Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
25. KETIKA FISIK YANG UTAMA


__ADS_3

Seminggu sudah Tasya menjadi istri dari seorang yang bernama Abian.


Seperti hari-hari sebelumnya Tasya akan melakukan aktifitas lagi, dengan memulai bekerja di toko roti milik mama mertuanya.


Tapi sebelum itu Tasya akan membuatkan sarapan untuk suami menyebalkan nya itu. Di dapur dengan peralatan yang sudah terpampang ia akan berperang dengan alat-alat tersebut.


"Buruan saya sudah kelaparan hanya karena menunggu kamu." Bian berbicara dengan bokong yang sudah menduduki kursi meja makan.


"Jangan bawel, belum juga bangkotan kan nunggunya." Jawab Tasya dengan santai.


Abian membulatkan matanya, karena istrinya pintar dalam menjawab, selain itu pintar dalam membuat lawannya mati kutu.


"Kalau kelamaan ya bisa jadi bangkotan, memangnya kamu mau melihat diriku bangkotan?"


"Eh, aku tidak peduli karena kalau kamu sudah bangkotan dan tua. Maka di luaran sana ada yang glowing," ucap Tasya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Benar-benar kamu ya. Gini-gini saya suami kamu," ujar Bian.


"Suami sementara kan. Nanti kalau cerai gak bakal jadi suamiku lagi," ucap Tasya dengan senyuman yang tercetak di bibirnya.


Abian diam dan tidak ingin menanggapi istri tengilnya itu lagi, sebetulnya apa yang dikatakan olehnya adalah benar. Setelah warisan sang mama berada di genggamannya, disitulah ia akan menceraikan Tasya karena sandiwaranya telah usai.


"Ini sarapan lah dan ingat jangan menuntut." Tasya meletakkan sepiring nasi dengan di temani omelet, tidak lupa segelas teh request suaminya itu.


Keduanya pun sarapan dengan hikmat dan untuk saat ini tidak ada percakapan. Selang berapa menit Abian pun telah selesai dan menghabiskan semua, yang ada di piringnya.


Tanpa banyak kata Bian langsung membawa tas kerjanya. Tidak ada kata salam atau kata 'Hati-hati' yang terlontar. Semua bak asing namun itulah kenyataannya karena di antara keduanya tidak ada rasa cinta satu sama lain, yang dimiliki oleh Tasya maupun Abian.


Setelah kepergian Abian, Tasya pun ikut keluar rumah dan hendak kembali bekerja. Dirinya pun tidak mungkin terus-terusan mengandalkan suaminya karena ia tahu, bahwa diantara keduanya selang berapa bulan akan berakhir.


Di toko.

__ADS_1


"Syah," seseorang dari lantai atas tengah memanggil dan ia tahu suara itu milik siapa.


"Apa aku telat, tapi sepertinya tidak karena sekarang pun masih jam setengah sembilan." Tasya berkata dalam hati.


"I-ya Bu, ada apa ya memanggil saya?" dengan sedikit risau Tasya bertanya.


Apa ia akan di pecat, atau diberi pangkat lain? Dua-duanya membuat Tasya berpikir, tapi kalau benar-benar di pecat tamatlah riwatnya.


"Ikut ke ruangan saya!" tanpa senyum maupun ekspresi yang tergambar dari wajahnya beliau berkata.


Saat ini hatinya berdekup sangat kencang, mirip-mirip orang yang akan dilamar oleh sang kekasih, namun ini beda.


Tasya pun berusaha kuat untuk melangkahkan kakinya dari satu demi satu anak tangga dan kini sampailah ia di ruang bos nya itu.


"Masuk," titah bu Amira.


"Maaf Bu, apa ada kesalahan yang saya perbuat?" tanya Tasya dengan suara bergetar, seperti terkena guncangan bumi.


"Duh Bu, tolong jangan pecat saya. Saya menikah dengan anak Ibu bukan karena harta! Kalau saya di pecat lantas bagaimana nasib keluarga saya, tolong Bu, pikirkan baik-baik."


