Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
51. INI DONAT MILIKKU BUKAN MILIKMU


__ADS_3

Makanya jangan banyak bicara, dan saya akan melakukan dengan pelan-pelan." Abian yang merasa jengah pada Tasya, karena merasa jika semuanya menyita waktu yang ada.


Grep.


Dengan segera Abian langsung melahap habis donat milik Tasya. Bukan lagi kata-kata umpatan yang diberikan kepadanya. Sekarang, di kamar yang luas serta ditemani oleh lampu yang tamaram. Abian hanya bisa mendengarkan kata-kat manis layaknya gula dan madu.


Yang pasti permainan apa saja yang di mainkan, itu cukup mereka berdua saja yang tahu. Yang pasti untuk saat ini bahwa Tasya sudakh tidak original karena donatnya, baru saja dicicipi oleh Abian.


Keesokan paginya. Hujan rintik-rintik tengah membasahi bumi, sekaligus sebagai saksi atas penyatuan mereka semalam.


"Morning sayang," ucap Abian pada Tasya, Tasya tidak merespon ucapan Abian sama sekali karena pagi ini dirinya sangat kesal.


"Semua ini karena kamu tau gak," ucap Tasya dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa kamu marah-marah sih, habis mimpi apa memangnya?


Plak.


Bukan menjawab Tasya justru menepuk bahu Abian.


Auh.


"Kamu pagi-pagi sudah menyiksa saya, ada apa sih. Memangnya kamu punya dendam apa sama saya," kata Abian yang pada Tasya. Dengan wajah bingungnya Bian benar-benar tidak mengerti jika Tasya sedang marah.


"Kamu nanya apa bertanya. Dasar suami menjengkelkan," gerutu Tasya pada Abian, dan itu semakin membuat laki-laki itu bertambah bingung dengan sikap Tasya.


"Kamu menyakiti donatku," protes Tasya dan seketika Abian membulatkan matanya dan sedetik kemudian laki-laki itu tertawa.


"Diam, dan jangan tertawa." Mendengar bentakan dari Tasya Abian langsung terdiam karena jika sudah begini, yang ada dirinya yang di telan mentah-mentah.


Sesaat kemudian.


Huaaaaaaa.


"Sakit," teriak Tasya karena tidak bisa bangun.


"Syah, kamu kenapa? Jangan buat saya panik dong." Tasya yang terus berteriak membuat Abian kelimpungan karena tidak tahu, apanya yang sakit.


"Cup ... Cup ... Jangan nangis dong, nanti saya beliin balon marsha ya." Bukan diam justru Tasya semakin menjadi.


"Aduh, ini gimana sih. Saya Tidak mengerti kalau kamu gak ngomong," kata Abian yang melihat Tasya menangis.


"Sepertinya saya harus telepon mama," ucap Abian lirih dan Tasya semakin mengencangkan tangisannya.


"Saya nina bobokin ya. Asal kamu cepat diam gak papa deh nyanyiin kamu, saya."


Pluk.

__ADS_1


Bukh.


Pluk.


Tasya menghajar Abian dengan sangat brutal karena suaminya itu sungguh tidak peka, dan tidak bertanya kenapa menangis dan apa sebabnya.


"Aduh, berhenti dong. Ini sangat sakit," ucap Abian memelas agar Tasya berhenti memukulinya.


"Lagian kamu itu ya, jadi laki gak peka dan gak punya perasaan. Kamu yang merusak donatku tapi kamu juga yang tidak bertanggung jawab." Seketika Abian tersadar, jika yang dimaksud istrinya adalah donat miliknya. Yang terletak di bawah.


"Kenapa saya baru sadar ya," ucap Abian dalam hati dan sama sekali tidak terpikirkan soal itu, karena saking enaknya. Tanpa memperdulikan sang istri yang yang sekarang kesakitan.


"Tunggu sini," ucap Bian pada Tasya.


Gegas Abian langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan menyalakan shower. Lalu memilih air hangat, dan menampungnya di bathtub.


Tidak berapa lama kemudian. Setelah airnya sudah penuh, Abian pun langsung keluar.


"Biarkan saya menggendongmu," ujar Abian. Lalu dengan perlahan Bian mengangkat tubuh sang istri.


