Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
32. SEMUA KARENA BAKSO


__ADS_3

Dugh.


"Aish sial, apa-apaan sih itu orang pakai teriak segala." Saking terkejutnya sampai kepala Tasya kepentok daun pintu. Hanya karena Bian berteriak dan suara itu sudah mirip terompet rusak.


"Ada apa sih teriak-teriak, aku gak budek ya!" sungut Tasya dengan wajah kesal.


"Apa kamu sengaja ingin membuat saya mati." Suara ketus dari bibir Bian, membuat Tasya mengernyitkan dahi.


"Maksudmu apa, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Jawab Tasya dengan kedua tangan yang terangkat.


Kini wajah Bian sudah merah padam karena rasa bakso yang menurutnya sama-sama seperti mercon layaknya yang punya makanan.


Argh.


"Sia*lan kamu." Bian sudah tidak tahan hingga membuat dirinya langsung berlari dan menuju kamar mandi.


"Kenapa dengan lelaki itu? Aneh," gumam Tasya lalu ia pun kembali duduk untuk melanjutkan makannya yang belum tuntas.


"Satu, dua tiga, kenapa tinggal tiga? Harusnya ini bakso ada empat. Terus hilang ke mana yang satu ya?" Tasya pun mencari-cari siapa tahu terjatuh di bawah meja. Ia sudah mencari namun tidak ditemukan baksonya yang terjatuh.


"Jangan-jangan." Dalam hatinya Tasya yakin kalau Bian lah yang memakan, karena sewaktu ditinggal tadi masih ada empat, dan sekarang hanya tersisa tiga.


"Berarti benar dugaanku kalau yang memakan adalah suami menyebalkan itu." Tasya terus saja menggerutu karena kehilangan satu vitamin yang dalamnya berisikan full cabai.


Tidak berapa lama kemudian Bian pun keluar dengan tangan yang memegangi perutnya, rasa mulas akibat bakso mercon yang ia makan dari mangkuk Tasya. Membuatnya harus merasakan sakit perut dan ini sudah kali ketiga ia keluar masuk WC, hingga kedua lututnya merasakan gemetar dan lemas.


"Semua ini karena bakso sialan, andai saja aku menurut dengan peringatan yang diberikan oleh Tasya. Mungkin saja semua ini tidak akan terjadi," ucap Bian dengan kepasrahan karena perutnya benar tak bisa diajak kompromi.


Bian merasakan tenggorokannya tercekat karena tenaganya sudah dihabiskan di dalam kamar mandi, namun anehnya saat Bian mengambil minum lalu sengaja melirik Tasya. Seperti tidak merasakan apa-apa layaknya dirinya yang kepedasan, apa mulut dan perutnya sudah kebal pikirnya.


"Mau lagi?" sadar jika dirinya di pandangi, membuat Tasya menawari sang suami, tepatnya pura-pura menawari.


"Makan saja dan habiskan bersama mangkuknya kalau bisa," ujar Bian lalu segera menghabiskan air putih yang berada di gelas yang saat ini dipegang.

__ADS_1


"Apa menurutmu aku kuda lumping sampai harus memakan mangkuk, kalau pun aku menjadi kudanya bukan mangkuk yang makan. Akan tetapi, orang yang saat ini berada di depanku."


"Memangnya kamu sanggup?"


"Tentu, kenapa tidak." Jawab Tasya lalu ia pun berdiri untuk menaruh mangkuk di wastafel.


Untuk saat ini Bian hanya ingin tidur karena badannya benar-benar lemas dan, ingin segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bian pun sudah berada di kamar satunya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sedangkan Tasya berada di kamar Bian yang kini menjadi kamarnya juga.


Rasa kenyang ditambah mata yang tak bisa dibuka akibat rasa kantuk yang tiba-tiba melanda, membuatnya ikut terlelap dalam buaian alam bawah sadar.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Malam hari saat Tasya ingin memastikan keadaan semua pintu. Samar-samar telinganya mendengarkan suara rintihan dari arah kamar tamu.


"Apa mungkin itu suara Bian? Tumben itu orang?" Tasya bertanya-tanya karena tidak seperti biasanya Bian merintih.


