Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
31. KU JATUHKAN MENTALMU. (JANGAN KAU USIK MAKANANKU)


__ADS_3

"Pecat saja Bu, memang dia itu pantas mendapatkannya." Sandra begitu antusias dalam memprovokasi bu Amira, agar segera mengusir Tasya dari tempat kerjanya.


"Serius saya di pecat," bukannya terkejut Tasya malah mengikuti permainan bos nya itu.


"Saya harap kamu tidak tuli," kata bu Amira.


"Tentu tidak, eh tapi sedikit rusak sih pendengaran saya gara-gara suara cempreng dari wanita disebelah anda."


"Dasar mantu gak ada akhlak. Bisa-bisa di saat seperti ini masih bisa ngelawak," batin bu Amira saat Tasya berucap. Sedangkan Sandra bak kebakaran baju karena celoteh Tasya membuatnya kesal.


"Sekarang kamu pulang, karena ini yang terakhir kamu bekerja." Bu Amira pun langsung menyuruh Tasya pulang tanpa meminta penjelasan dari menantunya.


"Terus saya di rumah harus ngapain?" tanya Tasya dengan begitu bodohnya dan tentunya tak punya rasa takut.


"Terserah kamu yang terpenting jangan bekerja lagi," seru bu Amira pada Tasya.


"Baiklah saya akan pulang dengan begitu saya akan bertambah gemuk."


Tasya keluar dengan tas yang sudah berada di tangannya, semua mata tertuju padanya ada beberapa yang merasa iba dan ada pula yang merasa heran. Pada sosok Tasya, karena setelah dipecat bukannya memohon-mohon yang ada malah biasa saja.


"Tunggu," panggil Sandra.


"Ada apa?" tanya Tasya dengan kepolosannya.


"Aku yang menang dan sekarang kamu harus bersujud di kakiku," kata Sandra mengingatkan Tasya.


"Tapi itu berlaku pada mertuaku tidak untuk kamu." Jawab Tasya tanpa punya rasa takut.


"Kamu sudah kalah…."


"Apa kamu yakin," ujar Tasya yang langsung menyela ucapan Sandra.


"Apa maksud kamu," ucap Sandra tak mengerti dengan yang dikatakan oleh Tasya.


"Mama, suruh anakmu pulang juga agar kami bisa segera mencetak donat." Tasya pun menoleh ke arah wanita dengan usia yang sudah tua namun terlihat masih sangat muda.


"Tentu, sekarang pulanglah dan untuk saat ini toko Mama yang urus. Jangan lupa cetak lah donat bersama suamimu," kata bu Amira menimpali.


Sesaat terkejut bukan main apalagi Sandra. Ia bersusah payah untuk bisa menelan ludahnya yang terasa keluh karena sebuah kalimat yang membuatnya, tidak mampu berkata-kata akan kejutan yang didengarnya barusan.

__ADS_1


"Sandra, apa kamu ingin aku mencium kakimu? Baiklah akan aku lakukan," ucap Tasya lalu ia pun berjalan mendekati orang yang selalu membuatnya kesal.


"Tidak, jangan. Jangan kamu lakukan karena semua itu sudah tidak berlaku," ujar Sandra dengan seluruh tubuh yang gemetar.


Tasya melirik ke arah Sandra untuk sesaat, karena semua karena kasta. Kalau saja semua ini tidak terjadi mungkinkah mereka yang memandang sebelah alis bisa bersikap sedemikian rupa? Sungguh adil permainan hidup.


"Sandra, Sandra bisa-bisanya sekarang mati kutu hanya dengan aku memanggil bos mama. Lantas bagaimana jadinya kalau pemilik toko ini adalah aku? Ku harap sih kamu tidak pingsan," gumam Tasya dalam hati.


Dengan senyuman yang mengembang lantas Tasya pun berjalan keluar dan hari ini menurutnya, adalah hari sialnya. Bagaimana tidak! Tasya tak jadi bekerja hanya karena ulah cacing pita yang selalu mencari masalah dengannya.


