
"Bude kamu yang memberikan undangan pernikahan anaknya. Bude melihat ada nama lelaki sialan itu di undangannya," ucap bude Rumi dengan raut benci.
"Bude, dia bukan lagi keluargaku! Jangan menyebutnya lagi di hadapanku mulai sekarang." Setelah berucap dengan nada sedikit tinggi, Tasya melenggang masuk ke dalam rumah dan meninggalkan, mereka yang berada di luar.
Setelah kepergian Tasya. Bude Rumi menyipitkan mata karena melihat lelaki tersebut.
"Kenapa kau belum pulang juga bocah," ucap bude Rumi pada Abian.
"Sudah saya bilang! Kalau saya itu bukan bocah." Jawab Abian tak terima dan menyela ucapan bude Rumi.
"Lalu?"
"Nama saya Abian pangestu dan sebentar lagi akan menjadi suami Natasya."
Uhuk.
Uhuk.
"Apa kau bilang!" bude Rumi sangat terkejut dengan pengakuan lelaki yang berada di depannya saat ini, pasalnya Tasya baru saja patah hati karena di tinggal oleh kekasihnya. Lantas, belum dapat sehari sudah mau menikah? Sungguh membuat pusing kepala.
"Apa kau sedang menghamili keponakan ku, jawab jujur!" sergah bude Rumi yang tak terima jika keponakan satu-satunya yang dimiliki ternyata dinodai.
"Bagaimana bisa hamil kami baru setengah hari kenal," sanggah Abian menampik tuduhan tersebut.
"Ngaku gak kamu, buruan ngaku!"
Plak.
Bukh.
Bukh.
Plak.
"Ampun Bude ... Ampun! Sakit Bude berhenti," teriak Abian karena bude Rumi memukulinya dengan sapu.
Argh.
"Sakit."
Abian terus meronta hingga tubuhnya merosot ke tanah karena serangan bude Rumi yang sudah mirip seperti singa, yang tengah kelaparan.
Di dalam rumah. Tasya mendengar ada suara ribut-ribut di luar rumah memutuskan untuk melihat, karena membuat bising ditelinga.
__ADS_1
"Apa sih ribut-ribut," gumam Tasya sembari berjalan keluar untuk melihat.
"Bude lepaskan!"
Tasya berteriak saat matanya melihat bude nya tengah menghajar habis-habisan, lelaki yang baru saja ia kenal.
Dengan berlari cepat. Tasya merebut paksa sapu untuk menghajar Abian, lalu menjauhkan keduanya.
"Apa-apaan ini Bude!" bentak Tasya karena melihat seseorang yang di hajar. Mukanya pun membuat orang tak bisa mengenali karena mirip buah yang jatuh terus penyok.
"Dia ini sudah berani mengambil keperawanan mu, makanya Bude ingin menghajarnya. Bisa-bisanya ini laki ngebuntingin kamu!" celoteh bude Rumi yang terus menunjuk-nunjuk muka Abian.
Sedangkan Tasya menepuk jidatnya karena ia tidak menyangka kalau bude nya. Bisa seberutal itu hingga anak orang dihajarnya.
"Bude, aku masih prawan! Tidak ada yang menghamiliku." Bude Rumi yang mendengar penuturan Tasya pun. Langsung menelan ludahnya dengan susah payah.
"Jadi benar laki-laki ini tidak menodai kamu?" dengan hati-hati bude Rumi bertanya.
"Bude udah salah tuduh tau gak. Lihat itu anak orang! Bunyek kan mukanya," ucap Tasya sembari mengarahkan tubuh bude Rumi menghadap ke arah Abian. Agar bisa melihat seseorang yang sudah di siksanya.
"Huh. Kenapa mirip maling habis dihajar masa gitu ya," ucap bude Rumi pada Tasya.
Sedangkan Abian sudah kesakitan dengan memegang area wajahnya. Begitu pula dengan tubuhnya yang terasa remuk, hingga tak bisa merasakan satu-satu akan rasa sakit tersebut.
"Argh, kenapa bude kamu ngalah-ngalahin macan sih!" sungut Abian dengan menahan rasa sakit.
