Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
50. MALAM YANG MEMBUAT MERIANG


__ADS_3

"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Tasya pada sang suami.


"Ingin mempunyai anak," jawab Abian dengan enteng.


"Astaga, bukan itu yang ingin aku bicarakan." Tasya langsung menepuk jidatnya, karena suaminya bisa-bisanya lang berucap seperti itu.


"Kamu tanya, ya kan saya jawab." Ucapan Abian membuat Tasya merasakan denyutan di kepalanya.


"Kamu ini benar-benar ya. Otak isinya anak mulu," gerutu Tasya pada Bian karena sedari kemarin anak dan yang di bahas. Sedangkan buka segel saja belum, terus bagaimana caranya bisa punya anak.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawab Tasya dengan malas.


"Jangan bilang kalau otakmu sedang berkelana," ujar Abian dengan nada menggoda.


"Aish, kamu ya. Jangan sok tau dengan apa yang aku pikirkan," kata Tasya dengan nada mengejek.


"Saya memang tahu apa yang ada di otak kamu!"


"Memangnya apa?" Tasya melirik sekilas ke arah Bian, karena ia tidak yakin dengan tebakan dari suaminya.


"Baik. Aku akan menebak, dan jika benar dengan tebakanku. Maka kamu harus memberiku hadiah," ujar Abian dengan penuh keyakinan


"Ok, deal." Dengan cepat Tasya langsung menerima tantangan dari Bian, tanpa bertanya soal hadiah apa yang diminta.


"Kamu sedang berpikir kan, bagaimana caranya bisa punya anak. Sedangkan kita belum melakukan pemanasan di atas ranjang," ujar Abian dengan diiringi sebuah senyuman yang membawanya menuju kemenangan.


Glek.


"Bagaimana dia tahu dengan apa yang aku pikirkan," ujar Tasya dalam hati dan sekarang dirinya merasa jika sudah menikah dengan para normal.


Abian yang melihat wajah bingung dan kegugupan dari Tasya, membuatnya bersorak gembira karena ia yakin jika apa yang dikatakannya benar.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kamu dukun cabul."


"Enak saja kalau ngomong. Memangnya tampang sepertiku terlihat seperti dukun?"


"Ya, ya siapa tahu saja." dengan suara sedikit gugup Tasya berucap.


"Sekarang mana hadiahnya," ucap Abian dengan wajah penuh kemenangan.


Tasya yang merasa kalah dan benar-benar terjebak. Akhirnya memilih menyerah karena tidak mau terus menerus dipojokkan oleh Abian.


"Memangnya apa yang mau?" tanya Tasya dengan tatapan malas.


"Sini, saya akan membisikkan sesuatu padamu." Abian lantas menyuruh Tasya untuk mendekat, agar dirinya bisa leluasa untuk membuat Tasya merinding.


"Apa tidak bisa kamu mengatakannya dengan cara seperti ini," kata Tasya.


"Mendekat lah atau saya yang akan ke situ," ancam Abian pada Tasya.


"Aku hanya takut jika kamu akan mengerjaiku," ujar Tasya.


"Tidak akan, karena nantinya kamu akan memberikannya dengan suka rela." Jawab Abian dengan senyuman yang membuat Tasya bergidik ngeri.


"Itu senyuman kenapa lebih horor daripada film demit ya," ujar Tasya dalam hati, dan sepertinya ia juga harus waspada dengan jebakan batman.


Dengan terpaksa Tasya pun akhirnya maju dan langsung duduk di samping sang suami. Sedangkan Abian sudah bersiap untuk membisikkan kata-kata indah pada sang istri. Yang nantinya akan membuat seluruh badannya aduhai karena meriang.


Glek.


Glek.


Suara Tasya menelan ludah hingga terdengar sangat mengerikan. Tatkala sebuah bisikan membuat sekujur tubuhnya merasakan meriang, karena kalimat yang di lontarkan oleh Abian.


Bagaimana tidak meriang karena Abian meminta haknya sebagai seorang suami, dan Tasya pun harus memberikan dan patuh padanya. Lalu menuruti permintaan Abian sebagai seorang istri.

__ADS_1


Tasya sejenak diam. Mengatur deru nafasnya yang semakin cepat, dan semakin tidak karuan.


"Apa aku bisa menolak, karena memang ini adalah haknya. Lalu seluruh tubuhku juga adalah miliknya," ucap Tasya dalam hati. Menyaring apa yang dikatakan oleh Abian, dan semua itu memang benar.


"Bagaimana?" tanya Abian dengan serius serta sebuah tatapan yang mengiba pada sosok sang istri yang masih duduk di sampingnya.


Tasya diam, lalu memejamkan matanya. Tidak berapa lama kemudian Tasya mengangguk, bahwa ia setuju dan memperbolehkan sang suami untuk menikmati tubuhnya.


Saat melihat Tasya mengangguk, Abian tersenyum. Nyatanya Tasya tidak seganas itu saat dirinya meminta haknya.


Sedetik, dua detik, dan seterusnya. Dengan hati yang sudah tidak karuan, perlahan Abian mengecup pucuk kepala Tasya. Lalu beralih di bibirnya yang berwana pink, yang semakin membuat Abian sudah tidak sabar untuk mencicipi kue khas yang rasanya amat nikmat, itu sih bagi orang yang sudah merasakan dan berpengalaman.


Abian mulai melahap bibirnya dan satu tangannya memegang gundukan gunung yang berada di depannya.


Emmmmh.


Tasya melenguh menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Abian.


Keduanya saat ini tengah menikmati sebuah permainan yang diciptakannya sendiri.


Tasya pun ikut terhanyut dengan tanpa sadar ia membalas lu*ma*tan tersebut hingga beberapa menit kemudian permainan dihentikan, untuk mengatur nafasnya.


Tidak menunggu waktu lama. Abian langsung menidurkan Tasya lalu melepas apa yang sedang tertempel di tubuh Istrinya. Hingga sekarang hanya menyisakan kacamata kuda yang selalu di tempatkan di gunung kembar, serta kain yang membentuk segitiga.


Argh...


"Sakit bodoh!" umpat Tasya pada Bian, saat pisang raja milik Abian menerobos masuk dengan paksa.


"Kenapa kamu suka sekali mengataiku bodoh." Abian berdecak kesal karena Tasya terus menyiksanya sebelum pisang jumbo itu masuk, di tambah Tasya sering kali mengatainya bodoh.


"Donat ini lubangnya sangat kecil, kalau kamu paksa yang ada robek."


Abian mengerutkan keningnya, heran dengan sang istri yang selalu berkata di luar pengertiannya.

__ADS_1


__ADS_2