Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
26. KETIKA SESEORANG TIDAK BISA MERABA DIRINYA SENDIRI


__ADS_3

Saya mencintai anak Ibu," setelah berpikir keras Tasya pun sedikit berbohong untuk tidak menyakiti hati bu Amira dan memberikan pernyataan di luar dugaan.


"Syukurlah," ucap bu Amira merasa lega karena mendengarkan jawaban dari Tasya.


"Baik, Mama harap kamu dan Bian secepatnya memiliki momongan." Ucapan yang terlontar dari mulut sang mertua membuat Tasya langsung mendelikkan mata.


Bagaimana bisa punya anak orang gak ada permainan bola sodok pikir Tasya.


"Insya Allah Bu, berdoa saja supaya Ibu bisa segera memiliki cucu." Jawab Tasya dengan diiringi senyuman kecil, dengan keadaan terpaksa ia pun harus berpura-pura bahagia. Walau sebetulnya nyesek kalau diingat-ingat.


"Lebih baik kamu pulang, karena saya nanti akan ke sana. Masak yang banyak dan tentunya enak mengerti!" kata bu Amira dan beliau pun lekas berdiri.


"Terus pekerjaan saya?" tanya Tasya masih dalam keadaan mode bingung.


"Sekarang kamu kan Bos, jadi tidak perlu lagi kamu susah-susah melakukan pekerjaan. Kamu di sini hanya perlu mengecek pekerjaan dan mengontrol para karyawan saja," terang bu Amira pada Tasya.


"Bu, coba cubit pipi saya. Apa sekarang saya sedang bermimpi dan berada di dunia halu," pinta Tasya.


Auh.


"Bagaimana?"


"Sakit Bu, itu tandanya saya sedang tidak bermimpi dong." Jawab Tasya dengan diiringi sebuah cengiran.


"Huh, kamu ini ada-ada saja." Bu Amira berjalan dengan kepala yang digelengkan, mungkin beliau merasa aneh dengan kelakuan Tasya.


Pukul sepuluh siang, akhirnya Tasya beranjak dari tempat kerjanya dan akan bersiap-siap untuk pulang.


Sebelum pulang ia akan berpamitan pada Sonia dengan alasan meminta izin, karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk sementara waktu. Sampai Tasya benar-benar siap untuk mengatakan perihal pernikahannya.


"Son, aku ada kepentingan jadi pulang dulu ya." Tasya pun langsung menghampiri Sonia yang berada di depan etalase.


"Tumben, ada yang penting kah?" tanya Sonia merasa heran karena tidak biasanya Tasya izin.


"Iya, makanya aku mau pulang dan lagian tadi udah pamit juga sama si bos."


"Baiklah, semoga lekas selesai urusan kamu." Jawaban yang diberikan oleh Sonia mendapat anggukan oleh Tasya.


Sedangkan di tempat kasir seseorang tengah menatap jengah ke arah Tasya.

__ADS_1


"Alah paling-paling mau pulang buat menggoda lelaki lain selain pak Abian. Ngaku gak kamu," tukas seseorang yang ikut menimpali.


"Itu bukan urusan kamu, lagian semua ini tidak ada sangkut pautnya…."


"Mana ada orang tahu sedang apa kamu di luaran sana! Lagian kamu harusnya sadar diri kalau sebenarnya di sini itu kamu hanya seorang karyawan," ketus Sandra tanpa meraba tengkuk lehernya sendiri di saat berbicara. Ia lupa kalau posisinya sama seperti orang yang dihinanya, hanya saja perbedaan peran yang membuat sedikit berbeda.


"Aku mah selalu sadar, dan kamu juga seharusnya sadar kalau kita sama-sama karyawan biasa. Ingat itu!" dengan rasa ingin tertawa Tasya berkata.


