Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
22. LUPA JIKA SUDAH MENIKAH, DAN MEMPUNYAI SUAMI


__ADS_3

"Bisakah kau jangan menatap saya seperti itu," ucap Bian dan sedikit salah tingkah dibuatnya.


"Lagian siapa kamu berani menyuruhku!" ketus Tasya yang masih belum menyadari tentang hubungannya dengan Bian.


"Memangnya kau benar-benar tidak ingat aku siapa mu," ujar Bian dengan mencabik kan bibirnya bak perempuan yang sedang merajuk.


"Aku bertanya, bukan ingin tahu siapa kamu." Tasya dengan posisi bersindakap dada menatap wajah lelaki yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sebenarnya yang tidak waras di sini itu saya apa dia sih, kenapa saya ikut pusing dibuatnya." Bian tidak langsung menjawab namun malah berbicara sendiri, karena merasa frustasi dengan keadaan yang membuatnya harus di uji dengan kesabaran.


"Aku waras dan sehat, karena yang selalu ku makan itu empat sehat lima sempurna."


"Bodoh dengan semua kata-katamu…."


Tok.


Tok.


Ucapan Abian terhenti kala suara ketukan terdengar.


"Ish, siapa sih mengganggu saja." Abian menggerutu karena belum sempat dirinya menjelaskan namun suara ketukan berulang kali di ketuk.


"Saya harap kamu tidak tuli, dan mau melihat siapa yang mengetuk pintu." Lantas Bian menoleh ke arah Tasya dan menegurnya agar membuka pintu.


"Aku gak tuli dan pendengaran ku berfungsi baik." Setelah menimpali suara Abian, Tasya gegas membuka pintu untuk melihat seseorang yang berada di luar.


Ceklek.


Dekh.


Seakan nafas Tasya berhenti berjalan saat melihat siapa orang yang ada di depannya itu. Hari ini Tasya sudah melewatkan shalat hanya karena perdebatan dengan seseorang yang belum tahu statusnya. Sekarang dihadapannya malah ia melihat kenyataan bahwa orang itu adalah bos nya. Bos dimana dirinya bekerja.


"Apa aku salah lihat atau memang mataku sedang bermasalah?" batin Tasya dengan perasaan bingung campur aduk.


"Bu Bos," ucap Tasya lirih.

__ADS_1


"Syah, ku kira kamu belum bangun." Wanita itu berdiri dengan sangat anggun dan terlihat sekali akan hal itu.


"Su–dah Bu, ini mau keluar tapi keburu Bu Bos main muncul." Jawab Tasya dengan sedikit kikuk.


"Oke, mana suami kamu?" tanya bos nya itu.


Dengan wajah bingungnya serta masih belum menyerap semua untuk di cerna di otaknya. Tasya menunjuk dengan satu jarinya dan di arahkan pada lelaki yang masih berdiri kokoh di samping ranjang.


"Ada apa, Ma." Bian menimpali dari arah sana.


"Mama hari ini mau pulang, sengaja Mama pulang pagi-pagi karena di rumah adik kamu sendirian." Dengan wajah datar perempuan tua itu namun masih terlihat segar, dan masih bugar di usianya yang tal muda lagi beliau berujar.


"Pulanglah, karena sedari kecil aku sudah terbiasa dengan kesendirian." Wajah dinginnya membuat Tasya takut dan sepertinya ada masalah antara ibu dan anak tersebut, tapi entah apa? Karena Tasya juga tidak ingin tahu akan hal itu.


"Oh ya, sekarang kamu sudah menjadi istri dari anak saya. Jadi, rawat dia dengan baik."


"Su–suami?" tanya Tasya dengan suara terbata karena ia benar-benar terkejut akan penuturan dari bos nya, yang bernama Amira.


"Jangan bilang kalau kamu lupa jika sudah bersuami," ucap bu Amira.


"Panggil saya 'Mama' seperti suami kamu manggil dengan sebutan itu," ujarnya pada Tasya.


