
Abian bingung harus mencari mangga dimana, sedangkan sekarang sudah jam 10 dan tidak ada toko buah yang buka.
Mata Abian, tertuju pada satu pedagang dan ia buru-buru menghampiri.
"Mbak, ada mangga?" tanya Abian dengan netra ikut mencari buah yang diinginkan oleh Tasya.
"Gak ada Mas, coba saja cari di supermarket. Siapa tahu di sana ada," ucap penjual buah itu pada Bian.
"Astaga ... kenapa aku tidak kepikiran akan hal itu," ucap Bian dalam hati.
Setelah diberitahu oleh pedagang buah. Abian pun gegas ke minimarket guna membeli buah mangga mangkal yang di mau oleh Tasya.
Detik kemudian, Bian sudah sampai di minimarket dan langsung bertanya pada karyawan yang bekerja di sana.
"Mas, di sini apa ada mangga mangkal?" tanya Bian, dan harapannya kali ini bisa pulang dengan usaha yang tidak sia-sia.
"Mari Pak, saya antar." Lantas pegawai itu pun langsung memberitahu letak dimana buah mangga itu berada.
"Nah ini Pak, silahkan dipilih."
"Baik, terimakasih." Pegawai langsung pergi dan Bian pun memilih mangga seperti yang di mau oleh istrinya.
Sedangkan di lain tempat.
"Duh, kemana sih itu orang. Sampai jam segini belum ada pulang," gerutu Tasya karena sudah lewat jam 10, suaminya tak kunjung pulang juga.
Tasya menunggu di ruang tamu, hingga tidak sadar sampai ketiduran. Mendengar seseorang tengah memanggil membuatnya langsung menggeliat.
Ughhh.
Tasya melenguh karena suara tersebut sedikit mengganggunya.
"Sayang, ini aku sudah dapat mangganya." Suara Abian membuat Tasya langsung membuka matanya untuk melihat, pesannya sewaktu tadi.
"Rupanya sudah datang ya, bisa tolong kupasin dan sambel cocolnya udah ada di atas meja makan." Abian yang mendengar akan hal itu. Langsung berjalan ke arah dapur, tanpa banyak protes.
Tidak berapa lama kemudian.
__ADS_1
"Nih udah di kupas, tinggal makan." Bian pun menyodorkan sebuah piring dan mangkuk kecil. Lalu dengan cepat Tasya meraihnya.
"Sini duduk," titah Tasya dengan tangan menepuk sofa. Sebagai isyarat agar Biar menurutinya.
"Tumben minta di temenin?" kata Bian merasa sedikit aneh karena biasanya istrinya itu tidak mau di dekati.
"Makan," titah Tasya.
"Aku," ucap Bian.
"Memangnya siapa kalau bukan kamu," kata Tasya.
"Ini kan yang mau kamu. Kenapa harus aku yang makan," protes Bian.
"Anak kamu yang mau, jadi jangan protes dan segera makan itu mangga. Itu juga udah aku siapkan cocolannya," ujar Tasya tidak mahu tahu dan Bian pun harus segera memakannya.
Iuhhhh.
"Asem sayang, kalau manis aku mau tapi ini kan gak enak." Bian dengan ekspresi wajahnya yang lucu. Hingga Tasya tertawa puas saat melihatnya.
"Tidak dong, dan baiklah aku akan memakannya demi anak kita."
Bian dengan ekspresi sulit dijelaskan. Tetap memakan mangga mangga mangkal, sampai menghabiskan satu buah.
"Aku nyerah karena udah gak kuat," keluh Bian yang memilih menyerah untuk terus makan mangga.
"Ya sudah, taruh lagi di dapur aku mau tidur." Tanpa tahu penderitaan Bian, dan tanpa rasa bersalah. Tasya meninggalkan Bian dan segera naik ke atas untuk tidur.
"Apes lagi," kata Bian lirih.
..............
Hari-hari yang dijalani oleh Tasya, begitu sangat menyenangkan. Hingga tanpa terasa jika sekarang sudah waktunya Tasya melahirkan dan menjadi seorang Ibu.
"Dokter ... sakit!"
"Kau, dasar. Semua ini karena kamu," umpatan demi umpatan dikeluarkan oleh Tasya.
__ADS_1
Di ruang bersalin Tasya sedang berjuang untuk menjadi seorang Ibu.
Kedua tangan terus saja menjambak rambut Bian, dan lelaki itu pun berteriak karena sakit tentunya.
Aaaa sakit.
Bian merintih karena jambakan terlalu kuat.
"Terus Bu, usahakan yang kuat." Dokter terus memberi semangat untuk Tasya, agar Tasya lebih kuat lagi untuk mengejan.
Aaaaaa.
"Sakit, dasar suami gila! Suami edan."
Tidak lama kemudian, suara tangis dari malaikat kecil pun membuat haru bagi semua orang.
Oe ... oe ... oe.
"Bu anaknya sehat, dan jenis kelaminnya laki-laki." Dengan senyuman yang terbit. Dokter itu pun memberitahukan jenis kelamin anak dari pasangan Bian dan Tasya.
Akhirnya semua terbayar sudah karena malaikat yang di tunggu-tunggu telah hadir diantara mereka.
"Selamat ya sayang, kamu jadi Ibu." Bian lantas memeluk Tasya dan berulang kali menciuminya, karena merasa berjasa yang sudah mau melahirkan anak untuknya.
"Sama-sama, karena ini adalah kewajiban seorang wanita bukan." Jawab Tasya tersenyum.
Lengkap sudah kebahagiaan mereka, dan dari awal yang benci namun rasa itu berubah jadi cinta.
Cinta tak mengenal fisik, meski Tasya kerap mendapat kecaman dari teman-temannya. Atau dari tetangga Ibunya. Yang mengatakan jika Bian tidak sempurna, nyata lelaki itulah yang sukses membuat Tasya luluh.
Dari sini kita bisa paham. Bahwa semua tak bisa dilihat dari sudut pandang saja.
Ikuti cerita lainnya, Retnosari yah.
Karena cerita ini sudah END.
Bersambung.
__ADS_1