Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
14. DI PAKSA PRIA LICIK


__ADS_3

Aku ingin menagih janjimu untuk menjadi istriku."


Uhuk.


Uhuk.


Seketika Tasya tersedak ludahnya sendiri karena mendengar pernyataan Bian.


"Apa kamu habis kejedot tembok?"


"Sepertinya begitu, tetapi inilah waktunya yang tepat untuk saya menagih apa yang pernah dijanjikan." Dengan tatapan serius Bian berkata.


"Apa tidak bisa di undur," ujar Tasya dengan hati sedikit ragu.


"Tidak, dan tidak ada penolakan untuk semua itu!" dengan suara tegas Abian berucap dan tak mau jika semua itu di tentang oleh Tasya.


"Persiapkan dirimu karena kita akan segera menikah di KUA, jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan apapun. Yang perlu kamu siapkan cukup mental mu," ucap Bian dengan penuh keseriusan.


Glek.


Tasya bersusah payah untuk menelan ludahnya sendiri karena merasa tercekik akan penuturan Bian kepadanya.


Kini hatinya mulai kalut, dalam benaknya apa bisa rumah tangga akan tenang jika tidak didasari oleh cinta? Semuanya seakan menari-nari di atas kepalanya.


"Bisa aku membatalkannya," ujar Tasya dengan wajah menunduk.


"Tidak, dan jangan coba-coba karena saya sudah merekam percakapan kita sebulan lalu!" ancam Bian pada Tasya dengan rahang yang tegas serta tatapan bak elang.


"Kamu licik," bentak Tasya seakan tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bian.


"Untuk berjaga-jaga jika mulut mercon sepertimu ingin mengelabuiku," seru Bian dengan senyuman liciknya ia berhasil membuat Tasya tidak berkutik, untuk saat ini.

__ADS_1


Dalam hatinya saat ini, Tasya benar-benar merutuki ucapannya tempo lalu. Nyatanya emosi dan rasa sakit hati membuatnya tak bisa berpikir jernih, untuk melakukan sebuah perjanjian.


"Baik, kurasa sudah tidak ada lagi yang akan dibahas. Sebaiknya kamu kembali bekerja dan kita akan berjumpa di KUA, Ingat! Jangan coba-coba untuk kabur jika tidak mau habis riwayatmu." Bian menambahkan dan kalimat terakhir yang bernada ancaman membuat Tasya tidak berkutik dan benar-benar nyalinya ciut.


Setelah itu, Abian tidak berkata apapun lagi dan langsung meninggalkan Tasya yang diam mematung. Bian Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis yang ada di depannya, bisa di pastikan jika perempuan itu sedang merutuki kebodohannya.


Pergi dengan membawa senyuman dan kepuasan Bian pun. Langsung menuju ke arah mobilnya berada.


Sedangkan Tasya masih diam di tempat semula, dengan mengepalkan kedua tangannya ia bersumpah akan membuat perhitungan nanti.


Dengan langkah lunglai Tasya pun mulai meninggalkan tempat dimana ia berdiri.


Tidak berapa lama Tasya sudah berada di warung lesehan milik pak Sobri.


Dengan wajah lesu dan rasa semangatnya pun hilang hanya karena lelaki itu. Lelaki yang sudah berani bermain licik dengannya.


"Syah, kamu kenapa? Balik-balik kok cemberut harusnya kan saya yang marah sama kamu." Pak Sobri pun yang penasaran perubahan sikap Tasya akhirnya memilih bertanya karena ingin tahu, kenapa wajahnya cemberut setelah kembali.


"Eh Pak Sobri, maaf ya Pak. Tadi tiba-tiba saja ada pria brengsek," ucap Tasya dengan wajah kesalnya karena dirinya terus kepikiran akan ucapan Bian.


"Kekasih, maksud Pak Sobri siapa?" Tasya pun bertanya balik karena merasa dirinya dan lelaki licik itu, tidak ada hubungan sama sekali.


