
Sial banget ini nasib, lagian ini pintu kenapa mesti ada di sini sih." Tasya bergumam seraya berdiri dan mengelus keningnya yang terbentur daun pintu tersebut. Rupanya ocehan Tasya didengar oleh Abian.
"Bukan salah pintunya, harus sadar diri kalau yang salah itu kamu bukan kayu berdiri di tabrak. Kan jadinya sakit," sahut Bian dari arah kamar mandi.
"Diam! Semua ini karena kamu. Kalau saja kamu mengenakan handuk dengan benar, mungkin saja aku tidak akan terjatuh seperti ini." Tasya mendengus kesal karena nyata-nyata semua ini karena ulah suaminya.
"Kamu saja yang sok polos," timpal Abian.
"Aku memang anak yang polos, jadi jangan ajari aku dengan hal-hal yang merusak mataku.” Jawab Tasya dengan nada kesal lalu ia pergi dan keluar dari kamar, agar dirinya dijauhkan dari godaan setan.
“Lihat saja nanti kalau sudah tau rasanya. Nambah-nambah gak tuh saking keenakan," umpat Abian.
Setelah ganti baju dan keluar dari kamar, ia pun teringat untuk menanyakan untuk apa gadis itu mencarinya. Tidak membutuhkan waktu lama, Bian langsung saja menghampiri Tasya yang berada di dapur.
"Oh ya, ada apa kamu mencari saya? Apa sedang merindukanku."
"Cih PD sekali kamu, kalau tidak ingin bertanya mana mungkin diriku ini yang cantik jelita mencari kamu." Jawab Tasya dengan suara cemprengnya.
"Dasar gadis sok cantik, apa kamu tidak punya kaca di rumahmu makanya banyak berkhayal." Bian pun tak kalah sengitnya ketika berbicara.
"Hello! Aku memang cantik dari orok," kata Tasya dengan bangga.
"Cantik dari orok tapi kok diselingkuhi," ucap Abian lirih.
"Kalau bicara yang keras, apa menurutmu aku tidak mendengar. Sayangnya kedua telingaku masih berfungsi dengan baik. Di selingkuhi bukan berarti tidak cantik kan mungkin saja aku kurang beruntung, cantik kalau tidak kaya ya dibuang."
Kata-kata yang keluar dari bibir Tasya, membuat Bian langsung pergi, entah seakan ucapannya adalah benar.
"Kenapa itu orang main pergi, apa mungkin dia tersinggung?" Tasya pun bertanya pada dirinya sendiri karena suaminya tidak seperti tadi, maka dari itu ia mencoba untuk mengejar.
Saat langkah Tasya sudah sampai di halaman belakang, tepatnya taman. Ia melihat Bian sedang berdiri dengan tatapan yang tak teralihkan pada bunga-bunga tersebut.
__ADS_1
"Maaf jika aku keterlaluan," kata Tasya lalu ia pun ikut berdiri tepat di sampingnya.
"Tidak, hanya saja aku berpikir kalau kata-katamu itu semuanya benar. Kaya tapi fisik kurang memadai itu akan jadi masalah dan itu pun kebalikannya," ujar Abian tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Maaf soal itu, aku tidak bermaksud untuk…."
"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan, karena saya sangat menyadari akan hal itu." Dengan tiba-tiba Bian langsung menyahut.
"Oh ya, ada apa kamu mencari saya, apa uangnya kurang?"
"Mulai sombongnya keluar, gedek dah sama orang satu ini." Batin Tasya.
"Boleh kalau kamu ingin mengisinya lagi, karena dengan hati gembira aku akan menerima." Jawab Tasya dengan senyuman dibuat semanis mungkin, kira-kira sampai diabetes kali ya?
"Habiskan dulu baru saya transfer," ujar Bian dengan nada ketus.
"Orang kaya mulai sombong."
"Enak saja, memangnya kamu pikir saya pe*la*ur apa!" sergah Tasya yang tidak terima dirinya dihina dan diinjak-injak hanya sebuah harga diri.
"Saya kan bilangnya seandainya, kenapa kamu sewot." Dengan senyuman yang yang dibuat-buat Bian sengaja menggoda Tasya.
"Sudahlah, ada yang lebih penting dari ini."
"Apa?" sahut Bian cepat.
"Bos mertua mau datang ke sini nanti sore." Tasya pun langsung memberitahu Bian perihal bu Amira yang akan datang.
"Sudah tahu." Jawab Bian enteng tanpa beban.
"Jadi…."
__ADS_1
"Iya, makanya saya tidak jadi kerja karena mama meminta saya untuk menemani kamu masak. Sebagai anak yang baik dan suami bertanggung jawab, saya pun langsung pulang." Ternyata Bian sudah lebih dulu mengetahui semua itu, mungkin karena itulah ia tidak jadi bekerja.
"Ada satu masalah lagi," kata Tasya dan yang ini menurutnya lebih serius daripada yang tadi.
"Apa lagi." Jawab Bian dengan tatapan malas.
"Aku sama sekali tidak tahu makanan kesukaan bos mertua?" ujar Tasya dengan menatap penuh iba.
"Mama orangnya tidak rewel, semua masakan dia suka." Saat Bian menjelaskan ada perasaan lega di hati Tasya, pasalnya orang kaya biasanya kalau makan suka pilih-pilih. Jadi, tidak ada salahnya jika ia bertanya terlebih dulu.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah aku mau masak biar nanti bisa istirahat setelah ini."
"Terserah." Itulah jawaban yang keluar dari mulut Bian. Sedikit menyakitkan tapi … ya sudahlah, keadaan jadi mau tidak mau ya harus diterima.
"Tasya mulai masak dengan beraneka bahan yang berada di kulkas, memasak dengan diiringi musik kesayangannya. Itulah cara satu-satunya untuk tetap semangat.
Satu persatu masakan telah selesai dan jika nanti bos mertuanya datang, tinggal dihangatkan. Sesaat Tasya melirik jam yang berada di tembok terus menempel jika tidak diambil, ternyata sekarang sudah jam 12 siang, tanpa terasa waktu bergulir sangat cepat.
"Ahhh … Sepertinya aku akan istirahat sebentar, karena mataku sudah tidak kuat untuk tetap terbuka." Tasya berbicara sendiri seraya kakinya berjalan ke arah sofa panjang.
Saat Tasya masih disibukkan dengan dunia mimpi. Tiba-tiba suara ketukan membuatnya membuka mata. Berharap jika yang datang bukanlah bos mertuanya karena matanya masih ingin di pejamkan.
Suara ketukan semakin terasa hingga membuat Tasya mau tidak mau harus beranjak. Dengan rasa malas ia pun akhirnya membukakan pintu.
Ceklek.
"Huh, kenapa bisa seperti ini? Bukannya yang akan datang adalah bos mertua. Terus kenapa semua tidak seperti ekspektasi," gumam Tasya dengan wajah terkejut bukan main.
"Kenapa muka kamu seperti itu, apa kita tidak boleh ke sini dan melihat isi rumah ini?"
"Bu-bukan begitu, hanya saja sedikit terkejut karena tiada hujan tiada angin. Kalian tiba-tiba datang tanpa memberi kabar," ucap Tasya hati-hati.
__ADS_1