"Baik Bu, eh Mama maksud saya." Jawab Tasya yang sedikit merasa aneh akan panggilannya itu. Pasalnya bu Amira adalah bos nya dan sekarang dirinya harus memanggilnya dengan sebutan 'Mama', sungguh terasa aneh di lidahnya akan sebutan tersebut.


"Lain kali kita akan mengobrol, tapi untuk saat ini maaf karena Mama ada keperluan mendesak juga. Kalian hati-hatilah di rumah," pamit Mama Amira pada Bian dan juga Tasya yang sekarang berubah jika yang dulu adalah karyawannya, sekarang menjadi menantunya.


Pintu pun di tutup kembali dan Tasya pun menatap tidak percaya kalau lelaki yang bukan sama sekali tipenya. Harus menjadi suami dadakannya, namun apalah dikata ibarat nasi sudah berubah menjadi bubur karena di aduk-aduk hingga berubah bentu pastinya.


"Apa! Jangan bilang kalau kamu memang lupa," seru Abian dengan berkacak pinggang. Sejurus mata memandang dengan perasaan kesal pada perempuan yang baru dinikahinya 24 jam lalu, namun dengan mudahnya Tasya melupakan semua itu.


Cih, menyebalkan bukan.


"Aku memang lupa kalau kamu itu sudah menjadi suamiku, habisnya suami impianku kan bukan kamu. Ya wajar dong," ucap Tasya dengan santai.


"Dasar mulut mercon," geram Bian sambil berlalu meninggalkan Tasya.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pukul delapan pagi, Abian yang berada di ruang kerjanya sedang fokus dengan usahanya yang sudah ia rintis beberapa bulan ini. Tiba-tiba saja rasa lapar membuatnya tidak konsentrasi ditambah tanpa adanya si hitam, yang selalu menemani paginya.


Lantas ia pun keluar kamar untuk melihat istrinya sedang apa, sampai-sampai sudah siang pun dirinya belum dipanggil untuk sarapan.


Di dapur.


"Apa yang kamu lalukan sedari tadi tanpa memasak, hum!" gertak Bian secara tiba-tiba dan itu membuat Tasya langsung menoleh, ke arah sumber suara tersebut.


"Bisa tidak kamu itu jangan seperti pocong, yang tiba-tiba nongol." Ucapan Tasya membuat Bian langsung mendelikkan matanya. Mungkin dalam benaknya bagaimana bisa dirinya di samakan dengan setan dengan kostum, khasnya itu.


"Hye mulut mercon, bisa tidak kamu itu berkata halus pada…."


"Suami di atas kertas." Dengan cepat Tasya langsung memotong ucapan Abian, dan itulah kenyataannya.


"Saya lapar, apa sengaja kamu membuat lapar perutku!" sungut Abian dengan wajah yang sudah menahan amarahnya.


"Jangan meminta apapun padaku jika semua yang kamu mau tidak ada," ujar Tasya dengan mata elangnya.


"Memang pernikahan kita di atas kertas sesuai perjanjian kita, tapi di mata agama dan negara kamu sah istriku. Jadi, ada kewajiban kamu mematuhi dan menurut padaku, ingat dengan dosa."


Mendengar ucapan Bian, Tasya pun langsung dibuat kalah telak. Nyatanya semua yang dikatakan oleh Bian semua itu benar, ia takut dosa meski tingkahnya sedikit bar-bar.


"Kamu ingin makan kan?"


"Pertanyaan bodoh macam ini, jelas-jelas saya tadi sudah mengatakannya! Apa kupingmu itu memang bermasalah."


"Maka jangan bicara dan lihat isi di dalam kulkas, ada apa saja di dalamnya." Jawaban yang diberikan oleh Tasya membuat Abian langsung mengerutkan keningnya.


"Oh ya satu lagi, lihat itu yang ada tulisan mampus isinya ada atau tidak." Tasya menambahkan lagi agar semua bisa terlihat dan tidak membuat suami dadakannya terus protes.


Tanpa menjawab Abian langsung membuka kulkas dan.


"Coba katakan ada apa saja?"

__ADS_1


Seketika Abian mati kutu dibuatnya, saat melihat isi di dalam kulkas.


__ADS_2