"Apa kamu takut untuk mengakuinya?" pak Sobri pun yang dilanda penasaran lalu mendesak Tasya, agar mau mengaku jika memang mempunyai hubungan dengan lelaki yang sudah menari paksa, lengan Tasya.


"Pak Sobri ingi tahu apa mau tau nih," goda Tasya pada pak Sobri.


"Mau tau banget malah," balas pak Sobri dengan memainkan satu matanya, dengan cara dikedipkan.


"Kepo deh ah." Tasya sengaja ingin membuat kesal pak Sobri dengan cara menggodanya terus.


"Ini anak benar-benar ya," gerutu pak Sobri yang terus digoda oleh Tasya.

__ADS_1


"Itu tadi orang yang suka ngeselin Pak, kalau mau minta tolong suka maksa." Tasya sengaja berbohong agar pak Sobri tidak terus menerus bertanya. Berharap jika orang yang sedari tadi terus bertanya agar berhenti untuk menggodanya, karena Tasya tak mungkin berkata jujur tentang lelaki itu dan semuanya. Dengan apa yang sudah terjadi padanya.


Tepat pukul Delapan malam. Kebetulan pengunjung berdatangan dan itu membuatnya tak bisa melanjutkan pembicaraan, dan Tasya pun merasa jika kali ini ia benar-benar hoki. Nyatanya percakapan terhenti dan semoga pak Sobri melupakannya juga.


Sore ini warung lesehan milik pak Sobri benar-benar ramai. Itu karena semua dagangnya sudah habis di borong seseorang yang kaya raya. Maka jam setengah sembilan semuanya habis tak tersisa. Layaknya hati Tasya yang sudah tak tersisa karena kekecewaan.


"Alhamdulillah ya Syah, semua dagangan habis." Pak Sobri secara tiba-tiba itupun langsung berkata.


"Iya Pak, alhamdulillah beneran karena baru jam segini sudak habis karena di borong oleh orang kaya." Tasya pun membeberkan nyatanya semua itu memang benar.


"Iya Syah, semoga besok kita bakal dapat rejeki."


"Amin, semoga besok rejekinya akan selancar ini." Tasya menimpali dengan sebuah senyuman yang terlukis bahagia, dengan begitu dirinya akan segera pulang untuk segera merebahkan tubuh lelahnya itu. Sehari bekerja dengan berada di dua tempat, tidaklah muda untuk menjalaninya meski terlihat ringan.


...----------------...


Setengah jam lalu, Tasya baru saja masuk kedalam rumah. Kebetulan bu Rumi dan pak harun belum tidur, Tasya pun sedikit merasa heran dengan kedua orang tua yang sangat berjasa baginya.


"Bude, Pakde, tumben belum tidur?" tanya Tasya pada mereka.


"Kami sengaja menunggu kamu karena ada sesuatu hal yang harus kami sampaikan," ucap bu Rumi pada Tasya.


"Memangnya apa yang ingin kalian katakan kepadaku?" tanya Tasya dengan memasang wajah penasarannya.


"Menurut kami itu sangat penting. Maka dari itu kita berdua sengaja mengatakannya langsung dengan kamu," ucap bude Rumi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Bude, jangan membuat aku semakin penasaran dengan apa yang akan kalian sampaikan." Sembari berkata, Tasya pun langsung duduk dengan perasaan yang tak biasa. Entah kenapa Tasya berpikir jika semua orang hari ini terasa aneh semua.


"Bude dan Pade, berharap jika kamu akan mengatakannya dengan jujur, dan tidak ada yang kamu tutupi dari kami."


"Aku akan mengatakan jujur jika memang semua itu membawa nama dan keluarga." Tasya pun tengah merasakan takut hingga keringat dingin, karena menurutnya kedua orang tua yang ada di sampingnya itu terlalu bertele-tele.

__ADS_1


"Pakde harap juga seperti itu, agar kami berdua bisa tenang dan tak akan memikirkan hal-hal yang aneh." Suara pakde kini terlihat tegas namun dengan nada yang masih sama.


"Apa benar kamu akan---,"


__ADS_2