
Tasya ingin memastikan lagi kalau telinganya tidak salah dengar. Dengan perlahan ia pun menempelkan kepalanya di daun pintu agar dirinya bisa nendengarkan, lebih jelas lagi apa saja yang dibicarakan oleh Abian.
"Jadi, aku memang tidak salah dengar." Kini Tasya sudah mengetahui semuanya, tidak menyangka kalau Abian dengan wajah sombongnya bisa menyukainya.
Terdengar suara langkah kaki, buru-buru Tasya meninggalkan tempat itu dan segera beranjak ke dapur.
"Rupanya kamu sudah bangun?" saat Abian berada di dapur untuk membuat minuman, ia melihat Tasya juga berada di dapur yang sama.
"Seperti yang kamu lihat," ujar Tasya pada Bian.
"Terus dengan berdiri disitu kira-kira perutku akan kenyang dengan sendirinya," ucap Bian karena kedatangannya ke dapur selain membuat minuman ia juga lapar.
"Terserah aku dong mau berdiri di sini, nungging di sana atau bisa juga tengkurap di kamar mandi." Jawab Tasya tanpa punya rasa takut sedikit pun.
"Apa kamu tidak mengerti dengan bahasa yang ku gunakan," kata Bian dengan pandangan yang tak teralihkan.
"Bahasa kamu mirip bahasa planet jadi aku tidak terlalu paham. Kalau kamu menggunakan bahasa manusia bisa dipastikan aku mengerti," timpal Tasya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Saya lapar apa kamu puas, atau malah kurang kedengaran!" umpat Bian sedikit berteriak.
"Oh."
"Cuma begitu saja?"
"Lalu aku harus apa," kata Tasya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Masak, dan tidak pakai lama karena saya sangat lapar." Bian menekankan kata-kata 'Lapar' karena memang ia sangatlah lapar.
"Tunggu saja di meja makan aku akan membuatkanmu sarapan," ucap Tasya lalu ia pun langsung mengeluarkan ayam dari dalam kulkas.
Tidak membutuhkan waktu lama, nasi goreng jawa dan ayam goreng suwir sudah jadi. Tidak lupa Tasya juga membuatkan teh hangat untuk Abian.
"Mana kopi hitamku?" Bian pun mengerutkan kening. Pasalnya ingin kopi tapi yang disuguhkan adalah teh.
“Badan kamu belum sehat betul, jadi kurangi kopi.” Jawab Tasya seraya menatap lekat ke arah Bian.
“Ck … Kalau begini yang ada saya bisa-bisa ngantuk,” tukas Bian berdecih menatap teh dengan tidak suka.
“Tinggal tidur apa susahnya, dan jangan lagi protes soal kopi. Ingat! Hidup kamu itu sudah pahit jadi jangan banyak ulah,” seru Tasya. Lalu ia meninggalkan Bian seorang diri berada di meja makan.
“Hye, kamu ke mna. Saya belum selesai bicara!” teriak Bian namun Tasya tak menghiraukannya.
“Dasar mulut mercon, memang benar-benar keterlaluan.” Bian tidak berhenti mengoceh akan kelakuan Tasya yang semaunya sendiri.
“bisa-bisanya saya menikah dengan gadis itu, tapi kalau tidak sama dia saya juga tidak akan mempunyai istri kan?” Seperti orang gila Bian berbicara pada diri sendiri dengan kedua tangan masing-masing memegang sendok dan garpu.
__ADS_1
"Ah sudahlah lebih baik saya kerja. Daripada di rumah liat tingkahnya lama-lama gila juga ini otak," ucap Bian lalu ia pun segera berdiri dari duduknya. Setelah itu ia pun sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Tunggu!" teriak Tasya saat Bian sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu membuatku telat saja, ada apa sih!" gerutu Bian dengan kesal.
"Aku mau ke supermarket, motor mogok boleh kagak numpang?"
"Kamu bertanya," ucap Bian.
"Tidak, aku hanya berbicara." Jawab Tasya dengan enteng.
"Kalau saya tidak mau," ujar Bian.
"Jangan pelit-pelit Tuan. Apa kamu tidak takut orang yang pelit itu membuat kuburannya sem—."
