
Dari arah belakang terlihat Bian berteriak untuk memastikan siapa yang datang. Sedangkan Tasya masih berdiri diambang pintu.
"Syah, apa itu mama!" teriak Bian dari ruang tengah.
"Bu-bukan." Jawab Tasya terbata.
"Lantas siapa?" tanya Bian yang mulai berjalan untuk melihat.
"Itu bude sama pakde." Jawab Tasya lagi.
Tidak ada jawaban dari Bian, apa suaminya akan marah karena keluarga Tasya datang tidak memberi kabar. Pikirnya.
"Bude, sama Pakde apa kabar?" saat Bian mulai bersuara dan menyapa keluarga Tasya. Ada perasaan lega karena ia pikir Abian akan marah, namun ternyata dia sudah berburuk sangka pada sang suami.
"Alhamdulillah baik Nak, bu besan belum datang?" Saat bu Rumi menayakan sang besan. Membuat Tasya berpikir kalau semua ini adalah rencana bos mertuanya.
"Belum ada datang mungkin sebentar lagi. Kalau begitu silahkan masuk dan duduklah sembari menunggu mama datang," ucap Abian yang mempersilahkan orang yang sudah dianggap mertuanya itu untuk duduk.
"Terimakasih Nak, saya permisi masuk dulu."
Sedangkan Tasya bak burung pelatuk karena sedari tadi menatap bingung dengan orang-orang. Akan tetapi, pada akhirnya ia pun ikut duduk dan bergabung dengan yang lainnya.
"Bude sebentar aku akan membuat minuman untuk kalian." Lepas kepergian Tasya bude Rumi menatap takjub pada rumah yang ditempati oleh Tasya. Tidak menyangka kalau Abian adalah orang kaya namun tetap saja semua itu tidak luput dari fisiknya, yang membuat bude Rumi merasa sedikit kasihan dengan Tasya.
Lagi-lagi tolak ukur lah yang menjadi masalah di mata orang, termasuk bu Rumi sendiri.
ππππππππ
Ternyata tanpa diduga saat Tasya sedang membawa minuman ke depan siapa sangka kalau bos besannya sudah datang.
__ADS_1
"Ma-ma kapan datang?" sesampainya di luar Tasya langsung bertanya.
"Tidak begitu lama. Syah Mama lapar apa kamu sudah masak?" tanya balik bu Amira pada Tasya.
"Tentu, semuanya sudah siap tinggal makan." Jawab Tasya dengan nada sedikit kikuk.
"Bagus, itu namanya menantu yang pengertian. Sudah mempersiapkan ketika mertua belum datang," ujar bu Amira dengan senyuman khasnya.
Tidak ada percakapan saat makan berlangsung, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling bergesekan dengan piring.
Tidak berselang lama, semua sudah selesai makan dan Tasya pun segera membereskan sisa-sisa bekas makanan kotor yang akan dicucinya.
"Bude bantu ya," tawar bude Rumi pada Tasya.
"Makasih Bude, maaf merepotkan." Jawab Tasya dengan tatapan nanar.
"Apa kau bahagia?" tanya bude Rumi dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Syukurlah kalau bahagia, Bude hanya ingin tahu saja jika pernikahan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Aldo sertaβ."
Belum sempat bude Rumi melanjutkan ucapannya namun sudah terpotong oleh Tasya. Ia tidak mau mendengarkan nama-nama yang tidak penting dari hidupnya.
"Jangan membahas orang-orang yang tak penting lagi, bagiku semua sudah mati Bude. Harusnya bude tau akan hal itu bahwa sedikitpun tidak ada rasa ingin tahu tentang mereka sama sekaki," kata Tasya penuh penegasan agar lain kali bude Rumi tidak berkata seperti itu lagi.
Semua sudah beres dan kini mereka berdua ikut duduk di ruang tengah, Tasya duduk di sisi Abian sedangkan bu Rumi duduk di sebelah suaminya. Suasana sedikit canggung karena bagi Tasya ini kali pertama dua keluarga duduk bersama.
"Apa Mama akan menginap?" tanya Bian yang membuka keheningan karena suasana seperti di atas puncak gunung. Terlalu tegang maka dari itu ia membuka obrolan agar sedikit hangat sehangat selimut pikirnya.
"Tidak, Mama akan pulang. Oh ya, ingat jangan lama-lama menunda untuk membuat istrimu hamil." Jawaban yang diberikan oleh bu Amira membuat Tasya langsung membulatkan mata.
__ADS_1
"Bagaimana mau hamil, orang kagak pernah main petak umpet." Batin Tasya diam-diam.
"Kalau itu serahkan yang di atas Ma, meski kita main sehari delapan ronde. Kalau Tuhan belum mengizinkan mau bagaimana lagi," kata Bian tanpa punya rasa malu ia berkata.
"Justru karena delapan Ronde itu kamu gak bisa membuat istrimu bunting. Ibarat santan itu mah udah encer," ucap bu Amira tanpa punya rasa sungkan beliau berkata. Sedangkan Tasya dan keluarganya hanya diam sesekali mengumpat akan ucapan Bian, dan juga bu Amira yang terlalu bar-bar.
Pak Harun pun yang mendengar merasa malu karena kata-kata nyeleneh dan unfaedah yang dibahas oleh sang besan.
"Kenapa bisa begitu?" dengan tampang bodohnya Abian bertanya.
"Semakin dipakai semakin air yang dihasilkan akan encer, disitulah yang membuat susah hamil." Mendengar ucapan sang mama Bian hanya manggut-manggut, sedang Tasya sangat malu hingga menunduk dan menutup mukanya.
Percakapan terhenti kala saat jam yang ada di dinding menunjukkan di angka lima sore.
"Syah, Bude sama pakde pulang dulu ya. Ini sudah sore takut keburu magrib nantinya," ucap bude Rumi.
"Lho besan tidak menginap," sahut bu Amira.
"Tidak bu besan. Di rumah tidak ada orang dan lagian semua lampu padam," kata pak Harun ikut menimpali.
"Baiklah kalau begitu, karena saya juga mau pulang."
"Syah, Bian. Mama mau pulang ingat cucu yang ganteng atau cantik," ujar bu Amira dengan mengedipkan satu matanya.
Akhirnya semua pun pulang ke rumah masing-masing. Keadaan hening karena para orang tuan sudah pulang. Sekarang ini tinggal pasutri (Pasangan suami istri) yang masih tetap duduk di tempat masing-masing kursi.
Entah apa yang mereka pikirkan hanya keduanya yang tahu.
"Apa saya harus meminta...."
__ADS_1
"Jangan berani macam-macam karena aku tahu apa yang ada di dalam otak kamu!"