salah gandeng lagi." Dengan senyuman mengejek pria tersebut langsung pindah ke tempat kasir.
Sedangkan Tasya mengepalkan kedua tangannya karena begitu sangat kesal, pada sosok pria yang baru saja membeli kue tersebut.
"Dasar pria sinting," umpat Tasya dengan kaki yang di hentakkan untuk kembali ke dapur.
Toko hari ini lumayan rame, dan itu membuat badan Tasya sedikit lelah namun sedikit terbayar karena hari ini dirinya menerima gaji. Bos besar pemilik dari toko roti sebentar lagi akan datang untuk memberikan gaji mereka.
Sedikit lama menunggu membuat karyawan lainnya bosan, sampai-sampai anak sif sore pun datang, namun bos mereka tak kunjung datang.
Akhirnya setengah jam lebih mereka menunggu terbayar juga, karena ia sangat kenal dengan mobil yang sedang parkir di area depan toko tersebut.
"Akhirnya gajian juga kita," ucap salah satu diantara kelima karyawan .
"Iya, gak tau apa kalau kebutuhanku habis." Seseorang ikut menyahut.
Namun, belum sempat yang lain ikut menimpali tiba-tiba senyuman mereka luntur. Nyatanya yang datang bukan bosnya, tapi lelaki yang cukup tampan hingga membuat jika centil mereka meronta.
Degh.
"Abian, mau apa dia membawa mobil milik ibu bos? Apa ada hal yang belum ku ketahui ." Tasya pun bertanya-tanya dalam hati. Lalu menyenggol lengan Sonia.
"Aku juga tidak tahu," bisik Sonia pada Tasya.
"Apa dia juga termasuk karyawan bunda? Karena berada di toko ini," ucap Bian dalam hati, karena dirinya baru mengetahui jika ternyata Tasya bekerja di toko ini.
Sejenak Abian melupakan urusan Tasya sejenak karena jika bukan melihat sang bunda sakit, ia tidak akan sudi mengantar gaji para karyawan itu.
"Perkenalkan saya Abian, putra dari bos kalian pemilik toko ini. Saya di suruh orang tua saya untuk mengantar gaji kalian, karena beliau sedang tidak enak badan. Maka dari itu disini saya yang mewakili," ucap Bian panjang lebar karena ia juga perlu untuk memperkenalkan diri.
"Baik, ikut ke ruangan dan saya akan mengabsen satu persatu." Bian pun memerintahkan semua mengantri untuk dipanggil.
Setelah mendapat perintah semuanya pun masuk dan menunggu di luar ruangan, guna menanti nama mereka dipanggil satu persatu.
Semua sudah mendapat giliran dan sekarang hanya tinggal Tasya yang belum, karena di dalam masih ada Sonia.
Tidak berapa Sonia sudah keluar dari dalam dan menyuruh Tasya untuk masuk.
"Syah, giliran kamu. Aku tunggu di luar ya," ucap Sonia dan setelah itu dirinya berlalu meninggalkan Tasya.
Tasya pun masuk dan menatap tajam ke arah Bian.
"Kenapa kamu menatap saya, memangnya kamu berani padaku." Bian pun langsung berkata pada intinya karena ia adalah sosok orang, yang tidak suka berbelit-belit.
"Tidak." Jawab Tasya tetap tenang.
"Lantas mengapa kamu menatapku seperti itu. Aku tahu kalau wajahku sangat tampan," ucap Bian dengan bangga.
__ADS_1
"Idih PD banget, wajah okeh tapi kalau jorok tampan pun langsung masuk tong sampah." Dalam hati Tasya tertawa geli saat pria yang ada di depannya sok cakep.
"Jangan mengumpatku," sergah Bian karena ia yakin jika Tasya sedang mengatainya dalam hati.
"Jangan sok kegantengan. Belum tentu aku memuja ketampanan kamu," ucap Tasya dengan nada datar.
"Lantas mengapa kamu menatap seperti itu. Kalau memang suka katakan saja, tapi maaf saya tidak menyukaimu."
Hahahahaha.
Tasya tertawa geli saat Bian berkata seperti itu.
"Apa kamu sudah gila hingga suara tawamu seperti kuntilanak?"
"Enak saja, Kamu itu orang yang PD, dan menyebalkan juga ternyata." Tasya tidak terima dan menyerang balik ucapan pada Bian.
Tasya yang kesal dan segera ingin keluar, karena jika terus berdebat dengannya maka sampai lebaran datang tidak akan selesai.
"Jangan banyak omong pria jorok, sekarang mana gajiku karena aku tidak mau semakin dalam, untuk berdebat denganmu."
"Dasar mulut mercon ya."
"Kemari dan ambil dari tanganku," imbuh Bian lagi, di tangannya terdapat amplop berwarna putih lalu di gapit nya dengan dua jari.
Tanpa ada rasa takut Tasya pun berjalan ke arah tubuh Bian untuk meraih amplop tersebut.
Shat.
Shat.
"Eh gak bisa."
"Sialan."
Tiba-tiba saja kaki Tasya tersandung kaki meja dan.
Grep.
Huaaaa.
"Jorok," ucap Tasya sambil bergidik ngeri.
"Apa maksud kamu?" tanya balik Abian pada Tasya.
"Berkacalah maka kamu akan tahu, dan itu mengapa aku terus memperhatikan muka kamu." Jawab Tasya yang langsung berdiri dari pangkuan Bian.
Belum sempat ia bangun dari paha Bian, seseorang melihatnya.
"Maaf, saya kira tidak ada orang."
__ADS_1