"Apa kamu tidak tidak merasa berat?" tanya Tasya yang seketika tidak uring-uringan karena merasa sudah tidak di abaikan.


"Tentu saja tidak. Jangan berpikir kalau saya pendek, lantas tidak mampu menggendongmu." Tanpa menolah ke arah Tasya. Abian berucap dan langsung membawanya ke dalam kamar mandi.


"Berendamlah, nanti donat milikku akan segera pulih."


"Sejak sekarang." Jawab Abian.


"Tapi aku yang punya," ucap Tasya tidak mau kalah.


"Iya itu memang punyamu, tapi yang makan kan saya. Jadi, milik siapa?"


"Ya, ya tetap saja itu milikku karena aku yang punya." Jawab Tasya dengan sedikit bingung saat menjawab.


Sekarang mandilah, apa saya yang harus memandikanmu juga." Ucapan Abian membuat Tasya langsung membulatkan matanya, dengan lebar-lebar.


"Aku tidak butuh bantuanmu, sekarang keluarlah karena aku ingin berendam. Buruan keluar!" Abian langsung di dorong oleh Tasya. Agar secepatnya keluar, karena sejujurnya ia sangat malu. Walau semalam sudah melakukan belah duren.


...----------------...


Hari-hari yang dilalui oleh Tasya maupun Abian tidak ada masalah. Mereka sekarang telah menjadi suami istri yang sesungguhnya.


Tidak terasa perjalanan rumah tangga mereka sudah berjalan satu tahun. Meski ada juga teman-teman Tasya yang selalu membuat gaduh. Hanya karena Abian, suami dari Tasya sangat pendek dan ada juga yang mencemoohnya, karena menurut mereka antara Tasya dan Abian, tidak sejajar. Meski secara kasta Abian lebih unggul.


Pagi hari. Saat Tasya hendak masak, namun merasa mual pada perutnya dan ia pun segera berlari menuju wastafel.


Huek.

__ADS_1


Huek.


"Sayang, kenapa kamu?" tanya Abian saat melihat sang istri mual-mual.


Huek.


Huek.


Lagi, Tasya muntah namun sama sekali tidak ada yang di keluarkan.


Abian dengan telaten memijat tengkuk leher Tasya dan tangan satunya mengusap lembut punggungnya.


"Apa sudah lebih baik?" Abian bertanya lagi pada Tasya.


"Sudah lebih baik, Mas. Mungkin aku lagi masuk angin," jawab Tasya. Namun, saat Abian melirik ke arah wajah sang istri. Terlihat jelas wajah itu sangat pucat.


"Mas, buatkan teh, ya." Abian pun langsung menawarkan teh hangat agar perut Tasya sedikit enakan.


"Boleh, Mas." Jawab Tasya.


"Kamu ke kamar saja," titah Abian pada Tasya karena ia tidak tega jika pekerjaan dapur Tasya juga yang harus membereskan.


Tidak berapa lama, teh yang akan diberikan oleh Tasya sudah dibuat dan tinggal mengantarkannya di kamar. Namun, saat langkah Abian baru dua jangka. Terdengar bunyi bel dari arah depan.


"Siapa sih yang menganggu. Baru juga jam tujuh," gerutu Abian. Meski begitu ia juga berjalan ke depan untuk melihat seseorang yang tengah memencet bel.


Sedangkan kan di luar. Seseorang tengah menunggu sang empu membukakan gerbang rumahnya, namun belum juga ada yang keluar.


Sembari menunggu pria itu mengeluarkan bungkus rokok, dan mengeluarkan satu batang. Tidak lupa ia langsung menyalakannya.


"Apa kebanyakan orang kaya seperti ini. Sungguh menyebalkan," gumam lelaki itu yang hampir menghabiskan separuh rokok yang berada di tangannya sekarang.


Dari kejauhan lelaki yang sedang berdiri di gerbang layaknya pengemis. Melihat sosok Abian. Lalu dengan senyuman yang mengembang pria itu langsung.


Teeet.


Teeet.


Teeet.


"Woy. Rusak bel saya nanti kalau kamu buat mainan!" teriak Abian yang mendengar tamunya sedang memainkan bel nya.


Teeet.


Teeet.


"Kamu! Dasar sialan."

__ADS_1


__ADS_2