
"Aduh … Maaf ya Nona cantik, ups. Salah panggil sepertinya," ucap perempuan yang memang sering mencari gara-gara dengan Tasya.
"Kau…."
"Apa! Dasar perempuan murahan," maki Tia, yah perempuan itu adalah Tia.
"Hus … Hus … Hama tempatnya bukan di sini tapi di sana," balas Tasya pada Tia dengan jemari menunjuk ke arah sawah.
"Kau…."
"Apa! Ets, gak boleh marah impas kan." Dengan suara tawa yang tinggi Tasya berhasil membuat Tia mati kutu. Sekarang ia tidak peduli yang ada di otaknya adalah belanja dan segera pulang.
"Awas kau,” ancam Tia pada Tasya.
Dengan wajah penuh dendam Tia pun berucap. Sedangkan Tasya masa bodoh dengan semuanya.
Satu persatu semua barang yang dibutuhkan sudah masuk dalam keranjang, ada satu barang yang tak bisa di jangkauannya karena sedikit tinggi. Meski Tasya sudah berjinjit tetap saja tak bisa mengambil barang itu.
" Apa ini yang kamu inginkan?" seorang laki-laki dengan postur tubuh yang diidam-idamkan nya. Membuat Tasya tak bisa berpaling dari pandangannya, saat pria itu mengambilkan barang yang ada di rak paling atas.
"Ma-kasih," ucap Tasya dengan sedikit gugup.
"Sama-sama, apa ada yang perlu diambilkan lagi?" tanya pria itu.
"Cuit, cuit. Wah gila bener ini tubuh berasa adem panas ini pantat," ucap Tasya dalam hati karena sedari tadi mengagumi ketampanan lelaki yang berada di sampingnya.
"Ah, sudah tidak ada kok. Terimakasih sudah mengambilkan untukku," kata Tasya dengan senyuman yang ditebarkan.
"Kasih senyuman yang banyak biar klepek-klepek ini laki, ah rasanya pengen meluk itu tubuh." Lagi-lagi Tasya hanya bisa membatin, andaikan dia berani mungkin saja lelaki itu sudah dihujani dengan seribu kecupan.
"Sama-sama, ya sudah kalau begitu saya mau ke kasir dulu ya, Mbak." Pria itupun pamit untuk antri di kasir. Begitu juga Tasya yang ikut serta mengantri, karena merasa semuanya sudah terbeli.
Tidak berapa lama kemudian. Tasya sudah selesai dan kini sekarang ia berada dipinggir jalan, untuk menunggu angkot yang datang.
Tin.
Tin.
Sebuah mobil berhenti dan menyalakan klaksonnya. Beberapa detik kaca jendela di buka dan menampilkan sebuah ciptaan tuhan yang paling seksi.
"Mau bareng," tawar pria yang tadi saat berada di dalam minimarket.
__ADS_1
"Terimakasih untuk tumpangannya, tapi saya sedang menunggu angkut." Jawab Tasya dengan sopan.
"Masuklah saya akan mengantarmu, dan tenang saja saya adalah pria baik-baik." Pria yang belum diketahui namanya lantas sedikit memaksa untuk mengantarkan Tasya pulang.
"Sekalipun kamu orang jahat, aku tidak akan kalah darinya. Tasya dilawan," batinnya dalam hati dengan sebuah senyuman yang terlihat di sudut bibirnya.
"Apa aku tidak merepotkan anda?" ujar Tasya merasa tidak enak.
"Tidak, sekarang masuklah." Pria itu pun langsung menyuruh Tasya untuk naik ke dalam mobil.
"Nona, bisakah kamu pindah di depan. Saya rasa kamu bukan majikan saya," kata pria itu. Dia tidak mau dianggap supir jika Tasya duduk di bangku penumpang.
"Apa saya harus pindah?"
"Tentu."
"Ah sudahlah, mau ngantar tapi kok ya ribet amat." Sedikit mengeluh karena Tasya mau tak mau harus turun lagi.
"Maaf."
"Ya." Hanya itu yang keluar dari bibir Tasya, mulai malas dengan pria yang terlalu banyak bicara apalagi protes, karena menurutnya lelaki seperti itu sangatlah tidak pantas.