"Maaf, karena sudah buat muka kamu benyok." Tasya pun membantu Abian untuk berdiri, walau dalam hatinya ia juga sebetulnya ingin sekali tertawa.
Dengan wajah yang tak bisa di artikan lagi. Terpaksa Abian, atau di sapa Bian harus terpaksa mengikuti langkah Tasya.
"Apes banget ini hidup. Dasar mak-mak singa, enak saja main tuduh hamilin anak orang! Memangnya saya lelaki murahan apa." Dalam hatinya Bian tak henti-hentinya mengumpat karena merasa telah dirugikan.
"Aku yang patah hati, kenapa kamu yang jengkel." Tasya memandang wajah Bian karena terlihat sangat marah.
"Bukan masalah itu. Harusnya bude kamu lihat-lihat dong, saya laki-laki baik kenapa bisa dituduh memperkosa kamu!" dengus Bian yang tak menyangka hari-harinya akan apes seperti ini.
Sesampainya di dalam. Tasya pun mengobati wajah memar Bian.
"Pelan-pelan bodoh, ini terlalu sakit."
"Dasar cowok manja. Gitu doang dah ngelu," gerutu tasya pada Bian.
"Bukan masalah manjanya, tapi ini terlalu sakit." bian pun menjelaskan.
__ADS_1
Mungkin orang lain akan mengeluhkan sakit juga. Itu karena memang terlalu banyak wajah wajah memar yang dialami olehnya.
"Sudah. Sekarang kamu pulang karena ini sudah cukup sore," ucap tasya yang menyuruh bian untuk pulang karena sudah diobati lukanya.
"Kau berani mengusir calon suami," kata-kata Bian membuat Tasya langsung mendelik kan mata.
"bukan istri beneran kan, tap ... Lebih tepatnya istri di atas kertas," ucap Tasya dengan berani.
Seketika Bian terdiam karen sebuah kalimat yang di ucapkan oleh Tasya.
"Menarik." Satu kata yang berada dalam hatinya.
"tetap saja, itu semua sudah sah di mata agama dan negara. Jadi, paling tidak jangan membuat dosa pada suami kamu sendiri." Saat Bian dengan gamblang berbicara seperti itu, membuat Tasya langsung terhenyak. Kalau sudah menyangkut atas nama dosa.
"Memangnya kamu ingin menginap di sini?" dengan menelangkupkan kedua tangan Tasya bertanya.
"Memangnya siapa yang sudi tinggal di rumah ini, oh lihatlah nyamuk yang beterbangan. Membuatku bisa masuk rumah sakit karena alergi," kata Bian dengan wajah sombongnya.
"Dasar sombong," ujar Tasya.
"Jika kamu mu mengejek jangan duduk terus, cepat keluar dari rumahku!" sergah Tasya dengan wajah yang sudah di selimuti kekesalan.
"Aku hanya ingin makan dan kau pun, harus bertanggung jawab karena ulah bude kamu. Aku hampir mati karena di siksa," ucap Bian terang-trangan.
Huff.
Degan nafas berat, akhirnya dengan terpaksa mau tak mau ia juga harus bertanggung jawab. Dengan ulah yang sang bude, yang asal tuduh dan main hajar mirip perampok yang ketahuan mencuri.
Saat tasya hendak berdiri, ternyata bude Rumi lebih dulu menghampiri mereka berdua.
"Ada apa Bude?"
"Ajak makan lelaki itu, untuk ucapan permintaan maaf Bude dengan dia." Rupanya bude Rumi yang merasa bersalah. Akhirnya menyuruh Tasya untuk mengajaknya makan.
"Anak orang tidak akan mati Bude, kalau telat ngasih makannya. Soalnya dia udah kenyang," sahut timpal Tasya.
"Kok bisa?" bude Rumi merasa heran.
"Iya, tadi udah nyelem sambil minum air." Tasya sengaja berkata seperti itu dan pandangannya melirik ke arah Bian.
"Dasar cewek sialan. Bilang saja kalau mau ngatain saya! Gak perlu nyindir segala," batin Bian yang merasa sindiran itu memang ditujukan kepadanya.
"Iya Bude usah repot-repot untuk menawari saya makan. Memang betul apa yang dikatakan oleh Tasya, kalau tadi saya sempet nyelem sambil minum."
__ADS_1