Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
43. BERTEMU FAREL (KENAPA HARUS BERDEBAT LAGI, BIAN)


__ADS_3

Mereka berdua pun sama-sama tercengang saat berhadapan dengan orang yang sangat dikenalnya.


"Bukannya kemarin bilang kalau kamu adalah seorang pembantu?" saat lelaki itu mengatakan kalau Tasya seorang pembantu. Mata mereka langsung mengarah ke arah mereka berdua.


Mungkin di benak mereka, sejak kapan seorang Tasya adalah pembantu.


"Ya emang, di sini saya membantu di kala pekerjaan rumah sudah beres. Memangnya tidak boleh ya," elak Tasya berbohong pada laki-laki tersebut yang sudah mulai tersudut.


"Iya tidak ada masalah, saya kira kamu pemilik toko ini?" kata lelaki yang bernama Farel, pria yang kemarin sempat memberikan tumpangan pada Tasya.


"Ya sudah kalau begitu, bagaimana dengan hasil kuenya?" tanya Tasya soal hasil dirinya melukis kue tart.


"Puas dan sangat bagus, terimakasih untuk kuenya."


"Sama-sama," balas Tasya.


"Oh ya, senang bertemu dengan mu lagi, ngomong-ngomong apa saya bisa meminta nomor ponsel untuk dibuat jaga-jaga. Kalau nanti saya ingin memesan kue lagi," ujar Farel pada Tasya.


Sejenak Tasya berpikir jika itu tidaklah buruk, dan pikirnya untuk bisnis jadi ia pun langsung mengeluarkan ponselnya.


"Ini sudah ya." Setelah memberikan nomor ponsel lekas Tasya memasukkan gawainya lagi.


Keduanya tertawa terbahak-bahak hingga tanpa mereka sadari jika seseorang dengan wajah lesunya, menatap mereka yang tengah bercanda.


"Kenapa sakit saat melihat mereka," ujarnya dalam hati.


Tadi, sebelum berangkat dengan hati berbunga Abian buru-buru datang ke toko. Walau ia harus menunggu Tasya untuk sesaat pikirnya tidak masalah. Akan tetapi, malah yang ia temui sepasang orang yang sedang bercanda dengan bahagia.


"Dasar mulut ganjen, sudah punya suami masih dengan laki-laki lain." Bian tidak berhenti uring-uringan karena saat ini hatinya terasa mendidih. Layaknya air yang direbus dengan sangat lama.


Sedangkan di dalam Farel ingin pulang dan sedang berpamitan dengan Tasya.


"Syah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya. Kasian nanti anak saya karena sudah menunggu lama," ucap Farel, dan untuk Tasya, Tasya terkesiap mendengar penuturan dari laki-laki itu. Pasalnya yang ia tahu jika Farel seorang pria lajang, nyatanya apa yang ia pikir tidak sesuai ekspetasinya.

__ADS_1


"Huh, udah punya anak! Aish gak jadi PDKT dong. Dasar apes," umpat Tasya dalam hati.


Sedangkan Abian yang tidak berhenti tertawa kala melihat wajah Tasya yang amat lucu. Dengan muka yang terbengong ia menatap kepergian lelaki yang bernama Farel tersebut.


Wah, wah … Ada yang mau jadi plakor nih," ucap Bian secara tiba-tiba dengan senyuman mengejek.


"Sialan kamu!" seru Tasya pada Bian.


Hahahahaha.


Abian tertawa hingga tak bisa mengontrol, sampai perutnya terasa kram karena kebanyakan tertawa.


"Diam!" bentak Tasya karena sedikit malu. Pada akhirnya, dengan hati yang dongkol serta bibir yang mengerucut maju. Ia pun berjalan ke arah tangga dan menaikinya satu persatu hingga sampai di ruangan.


Bian masih tidak bisa menahan tawa, dari yang semula kesal kini berubah lebih mengerikan. Itu karena ia terlihat bak orang gila karena benar-benar pemandangan yang sangat lucu menurutnya.


"Kenapa kamu mengikutiku?" Tasya menatap kesal ke arah lelaki yang masih dengan suara tawanya hingga semakin membuat Tasya semakin kesal.


