Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
13. (MENDAPAT TAMPARAN). SETELAH MENGHILANG KINI DATANG KEMBALI


__ADS_3

Jadilah wanita yang kuat dan jangan biarkan air matamu jatuh, hanya karena orang yang tak berharga untukmu. Jadilah wanita tangguh dan tidak cengeng dengan semua keadaan yang terjadi.


"Kau...."


"Apa! Mau aku tampar lagi mulut sampah mu itu," gertak Tasya pada Tia.


Sebetulnya Tasya tidak ingin terlalu menanggapi. Itu karena Tia yang sudah membawa mendiang orang tuanya pun menjadi geram. Tasya tidak peduli walau ada yang mengatakan jika dirinya seorang pembawa sial, ia hanya tidak terima orang tuanya ikut terlibat.


"Sudahlah Tia, kamu tidak akan mampu melawan Tasya karena dia bukan perempuan lemah." Aldo yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka mulut. Melerai pertikaian antara dua perempuan. Yang satu adalah sosok perempuan baru resmi menjadi istrinya dan satu lagi adalah masa lalu yang tak bisa dilupakan, sampai kapan pun. Entah perjanjian apa yang sudah disetujui oleh keluarga Aldo. Sehingga Tia bisa tiba-tiba menjadi seorang nyonya Aldo.


"Benar katamu, jika aku bukan perempuan yang mudah ditindas. Jadi, bawah pergi istri itu dari hadapanku sekarang juga!" bentak Tasya pada Aldo.


"Ingat ya, aku akan membuat perhitungan denganmu!" seru Tia dengan memegang pipinya yang panas, akibat tamparan dari Tasya. Membuatnya semakin dendam dan semakin ingin menghancurkan Tasya. Nyatanya itu terbukti karena dirinya sudah berhasil merebut Aldo dari pelukannya.


Setelah kepergian dua manusia yang tak tahu malu itu, Sonia mengelus pundak sahabatnya agar bisa tenang.


"Syah, jika kamu terbawa emosi maka orang itu akan semakin merasa tertantang."


"Bukan masalah itu. Kalau saja itu mulut gak sembarangan bicara, mungkin saja aku tidak akan menamparnya." Jawab Tasya dengan mengepalkan jemarinya.


"Lebih baik kamu minum, biar sedikit tenang." Sonia pun memberikan teh botol nyosor pada Tasya agar hati dan pikirannya tenang.


Untung pada saat karyawan berdatangan kedua manusia tak punya hati itu telah pergi, jika tidak maka bisa dipastikan namanya akab rusak.


"Untung saudara gilamu itu pergi. Kalau tidak, bisa jelek nama kamu." Melihat semua pekerja baru saja sampai Tasya pun menetralkan semuanya yang ada pada dirinya. Rasa sesak yang sangat keterlaluan menurutnya.


Tepat jam sembilan semua pegawai sudah berkumpul dan salah satu diantara mereka juga sudah membuka kuncinya.

__ADS_1


"Syah, fokus kerja." Sejenak Sonia melirik Tasya dan memberitahu jika jangan sampai ikut terbawa, oleh pekerjaan.


Tasya mengangguk paham dan setelah itu mereka masuk untuk memulai aktifitas seperti biasa.


...----------------...


Hari-hari yang di jalani oleh Tasya lebih berwarna. Tanpa terasa sebulan sudah setelah pertemuannya dengan Aldo, kini sudah tak terlihat lagi.


Lalu, tanpa diduga-duga pria yang sempat menghilang darinya selama beberapa minggu lalu. Kini kembali lagi dan langsung menemui Tasya di warung milik pak Sobri.


"Hye kau mulut mercon, saya mau bicara!" tanpa ada angin dan hujan apalagi petir. Abian tiba-tiba menyeret paksa Tasya keluar dari warung lesehan tersebut. Dimana ia mencari tambahan pekerjaan yang sudah dilakukan sejah setahun lalu.


"Apa sih kamu datang-datang main seret anak orang!" dengus Tasya dengan rasa kesalnya. Pasalnya ia baru saja akan membakar ikan dan lelaki itu malah membawanya keluar dan meninggalkan warung.


Sedangkan pemilik warung yang sedang berteriak pun tidak dihiraukan.


"Hye, harusnya yang marah itu aku! Lantas mengapa kamu yang marah." Tasya benar-benar tidak menyangka dengan kelakuan Bian, yang sungguh sangat keterlaluan menurutnya.


"Mulut mercon, bisa tidak itu mulut diam!" ketus Bian dengan wajah frustasinya.


Tasya pun diam sejenak dan berhenti untuk mengoceh. Pasalnya aneh saja jika tiba-tiba bertemu begitu saja.


"Baik sekarang lepaskan dan katakan apa mau kamu?" nada bicara Tasya mulai merendah dan mulai bertanya.


"Saya butuh bantuan kamu," ucap Abian dengan wajah memelas.


"Apa aku tidak salah dengar," kata Tasya dengan senyuman mengejek.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Bian dengan wajah tegaknya.


"Setelah kamu menghilang untuk beberapa minggu lalu? Lantas sekarang menyuruh aku untuk membantumu! Memangnya aku ini pembantu mu," kata Tasya dengan jelas.


"Bukan begitu, itu karena aku ada alasan mengapa beberapa minggu ini tidak terlihat." Abian pun mencoba menjelaskan namu Tasya kadung kesal pada Abian.


"Alasan apalagi, ingat! Aku bukan budakmu." Tasya pun terus menyerang Bian dengan kata kasar, itu semua karena ia benar-benar kesal.


"Aku kan memintamu dengan baik-baik mulut mercon." Ucapan dari Abian membuat Tasya langsung memperlihatkan, tatapan elangnya yang sangat tajam.


"Kalau kamu memintaku baik-baik mana ada menarik paksa. Coba lihat, sekarang kita ada di mana!" seru Tasya dengan wajah garangnya.


"Baik, aku meminta maaf karena membawa kamu tanpa permisi. Lalu menyeret kamu dengan paksa," ucap Abian meminta maaf karena sudah main seenaknya.


Tasya diam sejenak dan ingin menata nafasnya yang terasa sedikit sesak, entah Tasya begitu kesal Di saat dirinya melihat Abian yang semaunya sendiri, tanpa memikirkan perasannya.


"Jika sudah tidak ada yang ingin dikatakan, aku mau kembali dan bekerja!" tanpa ekspresi Tasya berkata.


"Berapa orang pemilik warung itu membayarmu, biar aky akan menggantikan uang yang sudah ia berikan ke kamu." Abian dengan suara tanpa beban itupun berkata, seakan dirinya tak ada salah sama sekali.


"Apa terlihat seperti seorang pengemis di sini aku?" tanyanya pada Abian.


"Aku hanya menawarkan, kenapa kamu susah untuk menerima." Jawab Abian dengan perasaan tak bersalahnya.


"Sayangnya aku tidak butuh belas kasihan kepada mu," ujar Tasya dengan suara tegas.


"Baik, sekarang aku akan mengatakannya untuk apa aku ke sini, lalu dengan sangat memohon kepadamu."

__ADS_1


"Apa."


__ADS_2