Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
24. UCAPANMU MEMBUATKU BERGIDIK


__ADS_3

Tasya langsung mendelik karena ucapan Abian. Bukankah dia bercanda dan diikuti olehnya juga, lantas mengapa kata-katanya membuatnya langsung merinding.


" Jangan mimpi! Aku lapar dan jangan banyak bicara," ketus Tasya lalu dirinya masuk ke dalam rumah makan yang ada di seberang jalan.


"Hye bukannya kamu sendiri yang bilang kalau ingin membuat mabuk diriku hingga tidak berdaya," kata Abian yang masih mengingatkan akan kata-kata tersebut.


"Nyebur saja kamu di got," geram Tasya pada Abian.


Sedangkan Abian merasa puas karena berhasil membuat Tasya kesal karena ucapan tersebut. Dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya ia pun ikut melangkah ke arah pintu rumah makan.


Kini keduanya duduk saling berhadapan. Tasya menatap jengah ke arah sang suami karena Bian terus saja menggoda dan tidak berhenti untuk membuatnya kesal.


Sstt.


Sstt.


Tasya mendongakkan kepalanya dan sedetik menatap wajah sang suami.


"Jangan lupa nanti pakai baju yang mirip saringan tahu, agar saya puas."


Uhuk.


Uhuk.


Seketika Tasya tersedak dengan ucapan konyol Abian, oh tidak baju mirip saringan tahu? Apa dia tidak bisa mengatakan kalau itu kostum saras 008, yang bernama lengerie.


Tasya tidak menghiraukannya namun ia lebih fokus pada makanan yang ada di depannya.


"Berbusa-berbusa dah itu mulut. Sekalian banyakin busanya biar aku tidak beli Rinso lagi, kan lumayan tuh." Tasya dengan ucapan konyolnya yang ada di dalam hatinya membuat ia terus saja, memikirkan hal-hal yang aneh.


Tidak terasa makanan yang ada di depan mereka kini habis dan tandas oleh keduanya.


"Kamu yang ngajakin makan berarti kamu juga yang membayar," ucap Tasya.


"Duh kenyang nya perutku," gumam Tasya dengan hati gembira, karena baru kali ini dirinya makan makanan yang nikmat dan lezat, seperti sekarang ini.


"Mulut mercon, kamu yang menghabiskan kenapa saya yang membayar."


"Kamu kan suami aku, jadi wajar dong." Jawab Tasya dengan bangga.


Kini Abian langsung diam dengan tangan mengepal, bisa-bisanya di saat seperti ini baru diakui suami. Kalau saja di rumah apa masih bisa mungkin terjadi? Ah rasanya tidak. Menurut pikiran Abian Tasya hanya memanfaatkan situasi saja untuk memenuhi keinginannya.


Saat Abian membayar ternyata Tasya sudah berada di mobil, bukankah itu sangat menyebalkan.


Di mobil.

__ADS_1


Mereka saling diam dan tidak ada satu patah pun yang keluar dari bibir masing-masing. Sepertinya mereka kekenyangan hingga tak mampu walau hanya sekedar bertegur sapa.


Tidak begitu lama sampailah mereka di rumah.


Meski keduanya masuk, tetap saja mereka bak orang bisu karena masih sama-sama berdiam.


"Kenapa berasa jadi kek di kuburan ya, sepi amat." Batin Tasya sesekali menatap ke arah sudut ruangan.


"Kenapa jadi kikuk gini. Lalu saya kenapa berasa oon," ucap Abian dalam hati.


"Ada yang ingin ku bicarakan," ucap mereka serempak.


"Kenapa ikutan sih," sungut Tasya.


"Kamu saja yang ikut-ikutan," balas Bian.


"Ya sudah kamu duluan," kata Tasya.


"Kamu saja yang mengatakannya dulu," kata Bian menimpali.


"Kamu."


"Kamu."


"Kamu."


"Kamu."


"Apa Sih mau kamu itu, dari tadi ngajakin gelut mulu!" ucap Tasya kesal karena dari tadi hanya perdebatan yang ada.


"Baik, sekarang aku yang akan bertanya duluan."


"Kenapa Aldo takut saat kamu memecatnya?" tanya Tasya dengan wajah serius.