Pluk.


"Kenapa Ibu memukul saya?"


"Makanya jangan nyerocos seperti petasan," geram bu Amira karena Tasya tidak berhenti berbicara. Maka dari itu beliau memukulnya dengan buku.


Tasya pun mengelus kepalanya karena pukulan yang diberikan oleh bos datar nya itu.


"Habisnya saya kan takut di pecat," kata Tasya dengan wajah memelas.


"Memangnya siapa yang akan memecat kamu, dasar mantu tidak ada akhlak." Bu Amira dengan nada sedikit kesal pun lantas berkata.

__ADS_1


"Terus itu tadi."


"Makanya jangan main comot saja," sungut bu Amira dengan kepala yang di gelengkan.


"Gini, toko ini ada banyak cabang, rencananya saya ingin pensiun untuk menikmati hari tua saya. Maka dari itu kami saya panggil ke sini untuk membicarakan ini semua," tukas bu Amira panjang lebar.


"Jadi maksud Bos."


"Abian anak saya satu-satunya, dan ada satu anak lagi yang saya angkat sebagai anak. Namun, dia sudah mendapat bagian sendiri. Untuk toko ini saya ingin kamu yang mengelolanya karena usia yang semakin tua membuat tubuh dan otak harus segera di istirahatkan," ucap bu Amira.


"Apa kamu benar-benar mencintai Abian tanpa melihat fisik?" bu Amira menambahkan pertanyaan yang membuat Tasya dilema. Bagaimana tidak untuk ukuran lelaki yang dicari wanita itu harus ideal, tapi di sini sosok Abian yang hanya memiliki tinggi sekitar 150cm, dan lebih Tasya di bandingnya.


Tasya diam sejenak dan mengatur nafasnya karena sekarang dirinya bingung harus menjawab apa? Sungguh pertanyaan yang membuat Tasya semakin terpojok.


Cinta, apa Tasya cinta? Jawabnya tidak! Begitupun dengan sebaliknya, rencana pernikahan yang ia sepakati itu adalah jawaban terbodoh nya.


"Kenapa Bos mertua bertanya seperti itu. Bukankah kalau dua manusia saling memutuskan untuk menikah itu tandanya mereka saling cinta," kata Tasya membeberkan walau ia sendiri adalah sosok wanita golongan munafik.


"Usia Abian sudah 30 tahun, warisan itu hanyalah senjata untuknya jika ia tidak segera menikah maka semua harta akan jatuh di tangan adik angkatnya. Tidak menutup kemungkinan kalau kalian melakukan sandiwara, saya pun sebagai orang tua tunggal berharap tidak ada kebohongan di antara kalian." Saat bu Amira menjelaskan di situlah Tasya mulai merasa bersalah karena sudah berbohong dengan pernikahan ini. Walau itu sah di mata agama dan negara, nyatanya semua itu hanya topeng.


"Boleh saya bertanya, kenapa eum … Itu Mas Abian tidak mau menikah," dengan sedikit ragu Tasya pun bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya.


"Dulu Abian punya kekasih, semua yang wanita itu mau Abian beri dan menuruti semua keinginannya, namun di waktu suami kamu mengajak menikah sebuah penolakan yang membuatnya tak pernah percaya dengan seorang wanita. Hanya karena fisiknya tidak seperti lelaki idaman lain wanita itu dengan terang-terangan mengejek Bian," ujar bu Amira dengan wajah berkaca-kaca mencoba menceritakan apa yang sudah di alami oleh suaminya itu.


"Aish, sungguh malang nian nasibmu." Dalam hati Tasya bergumam.


"Jadi apa kamu betul-betul mencintai Abian, atau hanya sebatas…."


Bu Amira menatap Tasya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Menanti jawaban dari mulut dari karyawan sekaligus menantunya, beliau tidak masalah jika hanya sebatas karyawan yang dipilih untuk dijadikan istri untuk anaknya. Akan tetapi, jawaban itu belum juga keluar.


"Sa-saya ... Saya eum itu,"

__ADS_1


__ADS_2