Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
40. KETIKA DIPERHATIKAN. DARI KEBIASAAN BERUBAH MENJADI NYAMAN


__ADS_3

Sekarang adalah hari ketiga setelah Bian mabuk, dan hubungan mereka sedikit dekat dibanding dengan hari-hari sebelumnya yang amat jauh layaknya seperti orang yang tak saling kenal.


Seperti pagi ini.


Mereka sarapan sedikit di bumbui oleh candaan dan pagi yang hangat tengah menyelimuti mereka berdua.


"Syah, apa kamu hari ini ke toko?" tanya Bian pada Tasya entah apa maksud dan tujuannya.


"Iya, di rumah bosan karena tidak ada temannya." Mendengar jawaban dari wanita itu, membuat Bian tersenyum tipis.


"Andai saja kamu menjadi istriku yang sesungguhnya. Betapa bahagianya aku karena di rumah ini pasti ramai kalau ada suara tangisan bayi, sayangnya itu sepertinya sulit." Dalam hati Bian berkata dan hanya bisa berandai-andai untuk membina bahtera rumah tangga.


"Saya akan mengantarkan kamu setelah ini," kata Bian dengan keadaan mulut yang penuh.


"Tapi tempat kita tidak sama dan itu berlawanan," ujar Tasya karena memang jalan yang akan mengantarkan mereka dalam pekerjaan itu berlawanan.


"Tidak masalah karen saya kan pakai mobil," ucap Bian yang tidak mempermasalahkan soal jalan.


"Tidak, karena itu membuat kamu akan sedikit terlambat. Aku akan membawa motor jadi kita berangkat masing-masing," tolak Tasya karena dirinya tidak mau membuat suaminya telat hanya karena mengantarkannya.


"Saya adalah bos nya, jadi tidak ada masalah."


"Terserah kamu saja," timpal Tasya yang tak ingin berdebat lebih jauh dengan Bian, dengan dirinya pasrah dan mengikuti perintah sang suami maka masalah selesai.


Makan pun selesai dan kini keduanya sudah siap untuk berangkat, karena sekarang sudah pukul delapan pagi. Dirasa semuanya sudah selesai Bian lantas bertanya pada istrinya sudah atau belum.


"Syah, sudah?" tanya Bian saat melihat Tasya yang berada di tengah-tengah tangga.


"Sudah," seperti itulah jawaban Tasya.


"Ayo," ajak Bian untuk segera keluar dari rumah.


"Eum."


Sekarang mereka berdua sudah berada di mobil.


" Bi, ini bunyi apa?" tanya Tasya karena sedari tadi dirinya terus mendengar suara bunyi yang membuat berisik.


"Jika sabuk pengaman tidak kamu pakai maka alarm akan terus bunyi," kata Bian menjelaskan akan bunyi tersebut.


"Aku tidak bisa memakainya," ujar Tasya tanpa punya rasa malu sedikit pun karena dirinya memang tidak bisa memakai sabuk pengaman tersebut.

__ADS_1


Bian yang mendengar itu tidak bisa berpikir, ini adalah tahun 2021. Mengapa masih saja ada orang yang tidak bisa memakainya.


"Biar saya bantu." Akhirnya Bian pun menawarkan bantuan untuk memakaikannya, dan itu mendapat anggukan dari Tasya.


Sekarang tubuh mereka saling berdempetan, hingga Tasya merasakan dekup jantung yang sangat cepat.


"Ada apa ini? Mengapa jantungku merasakan seperti ada yang jedug-jedug di dalamnya," batin Tasya yang kini sudah dipenuhi oleh keringat di dahinya, Bian yang sadar pun menatap aneh. asalnya Ac, sudah di nyalakan tapi mengapa Tasya berkeringat.


"Apa Ac-nya kurang dingin hingga membuatmu berkeringat?" tanya Bian yang tak mengetahui jika gadis yang ada di sampingnya tepat kini merasakan panas dingin saat bertatapan dengan suaminya.


"Sepertinya iya," jawab Tasya penuh kebohongan.


"Baiklah saya akan menambahkan suhunya, dan ini sudah selesai." Tasya pun merasa lega saat Bian sudah selesai mambantunya untuk memasang sabuk pengaman tersebut.


