
"Apa mau kamu dengan mendatangiku ke sini!" seru Tasya yang tak ingin berbelit dengan wanita yang tak pantas mendapatkan kehormatan, sebuah kebencian yang membuat tak mau mengenal akan sosok wanita tua itu.
"Kenapa kamu marah, sayang. Haruskan senang karena Tante datang untuk melihatmu, ups. Selama ini ternyata aku salah besar. Ku pikir kamu seorang wanita yang beruntung nyatanya masih tetap saja kere," ucap wanita itu, yang tak lain adalah adik dari mamanya.
"Jangan buang-buang waktuku untuk meladeni orang yang tidak penting seperti anda, sekarang katakan apa yang kamu mau" Dengan tatapan bak elang dan nada yang tegas Tasya berbicara.
"Jangan sombong anak bau kencur, kedatanganku ke sini karena ini." Wanita yang diketahui bernama Rasti, langsung melempar map di atas meja.
"Tanda tangani dengan begitu aku akan segera pergi," ujar bu Rasti dengan tatapan sinis serta sudah tidak sabar untuk mendapatkan yang ia mau.
Sesaat pandangan Tasya tertuju pada map itu, ia ingat itu berisikan surat apa. Dengan senyuman yang tersungging menghiasi bibirnya, Tasya tidak memperdulikan wanita itu dan lebih memilih untuk duduk di samping sang suami, lalu mengalungkan tangannya di lengan Abian.
Bu Rasti yang sudah menunggu namun belum juga dilakukan oleh Tasya, dengan cara membentaknya mungkin saja itu membuatnya cepat memberikan apa yang dimau.
"Jangan menghindar dan cepat tanda tangan!" bentak bu Rasti dengan tatapan tajam.
"Siapa kamu? Kamu tidak pantas membentak ku, camkan itu." Tasya yang sudah berapi-api menatap wanita itu dengan sangat tajam.
Sebelumnya, Abian sengaja ingin tahu seberapa beraninya Tasya. Ternyata, jika marah itu membuatnya semakin bergidik ngeri. Nyatanya sang istri memiliki keberanian yang sangat tinggi dan tidak mudah ditindas oleh siapapun.
"Dasar anak yatim saja…."
Plakh.
"Kau telah merusak suasana kebersamaan saya dengan istriku, dan kau masih berani mengatakan istriku anak yatim juga. Dimana otakmu! Apa kah ini bisa dijadikan contoh yang bagus orang lain ketika anda masuk tanpa punya rasa sopan santun. Huh," sekarang lah Waktunya Abian membela Tasya, perempuan yang masuk dengan mengaku keluarganya sungguh tidak sopan dan sama sekali tidak punya etika dalam berbicara.
"Oh, ini toh yang dibilang Ita, suami kamu. Tasya? Hanya punya toko roti saja sudah sombong," ucap bu Rasti dengan nada mengejek.
"Sepertinya ini perempuan harus diberi pelajaran," ucap Bian dalam hati.
"Baiklah, Saya akan memberi kejutan pada nyonya, yang terhormat." Abian tersenyum licik karena dirinya sudah merencanakan sesuatu dalam hatinya untuk perempuan tua itu.
“Jaga ucapan anda, dan jangan lancang terhadap istri saya!” seru Abian dengan nada yang mulai meninggi.
__ADS_1
“Tasya, cepat tanda tangani surat-surat itu.” Abian memerintahkan Tasya untuk menandatangani apa yang sudah diberikan pada bu Rasti, agar wanita itu segera pergi dari tempatnya.
“Yes, sebentar lagi aku akan menjadi kaya.” Dalam hati bu Rasti bersorak gembira karena semuanya berjalan dengan lancar.
“Baik.” Tasya tau jika ini adalah permainan suaminya, maka dari itu ia menuruti apa yang dikatakan oleh Bian kepadanya.
Lekas Tasya mengambil kertas-kertas itu dan langsung memberikan tanda tangannya dan.
