Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
15. DI SIDANG


__ADS_3

"Apa kamu akan menikah dengan lelaki yang pernah babak belur, karena sudah ku hajar waktu itu?" dengan tatapan menyelidik bude Rumi bertanya.


"Bude tahu," ujar Tasya karena ia tak menyangka jika keluarganya mengetahui akan masalah itu.


"Jelas tahu, tadi ada lelaki datang ke sini." Pak Harun pun ikut menimpali.


Apa Abian sengaja datang ke rumahnya dangan mengatakan pada semua? Pikir Tasya.


"Syah, jawab!" tegas bude.


Dengan wajah menunduk dan penuh kepasrahan Tasya pun mengiyakan.


"Iya Bude, kami akan segera menikah minggu depan. Aku harap kalian usahakan jangan membocorkan kepada siapapun tentang pernikahanku, yang nantinya akan digelar dengan sederhana dan tidak ada acara besar." Tasya dengan perlahan menjelaskan dan mengatakan pada keluarganya. Agar pernikahan ini tidak sampai menyebar ke mana-mana.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan itu, pasalnya Bude dan Pakde. Tidak pernah sekalipun melihat kamu berkencan?" tanya sang bude pada Tasya.


"Syah, apa ada masalah sehingga kamu ingin menikah dadakan?" pak Harun ikut menyahuti dan ikut bertanya juga. Beliau takut jika Tasya sedang ada masalah yang tidak diketahui oleh mereka, maka dari itu keponakannya memilih untuk segera menikah, yang akan di gelar hanya di KUA saja.


Sedangkan Tasya tak bisa berkutik karena dua orang sekaligus tengah menyerangnya.


"Bude, dan Pakde tenang saja. Semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun diantara kami berdua. Semua itu murni dari keinginan kita berdua yang ingin segera meresmikan hubungan, untuk lebih melangkah ke jenjang serius."


"Kalian tidak mau kan nasibku akan sama dengan Aldo? Menjalani hubungan selama bertahun-tahun tapi berhenti ditengah jalan. Maka itulah alasannya kenapa kita melakukannya dengan cara singkat," ucap Tasya. Meski sebetulnya seluruh tubuhnya tegang karena takut akan salah ucap, namun Tasya tetap berusaha tenang agar semuanya berjalan dengan lancar, meski ada kebohongan di dalamnya.


"Baik, kami percaya jika kamu bisa menjaga dirimu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami juga sudah memberi restu untuk kalian Pakde dan Bude, hanya bisa memberikan doa untuk kamu semoga semua berjalan dengan semestinya." Ucapan demi ucapan yang terlontar dari bibir pak Harun, membuat Tasya sedih dan terharu.


"Ya sudah ini sudah malam, lebih baik kamu segera tidur dan kita lanjutkan besok tentang masalah ini." Pak Harun pun menyuruh Tasya untuk segera masuk ke dalam kamar dan segera beristirahat.


"Iya." Setelah menjawab Tasya pun berdiri dan langkahnya meninggalkan kedua orang yang masih duduk, dan belum ingin beranjak dari tempatnya sekarang.


Sedangkan Tasya sudah tak terlihat dan sekarang berada di dalam kamar mandi untuk gosok gigi. Berlanjut dengan mencuci muka serta kaki.


Di dalam kamar mandi, Tasya terus melamun dengan tangan yang masih memegang pasta gigi.


Entah apa apa yang ada dipikirannya, yang pasti ada sangkut pautnya dengan Bian dan pernikahannya.

__ADS_1


Kini sikat gigi itu sudah berdada mulutnya dan menggosokkannya sampai ke dalam-dalamnya. Namun ada yang aneh setelah dirasakan.


Tasya diam sejenak untuk merasakan sensasi dari rasa pasta gigi yang digunakannya, semakin aneh dan semakin rasanya tidak enak.


Setelah dirasakan seperti seperti bau sabun cuci muka. Tasya melirik barang yang ada disampingnya dan benar saja, bukan pasta gigi dengan merek papasodent. Melainkan wardani yang dioleskan pada sikat gigi tersebut.