Kini keduanya sudah kembali pada posisi masing-masing dan Bian gegas menyalakan mesin mobilnya.


Dalam perjalanan tak ada percakapan diantara keduanya, entah tiba-tiba saja perasaan canggung itu hadir ditengah-tengah mereka.


Sekitar setengah jam lebih akhirnya mobil pun sampai di toko roti yang sekarang di kelola oleh Tasya, dan ibunya hanya memegang beberapa saja, Bian sama sekali tidak keberatan dengan keputusan yang sudah dibuat oleh ibunya.


"Sampai dan sekarang turunlah," titah Bian pada Tasya.


"Hati-hati di jalan dan selamat bekerja," ucap Tasya pada Bian, dan itu membuat Bian salah tingkah. Hatinya berbunga-bunga kala mendapat perhatian dari istrinya.


"Apa kamu sedang memberiku perhatian?" goda Bian karena ia ingin jawaban apa yang akan didengarnya nanti.


"Anggap saja begitu, ya sudah aku masuk dulu." Setelah memberikan satu kalimat yang membuat Bian kegirangan Tasya pun masuk.


Dirasa perempuan itu sudah benar-benar masuk dan Bian pun langsung bersikap layaknya anak kecil, yang sudah mendapatkan sebuah ice krim.


"Yuhuuuu ... Asik, diperhatiin yeah." Maka seperti itulah keseruan yang dilakukan di dalam mobil.


Dengan hati yang berbunga-bunga Bian pun langsung menancap gas dengan sangat hati-hati, sesuai permintaan sang istri.


Sedang di toko Tasya di sambut hangat oleh para karyawan yang bekerja dengannya saat ini.


"Pagi, Mbak." Orang-orang menyapa dengan sangat ramah dan Tasya pun balik menyapa.


"Pagi juga teman-teman," timpal Tasya yang tak kalah ramah.


"Syah," sapa Sonia yang sudah dari tadi datang dan sekarang dirinya sudah siap untuk bekerja, namun pada saat dirinya akan menata kue-kue itu. Terlihat Tasya sedang berdiri di tengah pintu kaca.

__ADS_1


"Son, bisa keruanganku sebentar."


"Tapi ini jam kerja, lagian mau apa kamu mengajakku ke atas?" tanya Sonia.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu," ucap Tasya.


"Soal apa?"


"Maka ikutlah!" seru Tasya yang tak ingin mengulang ucapannya lagi.


Huff.


Sonia menghela nafas berat karena selalu begitu, dan itu sangat mengganggu pekerjaannya saja.


Namun, Sonia hanya bisa mengeluh dalam hati tanpa mengatakannya, karena itu percuma saja menurutnya.


Akhirnya dengan terpaksa Sonia mengikuti langkah Tasya untuk menapaki satu persatu anak tangga, hingga sampailah mereka di ruang kerja yang sekarang menjadi milik Tasya.


"Cepat katakan ada apa!" ketus Sonia.


"Jangan jahat-jahat kalau tidak ingin menjadi perawan tua," ejek Tasya dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Apa menurutmu aku harus menerima pernikahan ini tanpa harus berpisah?"


"Pertanyaan macam apa yang kamu berikan. Bukannya kamu mengatakan kalau kalian tidak saling cinta," ujar Sonia mengingatkan, karena ia masih ingat dengan kata-kata Tasya jika mereka menikah hanya sekedar misi, dan bukan karena cinta.


"Iya, tapi lama-lama perasaan nyaman itu datang."


"Itu tandanya kalau kamu sudah bisa menerimanya, bukan?" Sonia yakin jika setiap hari bersama maka seiring berjalannya waktu, rasa nyaman itu berubah jadi cinta.


"Sejauh ini aku belum bisa mencintainya. Hanya perasaan nyaman saja yang saat ini aku rasakan," ungkap Tasya yang saat ini tengah mengaku pada Sonia.


"Iya kan cinta itu datang dari kebiasaan bersama, lalu muncul perasaan nyaman dan eng ing eng, akhir dari kebiasaan."


" Apa maksud kamu!"


"Dasar bodoh," ketus Sonia karena Tasya belum mengerti apa yang dimaksud.


"Jangan bilang kalau aku...."


"Sepertinya."

__ADS_1


__ADS_2