Tasya yang penasaran akhirnya melihat keadaan Bian yang berada di bawah selimut.


"Panas," ucap Tasya saat tangannya diletakkan di kening suaminya.


Tasya buru-buru mengambil air untuk mengompres agar panasnya cepat turun.


"Bisa sakit juga ini orang," gumam Tasya dalam hati.


Tasya pun mulai mengompres kening Bian, dengan telaten ia pun sesering mungkin memeriksa suhu tubuhnya. Tanpa terasa ia pun tertidur dengan keadaan duduk dengan tangan sebagai bantalan kepalanya.


Esok paginya.


Bian sudah terbangun saat merasa di keningnya ada sesuatu, lalu ia pun mengambil.


"Lap, apa Tasya yang mengompres?" rupanya Bian belum sadar kalau di sebelahnya ada Tasya yang masih pulas dengan tidurnya.

__ADS_1


Untuk sesaat mata Bian melirik ke arah samping, dan disitulah ia melihat Tasya.


"Berarti dia dari semalam tidur dengan keadaan seperti ini?" gumamnya saat matanya menangkap keadaan Tasya yang tertidur, dengan keadaan damai.


Tanpa disadarinya kini bibir Bian mengulum senyum. Dibalik mulut yang seperti mercon, terselip rasa tak tega pada sosok Tasya.


โ€œCih, betapa bodohnya lelaki itu sampai tega berkhianat. Nyata-nyata Tasya adalah sosok perempuan yang baik,โ€ gumam Bian saat melihat perempuan yang tengah menggeliat.


Tak ingin mengganggu tidur Tasya, dengan pelan Bian pun bangun dengan amat pelan. Agar tidak membuat wanita itu terusik.


Kini Bian sudah bangun dan segera menuju kamar mandi, karena seluruh badannya terasa seperti gulali. Lengket dan amat tidak nyaman, maka dari itu ia memutuskan untuk mandi. Walau sedikit merasakan kalau badannya belum seluruhnya sehat.


Di ruangan kerjanya, Bian tidak bisa berhenti untuk memikirkan Tasya.


โ€œCantik.โ€ Satu kalimat yang lolos dari bibir Bian. Namun, lagi-lagi harus membuang rasa kagum pada Tasya.


โ€œTuhan jika saja ada perempuan yang mau menerima keadaan yang saat ini, mungkin aku adalah lelaki yang amat bersyukur untuk semua itu.โ€ Sesaat netra nya menatap langit-langit atap dengan cat biru laut.


โ€œSudah Bi, jangan terlalu berharap dengan adanya cinta. Semua wanita sama yang hanya memandang kekayaan dan ketampanan, sedangkan kamu. Kamu hanyalah lelaki dengan ukuran tubuh yang tidak ideal, jadi buanglah jauh-jauh semuanya.โ€ Layaknya orang gila Bian berbicara sendiri, merutuki segala kekurangannya.


Sesungguhnya pun ia tak mau dilahirkan dengan tubuh kecilnya, mungkin seperti itulah jika orang berkata.


150 cm, bukan lah lelaki dambaan para wanita meski ia kaya, mapan tubuh yang atletis. Akan tetapi, tinggi badan yang selalu menghantuinya.


Jika saja Bian sedang merenung akan nasibnya yang selalu menjadi tolak ukur para kaum hawa. Berbeda dengan Tasya yang saat ini sedang celingukan mencari sosok Bian, yang hilang tanpa bekas di kamar tamu.


โ€œKe mana orang itu, apa dia sekarang sedang nuyul di kantor? Tapi kan lelaki itu belum sembuh beneran, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Tentu aku tidak mau repot lagi,โ€ ujarnya seraya langkahnya mencari sosok Bian karena siapa tahu lelaki itu masih ada di rumah.


Tasya mulai mencari di tiap ruangan, di mulai dari kamar mandi, dapur dan halaman depan namun tidak ditemukan.


โ€œTunggu ada satu ruangan yang belum aku cek," gumam Tasya dan segera berjalan ke arah ruangan yang ia maksud.


Saat sudah berada di ruang kerja, tanpa sengaja Tasya mendengar semuanya apa yang dikatakan oleh Bian.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar," batin Tasya.


__ADS_2