"Ini nih, kalau otakku ada di bawah. Sampai-sampai salah pakai," ujar Tasya dengan wajah kesalnya. Sudah kesal dengan hidup apes pula pikirnya, pada akhirnya Tasya pun mencuci bersih sikat terebut dan mulai mengolesinya, dengan papasodent.


Tidak berselang lama Tasya pun keluar dari kamar mandi, lalu gegas masuk ke dalam kamar. Namun, lagi-lagi dirinya salah ambil. Niat hati ingin mengambil arloji, tapi bukan barang itu yang di ambilnya melainkan sisir yang ada di wastafel kamar mandi.


"Astaga, kenapa dengan otakku sih!" dengus Tasya lalu ia kembali lagi ke dalam kamar mandi, untuk mengambil arlojinya.


"Ini semua gara-gara pria licik itu sampai-sampai otakku tertinggal di jalan," gerutu Tasya lalu dirinya kembali berjalan ke arah kamar lagi


Malam semakin larut dan Tasya pun tak kunjung memejamkan mata. Ia terlentang menatap langit-langit plafon yang ada di atas sana.


Pikirannya kini terbang entah ke mana dan tidak mungkin ke langit ke tujuh bukan. Ia hanya tak percaya dengan semua ini, sedari sore yang ada dipikirannya ingin kabur dalam acara pernikahan. Namun, mendengar pria gila itu mengancam sedikit rasa takut terselip di otaknya.


...----------------...


Tasya yang tidak tahan pun akhirnya terbangun namun sebelum itu ia melirik ke arah jam.


Ternyata sekarang sudah pukul enam pagi.


"Baru juga tidur, eh udah dibangunin dengan suara kaset rusak yang tidak jelas." Sambil berjalan Tasya mengumpat.


Sesampainya di dapur.


"Budeee! Bisa tidak berhenti. Suara panci rusak sangat menggangguku," ujar Tasya yang sengaja menghentikan sang bude yang tengah menikmati paginya, dengan rasa penuh kebahagiaan.


"Kau mengganggu saja!" sungut bude Rumi pada Tasya.


"Salah besar itu, harus aku yang bilang begitu." Jawab Tasya dengan nada jengkel.


Peletak.

__ADS_1


Auh.


Tasya mengusap pelipisnya karena mendapat jitakan dari budenya, dan itu membuat Tasya semakin kesal.


"Kenapa malah aku yang di jitak?" Tasya protes karena ia sedang tak salah ucap tapi malah mendapat landasan jemari.


"Dasar durhaka!" ketus bude Rumi.


"Bude yang durhaka, pagi-pagi sudah buat burung dan ayam bangun."


"Kenapa malah melotot, bukannya ucapanku benar kalau bude sudah membuat ayam jantan dan burung bangun?" gumam Tasya dalam hati.


"Awas itu bola mata terbang."


Ctak.


Lagi dan lagi keningnya dibuat luncuran punggung jemari milik bude Rumi.


"Kenapa bude malah menambahkan lagi," seru Tasya dengan wajah bingungnya.


"Kenapa kau suka sekali mengganggu pagiku yang indah! Apa tidak bisa membiarkan Bude bahagia," ujar bude Rumi menatap kesal ke arah Tasya.


"Karena Bude aku terbangun," sela Tasya yang tidak terima.


"Kenapa kamu malah menyalahkan bude," gerutu bude Rumi dengan wajah bengisnya.


"Masa ia mau nyalahin tetangga," Tasya pung mengungkapkan.


"Harusnya bagus dong, dengan begitu kamu cepat bangun." Jawab bude Rumi yang masih tak mau dianggap panci radio rusak oleh Tasya.


"Iya bangun karena telingaku sakit karena mendengar radio rusak," ucap Tasya.


"Memangnya ada yang salah!"


"Ada," sahut Tasya dengan cepat.

__ADS_1


"Apa!"


__ADS_2