Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
6. selalu berusaha tersenyum


__ADS_3

Setelah membereskan semuanya. Tasya pun keluar dari dalam toko. Karena sebentar lagi dirinya akan bekerja untuk yang kedua kalinya.


"Syah, apa kamu langsung kembali bekerja lagi." Saat Sonia melihat Tasya keluar dari toko, buru-buru Sonia menegurnya.


"Menurut kamu." Tasya berhenti sejenak untuk menjawab ucapan dari Sonia.


"Siapa tahu kamu mau ngopi bareng aku, lagi bete nih." Sonia pun ingin sekali mengajak Tasya untuk sekedar ngobrol, walau itu hanya sebentar.


Tasya pun diam sejenak untuk berpikir akan tawaran yang di berikan oleh Sonia.


Setelah menimang-nimang akhirnya Tasya pun bersedia untuk menikmati, lelahnya sebentar.


"Baiklah aku mau," ujar tasya yang akhirnya setuju untuk pergi ke cafe.


Toko roti yang memperkerjakan tasya dan yaang lain. Masing-masing mempunyai bagian sendiri untuk para karyawan.


Tasya dan ke-4 temannya mendapat bagian pagi karena bagian sore dan malam ada lima lagi karyawan.


Jadi, semua yang masuk pagi jika sudah pukul empat, maka semuanya akan bersiap-siap pulang.


Tidak berapa lama keduanya sudah berada di cafe. Di mana mereka tengah mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.


"Syah, apa kamu tidak merasa lelah jika harus bekerja lagi?" Sonia menatap lekat ke arah Tasya. Karena ia sangat ingin tahu dengan jawaban yang di berikan oleh temannya itu.


Untuk beberapa detik. Tasya diam dan tak berkutik sama sekali saat. Sebuah ucapan tertuju kepadanya.


Lelah, tentu.


Capek, itu pasti. namun Tasya mencoba menjadi wanita yang tangguh. Dengan keadaan yang sekarang ia terima.


"Robot saja punya rasa lelah. Lantas bagaimana dengan diriku," ujar Tasya dengan wajah yang tak sekalipun memperlihatkan akan rasa kesal itu.


"Jika kamu merasa seperti itu, teru mengapa terus bekerja?" pertanyaan apa itu pikir tasya dengan rasa kesal.


"Tentunya keadaan yang membuat aku seperti ini. Jika pun, kamu menjadi aku maka apa yang aku alami mak kamu pun bisa merasakannya.


Bukan alasan ingin kaya yang selalu dikatakan oleh tasya. Namun, kenyataan pahit yang membuat dirinya harus mencari tambahan pekerjaan lagi.


Tasya ingin membantu mengobatan pakde Harun. Pak Harun harus sering kontrol untuk cuci darah. Itu karena Tasya membutuhkan uang banyak demi bisa mempertahan nyawa pak harun dan pasti. Mempertahankan perutnya agar tetap terisi dengan baik.


Meski pak Harun bekerja di ladang. Itu pun tidak boleh terlalu lama. Atau bisa mengakibatkan kelelahan, yang membuat keadaannya menjadi drop.

__ADS_1


"Aku bangga dengan kamu, meski di usiamu masih cukup mudah. Namun, rupanya alam sudah memberi pekerjaan yang berat untuk kamu."


"Aku pun tidak masalah dengan semua itu karena bagiku. Adanya orang-orang yang memberikanku tempat berteduh. Bisa merasakan hidup lebih lama lagi, aku pun tak merasa keberatan." Jawaban Tasya membuat Sonia berpikir keras untuk semuanya.


"Aku berdoa supaya semua masalah cepat selesai." Sonia menggenggam erat tangan Tasya untuk menyemangatinya. Ia tahu betul akan hidup Tasya.


"Amin, makasih ya Son."


"Kamu benar-benar menyebalkan!" Sonia merengut karena kesal karena nama panggilannya, tidak sesuai dengan keinginannya.


"Sudah lah. Aku sudah nyaman dengan panggilan itu," kata Tasya dengan senyuman menggoda.


Disaat keduanya sedang menikmati minuman. Dari kejauhan terlihat sosok yang dikenal oleh Tasya.