"Memangnya tidak boleh? Makanya jadi wanita itu jangan ganjen. Ini kan akhirnya yang didapat," ucap Bian dengan senyuman mengejek.


"Itu tadi buktinya, kamu seperti seseorang yang sudah salah sasaran wajah kamu sudah jelas tadi," ujar Bian yang masih mengingat saat wajah terkejut Tasya di bawa.


"Ka-mu! Lagian mau apa kemari. Jangan-jangan kamu cemburu ya sama aku, melihat duda tampan tadi." Tasya dengan terpaksa mengatakan jika Farel adalah seorang duda.


“Oh, jadi dia duda toh. Pantas kalau kamu tergila-gila mungkin karena duda lebih menggoda kali ya,” ucap Abian sedikit sewot.


“Apaan sih kamu, tidak jelas banget.” Tasya menatap jengah ke arah Bian, karena sedari tadi yang dibahas hanya soal Farel, dan Farel lagi.


“Dasar perempuan tidak peka,” gumam Abian, namun suara gumaman itu terdengar oleh telinga Tasya.


“Siapa yang tidak peka?” tanya Tasya langsung menyerang balik ucapan Bian.


“Memangnya di sini ada orang lagi selain kamu,” ujar Abian.

__ADS_1


“Ada,” jawab Tasya dengan bola mata sejurus menatap ke arah Abian.


“Siapa?”


“Kamu.” Abian diam karena Tasya seakan membuat layaknya orang bodoh. Ya benar juga sih katanya, bukan hanya Tasya juga di situ karena Abian nyatanya berada di sampingnya.


Ck …Ck.


Abian berdecak kesal karena Tasya, karena selalu saja bisa mematahkan ucapan orang, termasuk dirinya juga.


“Kamu mau apa ke sini? Ini kan baru jam tiga?” tanya Tasya untuk yang kedua kalinya.


Bian pun teringat akan tujuannya ke sini untuk apa, lantas ia pun berjalan dan duduk di sofa dengan kaki diangkat lalu di taruh di taruh pahanya, dan tidak lupa sambil dimainkan.


“Jangan bertanya dulu, saya lapar bisakah kamu memberiku makan. Sedari tadi siang saya belum mengunyah apapun,” kata Bian dengan suara yang lemah.


“Huh, pasti itu hanya akal-akalan pria itu. agar aku dengan rasa iba memberikannya makan,” batin Tasya sebelumnya suaminya itu tidak pernah seperti ini.


“Jangan menatapku seperti itu, karena saya memang sangat lapar.” Dengan suara yang dibuat-buat seolah dirinya sedang dengan keadaan lemah, agar Tasya percaya.


Tasya menatap Bian dengan sangat intens. Ia tidak mau dibohongi oleh pria tersebut, pasalnya Abian adalah bos. Mengapa juga tidak beli makanan di luar, malah harus jauh-jauh datang ke toko roti. Hanya untuk meminta makan.


“Duh, kenapa pula Tasya harus menatap dengan tatapan seperti itu. Lagian ini mulut kenapa juga tidak punya keberanian untuk mengatakan apa yang sebenarnya,” ucap Bian dalam hati, entah mengapa ia merasa jika bibirnya sangat kaku dan tak bisa berkata, saat ingin menyampaikan akan dirinya yang akan mengajak ke suatu tempat.


“Sepertinya memang tidak berbohong.” Dalam hati Tasya bergumam dan tidak menemukan kebohongan dari raut wajah lelaki itu.


“Ya sudah tunggulah, aku akan mencarikan makanan.” Setelah itu Tasya pun menyuruh Bian untuk menunggu, karena dirinya akan membelikannya makan.


Saat sampai di bawa, Sonia pun langsung menanyai Tasya dengan beragam pertanyaan dan itu membuatnya kesal.


“Syah, laki kamu tumben ke sini, mau ngapain, terus muka kamu kok kusut. Lalu sekarang mau ke mana kok buru-buru….”


"Stop! Bisa diam tidak."

__ADS_1


"Kamu sungguh sangat cerewet, dan kamu tahu? Kamu sama seperti pria menyebalkan itu!" sungut Tasya dengan langsung menyahut ucapan Sonia yang sangat berlebihan itu, mungkin kalau di tulis di buku sudah tidak muat karena terlalu banyak percakapan.


__ADS_2