
Tidak ada apa-apa," ujar Abian dengan rasa malu yang ia miliki sekarang.
"Masih mau marah?" tanya Tasya dengan mata membulat, menatap jenuh pada orang yang katanya lelaki itu adalah suaminya.
"Maaf."
"Cih, menyebalkan." tasya berdecih karena benar-benar di uji kesabarannya oleh lelaki itu.
"Saya kan sudah meminta maaf," ujar Abian. Lalu dirinya meletakkan bokongnya di kursi samping Tasya.
Sedangkan Tasya masih menatap jengah pada lelaki yang ada di sampingnya. Menyuruh seenaknya dan berkata semaunya juga. Sungguh lengkap nasibnya sekarang, entah kehidupan seperti apa kelanjutan hidupnya dengan lelaki yang sama sekali tidak di cintainya.
"Bisa buatkan saya kopi," pinta Bian.
Tasya tidak menjawab melainkan langsung berdiri dan membuatkan kopi pesanan suaminya itu.
Tidak berapa lama kopi pun sudah tersaji, sebetulnya Tasya kesal di akibatkan karena lapar juga. Sedari kemarin perutnya belum terisi oleh makanan apapun, di tambah kelakuan suami menyebalkannya itu.
"Nikmat," gumam Abian.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Tasya menatap malas ke arah Abian.
"Telingamu saja yang bermasalah." Jawab Bian dengan cepat.
"Menjengkelkan," seru Tasya.
"Sudah marahnya. Kalau sudah buruan siap-siap kita akan sarapan di luar," kata Abian dengan tangan yang masih memegang cangkir.
Dengan wajah berbinar Tasya langsung berjalan menuju kamarnya umtuk mengganti pakaiannya. Setelah beberapa saat kemudian Tasya pun turun.
"Kamu ingin merampok apa ingin makan?" tanya Bian dengan tatapan tidak percaya.
"Apa aku harus menggantinya dengan gaun, lalu di sini terdapat belahan."
"Stop!"
"Jangan membuat dosa para lelaki hanya karena melihat bentuk tubuh kamu yang krempeng," ujar Abian lagi.
Sedangkan Tasya mendelikkan matanya, kenapa jadi wanita yang dipersalahkan, bukannya mata lelaki saja yang tidak bisa menjaga pandangannya?
__ADS_1
"Jangan melamun. Apa dengan begitu perut akan kenyang," ujar Abian yang langsung berdiri dan melangkah keluar.
"Dasar pria menyebalkan," umpat Tasya dengan langkah kaki mengikuti Bian.
Di luar.
Mereka berdua turun dari mobil dan hendak membeli sarapan. Hari sudah siang namun keduanya belum juga mengisi perutnya dengan sesuap nasi.
"Ish, menyebalkan." Tasya melihat ada dua orang yang amat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan mantan menyakitkannya itu dan istri menyebalkan,
"Kenapa dengan mukamu itu mulut mercon?" tanya Bian dengan wajah penasaran.
"Ada mantan, dan mantan saudara." Jawab Tasya dengan nafas berat. Ia tahu betul tiap kali bertemu makan masalah yang akan terjadi, dan itu pun sudah beberapa kali terjadi hingga membuat kesabarannya habis.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Bian.
Terlihat dua manusia yang sangat menyebalkan itu menghamiri Tasya, entah kenapa mereka selalu mengusik ketenangannya. Padahal Tasya tidak pernah sekalipun mengusik mereka yang sudah zhalim padanya.
"Wah … Hebat juga ya kamu, gagal sama suamiku eh sekarang jadi simpanan pria kaya, tapi sayang gak masuk dalam kategori." Tia datang membawa senyuman mengejek membuat Tasa geram karena tak pernah menghargai seseorang dengan kekurangan yang dimiliki oleh oran lain.
"Itu urusanku dan bukan urusan kamu! Ingat, kita bukan siapa-siapa jadi berhentilah menjadi benalu dalam jalan hidupku."
