
"Suara Bude yang cempreng itulah yang membuatku bangun!" Tasya pun setelah berucap segera melangkah ke kamar mandi, namun belum sempat melangkah suara budenya langsung, membuatnya terhenti.
"Tunggu," ujar bude Rumi.
Saat Tasya menoleh.
Auh,
"Sakit bude lepaskan," rintih Tasya yang tengah di jewer oleh budenya.
"Rasain, salah sendiri mengganggu kebahagiaanku."
"Iya maaf Bude, besok-besok gak gitu lagi." Jawab Tasya untuk tak mengulang kelakuannya di pagi ini.
Sesaat keduanya diam dan hidung mereka kembang kempis, karena sedang memperjelas ciumannya. Apa ada yang aneh atau tidak, lalu bude Rumi dan tasya pun saling pandang.
Sesaat.
"Apa kamu mencium sesuatu?" tanya bude Rumi pada Tasya dengan hidung yang masih muncup mekar.
"Baunya seperti ... Bude gosong!" teriak Tasya dengan tangan yang mengarah ke kompor.
"Ikan ... kuuu!"
Bu halima langsung berjalan untuk melihat ikannya yang sudah berganti warna.
"Semua ini gara-gara kamu tahu tidak," ucap bude Rumi kesal.
"Kenapa gara-gara aku?" tanya Tasya enteng.
"Karena kamu ikan yang ku goreng gosong." Jawab bude Rumi sambil mengangkat ikan yang sudah menghitam tersebut.
"Gak bisa Bude, yang goreng siapa?" Tasya memberi pertanyaan pada sang bude.
"Yang goreng ya Bude," jawab bude Rumi dengan mengangkat kedua alisnya.
"Nah, berarti yang salah juga itu Bude. Soalnya Bude tidak bertanggung jawab dengan si ikan tersebut, dengan meninggalkannya begitu saja." Tasya berkata panjang lebar dan mengatakan jika budenya yang salah.
Bude Rumi diam dan berpikir sejenak, apa betul yang dikatakan oleh Tasya itu kalau yang salah itu dirinya.
"Tunggu- tunggu, sepertinya ada yang salah." Bude Rumi sedari tadi diam karena merasa ada yang janggal dengan ucapan Tasya.
"Tasyaaaa! Jangan kabur kau ya." Bu Rumi sadar jika dirinya sudah dikerjai oleh Tasya, sedangkan pemilik nama tersebut sudah melarikan diri karena tidak mau, mendapat siksaan lagi.
__ADS_1
Tepat bu Rumi berteriak dari arah pintu penghubung dari pintu belakang. Pak Harun dengan langkah secepat kilat langsung menghampiri istrinya.
"Bu, Ibu kenapa teriak." Dengan wajah kuatir pak Harun berkata.
"Kelakuan Tasya membuatku sakit kepala! Sungguh menyebalkan anak itu," ucap bu Rumi pada suaminya.
"Memangnya kenapa itu anak?" tanya pak Harun dengan wajah penasaran karena sang istri berteriak sangat kencang, sampai terdengar dari halaman belakang rumah.
"Ini lihat, gara-gara dikerjain sama itu anak sampai gosong!" sungut bude Rumi yang masih kesal akan kelakuan Tasya sewaktu tadi.
Sedetik pak Harun menengok ke arah wajan, lalu bu Rumi pun memperlihatkan ikan yang berubah coklat kehitaman tersebut pada suaminya.
"Ini."
"iya, memangnya ada yang salah?" tanya bu Rumi pada pak harun yang seperti orang kebingungan karena sudah melihat pemandangan tersebut.
"Kalau cuma ini kenapa harus berteriak dan membuat orang heboh sih," sungut pak Harun yang terlihat sangat kesal. Pasalnya beliau belum selesai membersihkan kebun belakang saat mendengar suara teriakan, sampai harus terjungkal hanya karena ulah istrinya yang sangat menyebalkan itu.
"Gak bisa gitu dong pak, hari ini aku gak bisa makan ikan." Bu Rumi menjawab dengan wajah lesu.
"Kan bisa beli lagi toh harganya gak sampai 10ribu, kenapa harus diributkan." Pak Harun tak habis pikir dengan istrinya kenapa barang sepele harus diperdebatkan.
