
"Surya sialan," umpat Bian dengan rasa kesalnya ia tetap membukakan pintu gerbang untuk temannya itu walau dalam hatinya terus mengumpat.
"Mau apa kamu pagi-pagi sudah ke sini. Maaf saya tidak punya makanan," kata Abian dengan wajah getirnya saat menatap Surya, layaknya seorang musuh.
"Memangnya siapa yang meminta makan sama kamu, apa kamu pikir saya tidak mampu membeli makanan." Surya pun membalas ucapan Abian yang tak kalah sengit, apa hanya karena pagi-pagi sudah datang ke rumahnya, dan Abian mengira ia sedang mencari sarapan, itu sangat menyedihkan pikir Surya.
"Lantas mau apa kamu ke sini?" tanya Abian lagi pada Surya.
"Lama tidak bertemu makanya pengen main ke sini," tukas Surya.
"Apa itu dilarang, kalau memang iya, maka aku akan pulang." Surya pun sudah bersiap untuk melangkah keluar. Namun, dengan tiba-tiba.
"Tunggu!" teriak Abian.
"Tentu saja. Kita kan sudah lama tidak bertemu, jadi tidak ada yang salah." balas Abian. Lalu mereka berdua berpelukan.
"Bagaimana kabar kamu?" Abian bertanya dengan rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu.
"Baik, seperti yang kamu lihat. Oh ya, apa keponakanku sudah keluar?" tanya Surya.
Pletak.
__ADS_1
"Hye, kenapa kamu malah menyentilku bodoh." Surya mendesis karena baru saja mendapatkan sentilan.
"Itu karena mulutmu yang sangat membuatku merasa terzolimi." Jawab Abian dengan sedikit kesal.
Bagaimana bisa Abian punya anak. Merasakan nikmatnya duren saja baru satu bulan ini. Padahal usia pernikahannya sudah menginjak tujuh bulan.
"Astaga," Abian menepuk jidatnya kala mengingat sesuatu yang masih berada di atas meja.
"Kamu masuklah. Saya ada yang kelupaan jika benar-benar lupa maka tamat sudah riwayat ku," ucap Abian, meninggal Surya dengan sedikit berlari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di tempat lain. Tepatnya di rumah Ita bersama suamiya, Aldo.
"Apa kamu tidak bisa diam. Aku muak dengan tingkahmu, dan tentunya sangat menyesal karena sudah membuang berlian hanya demi kamu, yang cuma secuil batu di jalanan." Aldo yang sudah tidak tahan akhirnya mengeluarkan apa yang selama ini di pendamnya.
Aldo betul-betul muak dengan segala tingkah istrinya yang suka semaunya. Tanpa melihat keadaan keuangannya seperti apa? Yang ada di pikiran Ita hanya kesenangan saja tanpa peduli dirinya.
"Kamu berani membentakku," kata Ita.
"Kenapa tidak. Kalau kamu seperti ini terus maka aku akan benar-benar mengembalikanmu pada orang tuamu. Paham," ancam Aldo pada Ita yang sekarang langsung terdiam, saat mendapati bentakan dari sang suami.
__ADS_1
Sungguh Aldo sekarang menyesal yang sudah meninggalkan Tasya, hanya demi perjodohan dari orang tuanya.
Andaikan dulu ia bisa menolak. Mungkin sekarang dirinya dan Tasya sudah hidup bahagia.
Benar apa yang dikatakan semua orang. Bahwa penyesalan selalu di belakang.
Untuk sekarang Aldo sudah lelah dengan sikap Ita yang sangat keterlaluan. Seenaknya sendiri dan semakin menjadi.
"Kenapa kamu diam. Mana uangnya?" Ita terus menanyakan soal uang dan uang lagi dan itu membuatnya sangat pusing.
"Apa tidak bisa kamu sehari tanpa uang, dan sepertinya kamu mencintai uangku bukan diriku." Aldo memberikan ucapan yang sangat menohok. Hingga membuat Ita gelagapan.
"Jadi benar kan apa yang aku bilang tadi, kalau kamu mencintai hartaku bukan diriku." Aldo mengulang lagi ucapannya karena selama ini itulah yang dirasakan oleh Aldo.
"Hidup butuh uang. Mana mungkin aku bisa pergi darinya," jawab Ita dengan santainya.
"Apa kamu lupa jika aku sudah tidak punya pekerjaan," ujar Aldo dengan rasa kesal.
"Aku tidak peduli."
"Sepertinya aku harus melakukannya, karena aku sudah sangat lelah dengan semuanya." Dalam hati Aldo sudah memantapkan hatinya, untuk mengakhiri segalanya yang sudah tidak sanggup dilaluinya.
__ADS_1
"Kita secepatnya bercerai."