Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
48. RENCANA JAHAT BU RIMA


__ADS_3

Sesuai makan Tasya pun langsung ikut membersihkan piring kotor yang ada di meja. Sedangkan Abian dan juga pak Harun sudah keluar, mungkin saja sekarang mereka sedang membahas urusan laki-laki karena kebanyakan yang dilihat Tasya memang seperti itu kenyataannya.


Bu Rumi dan Tasya masih berada di dapur karena mereka belum selesai untuk membereskan perabotan yang ada di rak, karena nantinya akan diletakkan ke dalam lemari khusus perabot.


“Syah, kamu tadi mengatakan apa sama Bude, maaf tadi tidak fokus untuk mendengarkan kamu.” Bu Rumi pun langsung mulai membuka percakapan lebih dulu, karena beliau sungguh sangat ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.” Bu Rumi berceloteh panjang lebar dan terus menceocos.


“Tadi tante Rima meminta aku untuk tanda tangan,” ujar Tasya yang mulai mengungkapkan apa yang sebetulnya terjadi.


“Ternyata perempuan itu tidak main-main dengan ancamannya,” ucap bude Rumi dengan sangat geram.


“Jadi tante Rima sebetulnya juga datang ke sini, Bude?” tanya Tasya yang tak mengira jika wanita itu sungguh berani, dan mulai mempermainkan hatinya.


“Iya, tadi pagi juga sudah datang ke sini dan seperti yang kamu katakan barusan. Sungguh sangat tidak sopan,” kata bude Rumi mengungkapkan.

__ADS_1


“Lantas apa yang terjadi selanjutnya?” tanya bude Rumi, lalu menatap wajah Tasya dengan sangat intens.


“Abian menyuruhku untuk melakukan apa yang dimau oleh wanita itu,” ungkap Tasya.


“Apa kamu menurutinya?” tanya bude Rumi lagi.


“Iya, karena Tasya yakin kalau suamiku sedang merencanakan sesuatu untuk mereka.” Jawab Tasya dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.


“Sepertinya memang harus diberi pelajaran, agar wanita itu sadar jika semua adalah titipan, lagipula itu bukan haknya kan. Berani-beraninya ingin menguasai harta orang lain,” ucap bu Rumi dengan mata tajam, mungkin saking gregetnya karena terlalu serakah jadi manusia.


"Iya, Bude. Sekarang lebih baik kita keluar dan ikut bergabung dengan pakde dan juga Abian," ucap Tasya yang mengajak bude nya untuk keluar dari dapur.


"Iya sudah, yuk." Lalu keduanya akhirnya keluar juga dari perdapuran dan segera bergabung dengan para lelaki yang ada di teras.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, dimana rumah milik peninggalan Almarhum orang tua Tasya berada.


"Ma, bagaimana dengan siang tadi. Apa sudah beres?" tanya Ita karena ia sungguh tidak sabar dengan berita yang di bawa oleh orang tuanya, Ita.


"Tentu dong sayang, sebentar lagi kita akan kaya. Tinggal gadaikan lalu kalau tidak mampu membayar tinggal berikan, pasti bereskan." Dengan bangganya, bu Rima mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk ditiru, karena sangat memalukan.


"Ide bagus, karena aku sudah tidak sabar untuk membeli barang-barang branded. Supaya aku makin di sayang sama mertua," ucap Ita dengan bangganya. Bergaya dengan uang hasil merebut harta orang seperti itu memang kebiasaan dua wanita yang tidak lain, adalah bu Rima dan Ita.


Sungguh keluarga yang sangat kompak, sama-sama wanita matre.


Semua berkas sudah diberikan oleh saudagar kaya yang ada kampungnya, dengan berbekal surat-suran penting dan mengubahnya dengan uang yang banyak.


"Mungkin inilah caraku membayar sakit hatiku padamu, Mbak. Setelah kematianmu aku akan terus menghancurkan anakmu untuk sekarang.

__ADS_1


Dengan hati yang dongkol dan senyuman sinis membuatnya sangat lega, bukan begitu.


__ADS_2