"Beli juga pakai uang kan," ucap bu Rumi dengan melirik ke arah sang suami.
Sedangkan Tasya yang ingin mengambil air dingin yang berada di lemari pun ikut menimpali.
"Alah bude mah emang suka gitu Pakde, orang aku saja tidak mempermasalahkan." Tasya pun ikut menyahut saat dua orang itu memperdebatkan ikan yang gosong tersebut.
"Iya, padahal mah yang cari uang biasa saja." Pak Harun menimpali.
"Orang gak ada yang istimewa juga dari rasa ikan itu. Kenapa pula harus diratapi," ujar Tasya melirik ke arah bude Rumi.
"Dasar bocah, ini ikan spesial tahu!" bu Rumi masih tidak terima dengan ikan yang sudah berganti warna. Meski dibuang sekalipun kucing tidak akan sudi untuk memunguti.
"Sepesial apa, orang rasanya asin doang." Ucapan Tasya membuat pak Harun tertawa, sedangkan bu Rumi melebarkan tatapannya pada Tasya.
"Sudahlah Bu, Bapak mau lanjut nyangkul pekarangan belakang karena mau ku tanami kangkung."
"Lagian itu hanya ikan asin gak harus di perdebatkan," imbuh pak Harun lagi.
Dalam hati Tasya tertawa karena budenya kena mental, karena yang gosong itu bukanlah ayam melainkan ikan asin.
Saat pak Harun berkata badan bu Rumi seketika lemas. Itu karena pagi ini ia tidak bisa menikmati sarapan dengan lauk ikan asin dan lalap petai.
__ADS_1
"Ish, kenapa semua orang menyebalkan. Inikan ikan terenak dari segala jenis ikan, kecuali sate." Dengan terpaksa bu Rumi membuang ikan asin yang tal layak komsumsi itu ke dalam tong sampah.
...----------------...
Setelah tragedi ikan gosong, Tasya pun langsung berangkat bekerja dan sekarang sudah waktunya untuk makan siang.
"Son, ngebakso yuk." Sonia pun mengajak Tasya untuk pergi ke kedai bakso langganannya.
"Boleh."
Akhirnya mereka berdua pun pergi untuk membeli bakso di kedai pak Somat.
Tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar 10menit, mereka berdua sudah berada di kedai.
Setelah sampai diparkiran Tasya pun turun dari motor dan sudah siap untuk masuk ke dalam. Namun, sesampainya di dalam Sonia pun langsung marah-marah pada Tasya.
"Syah, kamu benar-benat gila ya. Siapa yang ngajak siapa juga yang digandeng," ucap Sonia dengan wajah cemberut.
"Lha kalau kamu baru nyusul, terus siapa dong yang aku gandeng?"
Degh.
Tasya pun perlahan menoleh ke arah sosok yang digandeng olehnya.
"Apa! Bisa-bisanya tanganku kamu tarik," ucap pria yang diseret paksa dengan Tasya.
"Iya harusnya kamu bilang dong kalau aku salah orang, bukannya malah menikmatinya!" seru Tasya dengan tatapan bengisnya.
"Hye, dasar cewek gila! Aku tadi sudah teriak dan mencoba melepaskan tanganku dari tangan kamu. Yang ada kamu gertak dan bilang jangan banyak omong," ujar pria itu lagi saat menjelaskan.
Seketika Tasya tertunduk malu karena tadi memang sempat membentak, karena ia pikir kalau pria itu adalah Sonia. Bodohnya lagi Tasya tidak mengenali suara temannya atau bukan.
"Iya deh maaf, karena udah gak sengaja." Tasya meminta maaf pada pria tersebut, sedangkan pria itu kembali keluar.
"Son, kenapa aku bisa salah orang sih." Tasya mengatakan pada Sonia dengan raut wajah kesalnya, karena mata pengunjung tak luput dari pandangannya pada dirinya.
"Lagian kok bisa," ujar Sonia.
"Sepertinya aku kualat sama bude."
"Kenapa?" tanya Sonia penasaran.
"Karena tadi pagi ada huru-hara."
__ADS_1