"Ini kita belok kiri apa kanan?" tanya Pria itu.
"Tasya."
"Nama yang bagus."
"Kita nanti belok kanan depan situ rumahku," ucap Tasya memberi tahu letak rumahnya.
Sekitar 15 menit, mereka berdua sudah sampai di depan rumah yang dimaksud oleh Tasya.
"Apa itu rumah kamu?" tanya Farel saat matanya menangkap rumah yang di pinggir jalan dengan pagar yang cukup tinggi.
"Tepatnya rumah majikan saya, karena di sini saya hanya seorang pembantu." Jawab Tasya entah apa maksudnya sampai ia berbohong dan mengatakan jika dirinya hanya seorang pembantu.
“Tidak masalah kalau memang betul,” ujar Farel yang tak mempermasalahkan status Tasya yang mengaku hanya seorang babu.
“Terimakasih untuk tumpangannya. Kalau begitu saya masuk dulu karena takut majikan saya menunggu,” ujar Tasya pada Farel.
“Tentu, kalau begitu masuklah. Lain kali kita ketemu lagi,” kata Farel dengan melambaikan tangannya. Sedangkan Tasya hanya tersenyum kecut, saat ia pamit untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Huff.
“Sangat melelahkan, coba saja apa dengan diriku mengaku pembantu masih adakah yang menerima keadaanku, berharapnya sih dia bukan lelaki yang seperti itu.” Dengan tangan yang diletakkan di lutut Tasya berbicara sendiri.
Drrrt.
Drrrt.
Terdengar suara getaran ponsel. Lantas Tasya buru-buru mengambilnya dan segera membuka.
“Bian, sejak kapan namanya berubah menjadi my husband? Apa jangan-jangan lelaki itu yang mengganti saat ku tertidur?” Tasya pun bertanya-tanya karena nama Bian beubah tanpa ia merubahnya.
Lalu ia mencoba untuk membuka pesan singkat yang di kirim oleh Bian dan membacanya.
“Tumben orang ini minta dimasakin, dan pulang untuk makan siang?” Tasya mengerutkan keningnya pasalnya ini adalah bulan ke satu pernikahannya dengan Bian, dan ini juga kali pertamanya lelaki itu meminta dirinya memasak untuk makan siang.
“Tasya tidak membalas dan hanya membukanya, namun ia tetap membuat masakan untuk sang suami karena sekarang sudah jam 10, jadi ia memilih menu makan siang yang akan menjadi santapan Bian.
Setelah berpikir ia pun memutuskan untuk membuat sayur sup daging perkedel udang goreng dan sambel kecap, tidak lupa kerupuk udang sebagai pelengkapnya.
Satu jam setelah berkutat di dapur, membuatnya sedikit lelah. Sekarang ia akan beristirahat sejenak karena hari ini tubuhnya benar-benar lelah.
“Hoam, ngantuk sepertinya tidur enak.”
Akhirnya Tasya pun tidur di sofa depan TV, mengabaikan pesan masuk dan beberapa panggilan telepon. Tasya sengaja tak memberi suara pada ponselnya, karena itu sangat mengganggunya. Jadi, ia tidak akan tahu jika ponselnya dengan merek samsulwati penuh dengan nama seseorang.
Sedangkan di tempat lain.
“Dasar gadis mercon, dimana sih dia sampai-sampai mengabaikan panggilan teleponku.”
“Apa dia sengaja membuatku marah. Lihat saja jika saya sudah berada di rumah,” gerutu Bian karena merasa jika Tasya sengaja mengabaikan penggilan dan pesan masuk darinya.
“Sedang apa sih gadis itu sebenernya.” Abian diam-diam memikirkan Tasya dan memikirkan sosok wanita tersebut. Dengan seulas senyuman ia terus saja bertanya-tanya kalau perempuan itu sedang melakukan apa di rumah sendiri.
“Lebih baik saya segera pulang, untuk memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.”
Setelah itu Bian benar-benar merapikan mejanya dan langsung keluar dari ruangan, tanpa memberi tahu siapapun.
Setengah jam kemudian, saat Bian sudah berada di rumah dan memarkirkan mobilnya.
Ceklek.
__ADS_1
“Astaga … Pantas saja dasar mulut mercon,”