"Mau itu simpanan atau gak itu bukan urusan kamu," sergah Tasya pada Tia. Sedangkan dua pria saling diam dan tidak ingin ikut serta dalam adu mulut dua wanita tersebut. Akan tetapi, terlihat dari raut wajah Aldo yang mulai gusar karena itu semua termasuk, membuat kesalahan besar pada lelaki yang dianggap simpanan oleh Tia.
Ekhem.
Satu deheman membuat Aldo menyenggol sang istri, namun tetap saja tidak dihiraukan olehnya.
Ekhem.
Untuk kedua kalinya Abian berdehem, dan Aldo pun langsung menarik mundur Tia. Agar istrinya itu tidak lagi mencari masalah dengan Tasya.
Sedangkan Tasya dan Tia masih tetap bersilat lidah, keduanya tidak ada yang mau saling mengalah.
"Do, bisakah kamu membawa kuman ini dari hadapanku. Aku sangat muak melihat tingkahnya!" seru Tasya dengan menuding ke arah orang yang dimaksud.
"Apa kamu bilang, kuman. Kamu memang dasar anak pembawa sial!" serang balik Tia yang tak terima dirinya dihina dan dibilang kuman oleh Tasya.
"Apa tamparan itu belum cukup, sampai mulut bau comberan itu terus berkoar-koar di depanku." Tasya benar-benar hilang kendi untuk saat ini, dan tangannya pun sudah terkepal karena menahan amarah yang kian menggebu.
__ADS_1
"Ti, sudahlah. Jangan mencari gara-gara dengan Tasya jika kamu tidak ingin babak belur karenanya," ucap Aldo pada sang istri, namun lagi-lagi ucapannya sama sekali tidak dihiraukan olehnya.
"Jangan berisik dan diamlah," bentak Tia pada Aldo.
"Hye ja*l*ng jangan bangga dengan statusmu sekarang. Ingat, aku akan mengatakan semua ini pada bude Rumi, agar tahu kelakuan kamu."
Hahahaha.
Dengan bangganya Tia berkata, seolah-olah apa yang dikatakannya itu semua adalah fakta.
Tasya pun membalas dengan senyuman mengejek.
Abian dengan mata yang berapi-apa sudah siap mengeluarkan kobaran asap yang ia tahan sedari tadi, tapi kali ini dirinya tidak bisa diam saat wanitanya di cap seolah-olah menang wanita penggoda.
"Al, besok jangan lagi datang ke kantor. Untuk pesangon akan saya berikan pada pihak HRD, ingat untuk tidak lagi ke kantor."
"Sayang, suamimu ini sudah lapar. Apa kamu ingin membuat diriku mati kelaparan hanya karena wanita tidak penting ini," ucap Abian dengan merangkul pinggang Tasya, dan seakan Tasya tahu apa yang harus dilakukannya juga. Bermain sandiwara itu yang harus diperankan olehnya.
"Tapi Pak, ini kan bukan masalah serius, untuk istri saya nanti sampai rumah saya akan memberikan hukuman." Aldo memohon agar tidak dipecat oleh Bian.
"Tidak ada negosiasi. Istrimu sudah memaki istri saya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, jadi terima semua ini."
"Sayang, katanya kamu lapar yuk makan."
"Apa kamu sedang menggodaku, jika seperti ini rasanya ingin sekali melahapmu di atas kasur sekarang juga." Dengan senyuman yang tersungging menghiasi sudut bibir Bian berkata.
"Tentu dong, ya sudah yuk pulang aku akan membuatmu mabuk dan tak bisa lari dariku." Jawab Tasya yang ikut larut dalam sandiwara tersebut. Sedangkan Aldo langsung memilih pergi meninggalkan Tia, karena ulahnya ia dipecat dengan hormat.
"Aldo tunggu!" Tia berteriak sekeras apapun namun Aldo tidak menanggapi.
"Aldo, kenapa kamu ninggalin aku sih." Tia pun berusaha mengejar sang suami hingga keduanya tak terlihat dari pandangan Tasya.
"Mampus, mampus gak kalian." Tasya berjingrak gembira karena Aldo dan Tia pasti berantem, sesampainya di rumah.
"Bisa kita pulang, katanya kamu ingin membuatku mabuk."
Uhuk.
Uhuk.
__ADS_1