Dalam hati Tasya berharap jika orang itu tidak akan membuat masalah lagi dengannya.


Sejenak Tasya tidak memperdulikan Tia yang terlihat menghampirinya.


"Apa kamu kenal, Syah?" Tanya Sonia. Namun, Tasya tak ada respon.


"Eh ada orang miskin ada di sini. mampu ya bayar minum. Mahal-mahal lho minuman di sini," ledek Tia pada Tasya. Dengan suara sombongnya ia berkata seakan-akan dirinya lah yang paling mampu.


"Orang kere saja belagu," ucap Tia dengan wajah kesalnya.


"Memang kalau aku kere kenapa? Apa ada masalah buat kamu tidak kan." Tasya tidak sekalipun melihat ke arah Tia dan ucapannya benar-benar mematikan lawan.


"Dasar bedebah." Setelah berucap Tia pun langsung pergi. Dan itu membuat Tasya tersenyum puas.


"Itu siapa Syah?" Pertanyaan untuk yang kedua kalinya di ajukan oleh Sonia.


"Tia." Jawab Tasya.


"Siapanya kamu?" Rasa penasaran pun tiba-tiba muncul dan itu membuat Tia terus bertanya.


"Nggak perlu tahu itu siapa! Yang jelas orang itu tidaklah penting dari hidupku," ucap Tasya dengan mengepalkan kedua tangannya. Dan itu bisa dilihat dari mata Sonia.


Di rasa jam sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit.


Tasya pamit pada Sonia untuk bekerja lagi. Karena waktu menunjukkan jika Tasya harus kembali bekerja lagi, untuk mencari tambahan.


"Udah jam lima. Aku mau pamit ya," ujar Tasya pada Sonia.

__ADS_1


"Iya, kamu hati-hati dan tetap semangat."


Setelah itu Tasya langsung menuju ke warung tempat dirinya mencari nafkah lagi.


Setengah jam kemudian.


"Syah, ada pesanan banyak. Kamu siap-siap buat bikin lalapannya ya," ucap pak Sobri sesaat setelah Tasya datang dan baru turun dari motornya juga.


"Asiap, Pak." Tasya tersenyum dan langsung memulai pekerjaannya.


Dengan lihai dan sangat cekatan. Tasya menyiapkan semuanya dan dalam satu jam. 20 porsi sudah siap.


"Syah, udah?" Pak Sobri pun menghampiri Tasya yang ada di rombong.


"Udah dong Pak, Tasya gitu lho." Dengan bangga Tasya mengacungi jempol dirinya sendiri.


"Wah, bagus. Pasti entar mertuamu sayang banget dah sama kamu."


"Alah."


Tasya bukan menjawab malah mendengus kesal karena ucapan pak Sobri.


"Mau di sayang bagaimana? Orang suka saja kagak," gerutu Tasya dalam hati.


"Kenapa itu muka! Seperti kain lap saja." Pak Sobri yang melihat seketika menyenggol bahu Tasya dan bertanya mengapa wajahnya terlihat kusut.


"Alah Pak Sobri kagak perlu tahu. Rahasia," ucap Tasya dengan menyengir kuda.


"Eh dasar, kamu tuh ya!" Pak Sobri menggerutu karena Tasya tidak mau bercerita sedikitpun kepadanya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan. Kini Tasya makan karena sudah tak terlihat pembeli. Jadi, sedikit ada waktu.


Pukul sembilan malam semua dagangan sudah habis dan kini saatnya Tasya membereskan peralatan sebelum, di tinggal pulang.


"syah, ini bayaran kamu ya. Terimakasih sudah bantu-batu di sini," ucap pak Sobri memberikan sebuah amplop mata Tasya.


"Makasih Pak Sobri." Lalu Tasya pun meraih apa yang di berikan padanya dengan penuh kebahagiaan.


Sedikit gembira karena hari ini Tasya gajian dan itu artinya ia bisa memberikannya pada bude nya, agar bisa di gunakan untuk berobat pakde nya


Dengan rasa bahagia Tasya buru-membereskan semuanya agar segera cepat pulang karena ia juga merasa sudah lelah, dengan semua pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2