Sedangkan semua yang ada di ruangan ikut tersenyum namun itu hanya sesaat karena merasa tak enak, karena mendapat tatapan dari Sandra.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setengah jam kemudian Tasya pun sudah sampai di rumah dan langsung memarkirkan motornya, namun ada yang aneh dengan mengerutkan kedua alisnya Tasya membatin. "Bukannya itu mobil Bian, tumben jam segini sudah pulang. Atau jangan-jangan yang ketinggalan?"


Dengan langkah tergesa-gesa Tasya langsung masuk dan melempar tas di sembarang arah. Hingga terdengar suara orang berteriak.


Auh.


"Ups, apa aku salah lempar?" gumam Tasya.


Benar saja Bian yang saat itu sedang berbaring di sofa langsung bangun dengan tangan, yang memegang tas butut milik istrinya tersebut.


"Apa kamu tidak bisa menggunakan mata kamu untuk melihat," ucap Bian dengan kesal karena sudah dianggap mengganggunya.


"Dasar istri durhaka!" seru Abian pada Tasya.


"Itu mulut berasa makan cabe 3kg, pedes amat." Setelah itu Tasya langsung meninggalkan Abian dengan suara ocehannya khas burung kutilang. Menurut Tasya tidak ada untungnya meladeni lelaki menyebalkan itu, karena yang ada di otaknya sekarang ia lah masak makanan yang enak untuk menyambut mertuanya.


Di dapur.


Tasya mengambil semua bahan yang ada di kulkas lalu mengeluarkannya dan meletakkan di meja.


"Satu, dua, tiga, empat. Ah sepertinya aku bingung mau masak apa? Tapi aku tidak tahu juga makanan kesukaan bos mertua. Apa aku tanya saja sama anaknya ya," ucap Tasya dengan suara lirih.


Tasya pun berjalan untuk mencari suaminya karena ia akan menanyakan tentang masakan, kesukaan bu Amira karena Tasya tidak tahu selera dari bos nya itu yang saat ini berubah menjadi mertuanya.


"Kemana itu orang, perasaan tadi di sini tapi sekarang kok gak ada." Tasya lantas masuk ke kamar siapa tahu Bian berada di sana.


Ceklek.

__ADS_1


Secara perlahan Tasya membuka pintu kamar, namun sejurus mata memandang tidak di temukan makhluk tersebut.


"Sepertinya tidak ada di kamar, duh kok tiba-tiba kebelet ya." Tasya memegang perut bawahnya karena sedang menahan sesuatu dan meminta untuk segera di keluarkan.


Ceklek.


Huaaaaaa.


"Dasar ceroboh."


"Dasar mesum."


"Siapa yang mesum…."


"Kamu."


"Kamu yang salah kenapa kamu juga yang marah," ketus Abian karena lagi-lagi kata mesum terlontar lagi.


"Terus kenapa kamu gak bilang kalau sedang ada di kamar mandi, huh!" umpat Tasya dengan amat kesal.


"Apa saya harus membuat agenda untuk laporan di setiap kegiatan saya. Begitu maksud kamu," ucap Abian dengan wajah yang amat kesal akan kelakuan Tasya. Kalau saja perempuan yang ada di depannya melihat ekspresinya bisa jadi, dia akan takut.


"Bu-bukan begitu. Harusnya kamu kasih kode, terus ini lagi kamu sudah membuat mata menjadi ternoda olehmu, tau gak kamu."


"Alah pura-pura ternodai padahal mah menikmati."


"Apa kamu bilang."


Aaaaaa.


"Buruan tutup, itu apa kenapa sangat mengerikan." Tasya yang tak bisa lama-lama berada di satu ruangan memutuskan untuk berbalik badan. Meski kedua matanya masih tertutup oleh kedua tangannya.


"Hye, kamu mau ke mana?"


"Tubuhmu sangat mengerikan."


Tiba-tiba saja.


BRAKH.

__ADS_1


Ups.


"Pasti sakit," gumam Abian.


__ADS_2