"Positif nganggur sekarang, apes banget ini hidup ya." Dalam hati Tasya tiada henti mendumal karena saking kesalnya. Hingga umpatan terus saja terucap dalam hati.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setengah jam kemudian. Tasya baru saja sampai di depan rumah, dengan hembusan nafas kasar ia pun langsung membuka gerbang untuk bisa masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya makan bakso mercon enak nih," gumamnya dan Tasya pun tidak jadi masuk dan memilih keluar lagi untuk membeli bakso.


Tasya sudah tidak sabar untuk segera kembali pulang dengan membawa bakso dengan porsi jumbo, karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Maka dari itu dirinya butuh vitamin untuk membuat mood nya kembali.


Tidak lama kemudian.


Ekhem.


Satu deheman membuat Tasya masih acuh.


Ekhem.


Dua deheman akhirnya Tasya pun menoleh lalu fokus pada mangkuknya lagi.


"Apa kamu tidak melihat jika ada orang," ucap Bian dengan suara ketus.


"Aku tidak buta," Tasya.


"Lalu kenapa kamu tidak menawariku kalau kamu melihatku sebagai orang?"


"Tadinya ingin melihatmu sebagai wujud tuyul, tapi kok rasanya kurang pas ya."


"Secara tuyul kan kecil ini kan besar jadi kurang sip," lanjut Tasya lagi.

__ADS_1


"Eh benar-benar kamu ya. Masa iya suami sendiri dibilang tuyul," gerutu Bian tidak terima.


"Lha kan kamu memang tuyul," ujar Tasya tanpa menatap wajah Bian.


"Kenapa bisa begitu?" tanyanya yang tak habis pikir dengan mulut mercon sang istri.


"Karena kamu tuyul yang mencari uang untuk diberikan padaku." Jawab Tasya dengan enteng.


Sedangkan mata Bian membulat menatap wajah Tasya, tentu tanpa disadari oleh pemiliknya. Entah menikahi Tasya sebuah anugrah atau malah mendatangkan sial, sungguh apes apes.


"Punya bini satu kek gini pula, apes betul nasib hamba Ya Allah gusti." Dalam hati Bian mengeluh karena sudah tak bisa berkata-kata jika sudah berhadapan dengan Tasya.


Glek.


Terdengar suara Bian menelan ludahnya sendiri saat melihat Tasya menikmati bakso dengan beberapa tetelan, yang amat menggugah selera.


"Apa kamu sedikitpun tidak ingin memberiku bakso itu padaku?" Berkali-kali Bian menelan ludah karena ia sangat menginginkan apa yang dimakan oleh istrinya itu.


"Tidak, kalaupun aku memberimu sedikit itu akan menyiksamu dan membuat diriku dipersalahkan." Ucapan Tasya membuat Bian mengerti jika istrinya itu sangat pelit menurutnya. Kalau hanya makan bakso kenapa harus menyesal, memangnya si bakso akan menangis kalau di gigit? Lagian Bian kan bukan drakula, aneh-aneh saja pikirnya.


"Memangnya itu baso nangis ya kalau saya minta?"


"Lha ini bukan film Susana pas si perempuan mau mangap baksonya ketawa. Yang ada kamu habis makan perutmu pusing," kata Tasya dengan keringat yang sudah berjatuhan akibat bakso yang ia makan.


"Itu ketahuan kalau kamu pelit makanya tidak mau berbagi dengan saya, toh itu uang yang kamu pakai buat beli juga uang saya kan. Ayo ngaku kamu," ucap Bian dengan wajah kesalnya karena Tasya tidak mau berbagi juga.


"Terserah kamu, mau ngomong apa! Jangan sampai kamu nyuri makananku ya karena aku ingin ke kamar mandi sebentar." Lekas Tasya pun berdiri dan segera ke kamar mandi karena tiba-tiba saja perutnya terasa sembelit.


Setelah kepergian Tasya. Abian yang sedari tadi meninta dengan cara baik-baik tapi tidak di kasih, akhirnya ia pun berubah menjadi kancil untuk mencuri makanan yang ada di mangkuk.


"Wah … Sepertinya lezat," gumam Bian yang sudah tidak sabar untuk memakannya.


Tanpa memikirkan peringatan dari Tasya, Bian pun langsung melahap satu butir bakso dan langsung.


Hup.


Huh .. Hah … Huh … Hah.


"Tasyaaaaa!"

__ADS_1


__ADS_2