"Jangan banyak bicara, masuk."
"Lama-lama gila beneran ini otak," gerutu Bian lagi.
"Apa kamu berbicara?"
"Bisakah mulutmu yang bau mercon itu diam," sergah Bian karena ia benar-benar tidak tahan dengan istrinya itu. Sangat cerewet dan itu semua membuat Bian naik darah.
Setelah mendapat bentakan dari Bian, Tasya pun segera menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara lagi.
"Apa bokongmu ada bisulnya? Makanya kamu seperti cacing kepanasan," kata Bian saat melihat Tasya tidak bisa diam walau itu sudah duduk.
"Ck … Ck, mulut diam kini ganti badan kayak cacing saja." Batin Bian.
Semakin lama, semakin Tasya seperti orang bisulan. Gosok sana gosok sini, hingga membuat Bian bertanya lagi.
"Kamu tidak bisa diam mending turun, bokong sudah seperti ulat bulu saja. Sengaja mau menggoda saya," ketus Bian dengan nada tidak suka.
"Enak saja itu mulut jaga ya," serang balik Tasya karena tidak terima.
"Terus kenapa itu?"
"Aku sebenernya kebelet pipis."
"Astaga Tasya! Kenapa sewaktu di rumah tadi tidak bilang, kamu benar-benar ya." Sungguh Bian tidak habis pikir dengan Tasya, bisa-bisa menahan kencing sampai-sampai bokong seperti ulat bulu.
"Tadi buru-buru takut kamu tinggal, jadinya ya nahan dan rasanya eummm ah. Udah gak kuat uhh," ucap Tasya dengan wajah dibuat-buat.
Sedangkan Bian sudah bergidik melihat tingkahnya karena hampir sama dengan wanita penggoda.
__ADS_1
Ciiiiiit.
"Apa kamu ingin membunuhku," gerutu Tasya pada Bian karena rem tiba-tiba mendadak di injak, hingga menimbulkan suara decitan.
"Cepatlah kencing karena saya tidak mau kalau kamu tiba-tiba ngompol," ucap Bian yang kini sudah berhenti di pom bensin terdekat.
"Apa kamu pikir aku anak kecil."
Brak.
Setelah berucap Tasya benar-benar keluar dan menutup pintu mobil dengan sangat kencang.
"Perempuan tidak ada lembut-lembutnya, pantas saja kalau mantannya lebih memilih wanita, yang lembut di banding dia yang seperti kucing garang." Di mobil Bian berbicara sendiri karena menurutnya sikap Tasya sama sekali tak mirip dengan perempuan kebanyakan.
Tidak berapa lama.
"Jalan," titah Tasya karena dirinya sudah selesai untuk mengeluarkan sesuatu di dalam sana.
"Kamu membuatku telat saja," gerutunya pada Tasya.
"Lagian kamu kaya beli mobil satu lagi tidak membuat kamu bangkrut kan," ujar Tasya.
"Kenapa kamu jadi meminta mobil, memangnya kamu siapa saya."
"Kamu lupa apa memang tidak sadar, kita kan suami istri." Jawab Tasya.
"Suami istri apaan, orang bercocok tanam saja belum."
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Tasya karena sekilas ia mendengarkan kalau Bian menyebut kata-kata bercocok tanam.
"Kupingmu saja yang rusak. Sudahlah cepat turun karena saya sudah kesiangan," ucap Bian yang kini sudah berada di depan minimarket.
"Baiklah. Terimakasih suami yang baik," puji Tasya pada Bian.
"Cih, rayuanmu tidak mempan."
Setelah itu Bian menjalankan mobilnya dan langsung meninggalkan Tasya yang sekarang berada di minimarket.
"Dasar lelaki aneh, sok kaya sok tampan dan sok segala-galanya." Tasya bergumam seraya masuk ke dalam sana, namun siapa sangka jika kali ini ia bertemu dengan seseorang yang tak penting.
Dugh.
Auh.
Tasya merintih karena saat pintu dibukanya ada seseorang yang mendorong pintu tersebut, hingga menatap kepala Tasya.
__ADS_1
"Apa kau sengaja," seru Tasya.