“Selesai. Sekarang pergilah dan nikmati prosesnya,” ucap tasya dengan senyuman yang mengembang karena keluarga itu sebentar lagi akan hancur.
Selepas kepergian bu Rasti, Tasya menatap suaminya dengan harapan mau memberitahunya, akan rencana apa yang sudah disusun.
“Kenapa kamu menatap saya seperti itu, apa ingin saya memeluk kamu.” Bukan jawaban yang didapat justru sebuah rayuan maut yang dikeluarkan oleh Abian.
“Apaan sih, gak jelas banget.” Tasya malah berkata sinis pada Bian.
“Siapa tau kamu butuh kehangatan, ayolah Tasya. Sini biar sesekali bisa merasakan bagaimana rasanya dipeluk,” ujar Abian dengan wajah dibuat seimut mungkin.
“Ayolah.” Abian sudah merentangkan kedua tangannya dan sekarang dirinya sedang membayangkan, jika dirinya bisa meniru adegan yang selalu ia tonton selama ini.
“Jawab dulu, baru aku akan membalas pelukan kamu.”
“Tidak buruk jika dia bisa memberikan penjelasan, mengapa tidak.” Tasya membatin dan itu tidaklah terlalu buruk untuknya.
“Sini, saya bisikin.” Abian tidak kekurangan akal hanya untuk bisa memeluk Tasya.
Huff.
Tasya menghela nafas berat dan terpaksa melakukan itu, baru saja keluar dari kandang anjing. Sekarang malah terperangkap di kandang buaya darat.
Bless.
Sekarang mereka sudah berpelukan dan sama-sama mencari kehangatan.
__ADS_1
“Kenapa rasanya hangat dan sangat nyaman,” dalam hati Tasya bergumam karena baru saja menemukan tempat ternyaman, yang belum pernah dirasakannya.
“Gini kan enak,” batin Abian dengan senyuman bahagia.
“Tunggu saja nanti, karena wanita itu akan mendapatkan akan keserakahannya selama ini, karena dia juga sudah berani mengambil yang bukan hak nya.” Masih dalam keadaan berpelukan Abian tiba- tiba membisikkan yang membuat Tasya langsung tercengang.
Tasya tidak merespon malah merakatkan pelukannya karena menurutnya ini adalah tempat yang paling ternyaman sepanjang hidupnya, setelah kedua orang tuanya.
“Sekarang beritahu bude, untuk menyiapkan makanan karena sebentar lagi kita akan ke sana.” Abian membisikkan kata-kata yang membuat Tasya bertambah bahagia.
“Kamu serius?” tanya Tasya menatap tidak percaya karena ia tahu apa yang dibutuhkannya sekarang.
“Memangnya ada tampang saya bercanda,” kata Abian karena pikir Tasya ia sedang bercanda.
“Aaaaaa … Terimakasih,” Tasya kembali memeluk Abian dengan suasana hati yang sangat bahagia, setelah rasa kesal merasuki jiwanya,
“Sama-sama, sekarang bersiaplah.” Lalu Bian melepaskan pelukannya dan segera menyuruh Tasya untuk bersiap-siap.
“Mungkin dengan cara seperti ini kamu bisa bahagia,” gumam Abian dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa menit kemudian akhirnya keduanya pun berangkat ke rumah bude Rumi, yang jaraknya sekitar satu jam lebih.
Di mobil.
“Kalau mengantuk tidurlah. Nanti kalau sudah sampai saya akan membangunkan kamu,” ucap Abian lalu menoleh barang sedetik ke arah Tasya.
"Sebenarnya aku memang ngantuk," ujar Tasya pada Abian dengan menaikan bola matanya ke atas.
"Ya sudah, tidur saja." Jawab Abian dengan suara lirih.
Dalam sekejap mata Tasya sudah hilang dari dari dunia nyata, dan sekarang raganya berada di alam mimpi.
__ADS_1