"Oh itu, biasa bawahan yang kurang ajar karena istrinya sudah menghina istriku, maka jalan satu-satunya ya memecatnya." Jawab Abian dengan santai tak lupa rokok yang berada di mulutnya, mengeluarkan kepulan asap yang dibuat membentuk lingkaran.


"Ja-jadi Aldo itu karyawan kamu?" tanya Tasya yang masih tidak percaya dengan semua itu.


"Apa saya terlihat seperti seseorang pembohong?" serang balik Abian karena rupanya Tasya meragukannya.


"Bu-kan, bukan begitu. Hanya saja kenapa bisa kebetulan dan apa kamu tidak bisa melihat tampang mereka seperti kepiting di kres, kres itu."


Hahahaha.


Mereka berdua tertawa lepas dan melupakan permusuhan diantaranya untuk sekali saja. Akan tetapi, entah jika mereka ingat bisa dipastikan kalau akan perang dunia lagi. Seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pukul delapan malam. Tasya dan Abian memutuskan makan di luar karena kulkas masih luas karena tak ada satupun bahan makanan, yang bisa diolah untuk makan makan.


"Mulut mercon, kamu hari ini masih bisa menikmati makanan luar. Besok kamu waktunya untuk masak mengerti," ucap Abian memandang wajah Tasya untuk sesaat.


"Asal ada barang semua beres, lagian nyuruh masak tapi gak di kasih uang belanja. Cih, sangat tidak berkemanusiaan." Tasya terus saja berceloteh hingga membuat Abian tersadar, kalau dirinya lupa untuk memberikan nafkah dan untuk kebutuhan lain.


"Kamu minta?" ujar Bian dengan wajah bodohnya.


"Terus aku harus bilang wow gitu, kali saja anak orang kagak dikasih makan." Jawaban Tasya sontak membuat Abian menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dirinya menikahi perempuan bar-bar dan bermulut mercon pula.


"Ck … Ck … Menyebalkan," Bian berdecak sembari merogoh saku celananya untuk mengambil dompet.


"Ini, itu ada uang lima juta. Tolong cukupkan sampai tahun depan," kata Abian sembari menyodorkan ATM, pada Tasya.


"Kenapa tidak sekalian sampai tahun 2026, bukankah akan bertambah baik karena uang mu nantinya akan menjadi uang bersejarah." Tasya berkata sembari membolak-balikkan kartu penyimpan uang tersebut.


"Wah … boleh juga, sejarahnya tentang apa?"


"Masuk nominasi tahun bersejarah yang diberikan orang pelit." Jawab Tasya dengan suara tawa yang mengejek.


"Kau…."


"Apa! Ingat, orang pelit maka kuburannya akan…."


"Sempit," sahut Abian dengan cepat.


"Nah itu kamu pintar. Apa kamu masih menyuruhku untuk menjadikan uang ini sampai tahun depan," kata Tasya dengan menaikkan kedua alisnya.


"Kalau begitu tidak jadi, meskipun kamu menghabiskannya sekejap pun saya tidak masalah karena saya orang kaya."


"Dasar mulut mercon, bisa saja membuat orang mati kutu." Batin Abian dengan menahan kekesalan.


"Kamu sudah dapat hakmu bukan, sekarang giliranku yang meminta hakku." Abian memberikan senyuman menyingrai dan seketika Tasya di buat bergidik.


"Hak apa dulu nih," ujar Tasya dengan tatapan menyelidik. Walau sebetulnya ia sedikit takut.


"Jangan mesum istri cerewetku, hak bukan hanya di atas ranjang saja. Akan tetapi, bisa dilakukan dengan memasak atau mungkin membuatkan saya kopi. Apa jangan-jangan kamu yang menginginkannya ya," ujar Abian dengan tampang mengejek karena menurutnya Tasya itu sosok, berotak mesum.


"Si-apa yang mesum." Seketika Tasya mendelik karena lelaki itu berani-beraninya mengatakan kalau dirinya itu berotak mesum.


"Jangan melamun dan lakukan tugasmu untuk membuatkan diriku kopi," titah Abian pads Tasya.


"Iya, iya. Baiklah tunggu sebentar aku akan membuatkannya," kata Tasya. Lalu langkahnya langsung mengayun ke arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2