Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
12. NATASYAH BUKAN PEREMPUAN LEMAH


__ADS_3

Jangan mempertahankan seseorang jika yang dipertahankan saja, tidak bisa memperjuangkan. Anggap dia sudah mati dengan begitu, kamu bisa mengubur semua kenangan saat dengannya.


Sontak bude Rumi pun terheran-heran.


Dalam benaknya minum itu bukan lapar tapi haus, bagaimana bisa nyelem sambil minum air? Sungguh bahasa anak muda jaman sekarang membuatnya pusing.


"Sudah lah. Bude tidak paham dengan bahasa yang kamu gunakan itu," ujar bude Rumi yang memilih pergi dari mereka. Sebentar lagi pak Harun pulang jadi bude Rumi pun menyiapkan air hangat untuk sang suami.


"Sebaiknya kalian makan dan jangan ada yang menyolot karena Bude, akan menyiapkan air untuk pakde kamu!" suara cempreng dan terdengar ketus itu, lantas meninggalkan Tasya dan Abian.


Selepas bude pergi. Kini hanya ada mereka berdua di meja makan.


"Udah buruan makan dan segeralah pulang!" ketus Tasya yang tak bisa berbicara halus dengan siapapun.


"Dasar mulut mercon! Saya di sini itu kan semua karena kamu, coba saja jamu gak nangkring di atas motor saya. Ini muka gak bakal seperti ini," ujar Bian dengan penuh kekesalan.


"Salah sendiri, itu kan bukan salah aku!" dengus Tasya dengan wajah mengejek.


"Dasar mulut mercon," batin Bian.


"Saya mau pulang, ingat tentang perjanjian kita!" Bian pun langsung melenggang keluar meninggalkan rumah bude Rumi.


Sedangkan Tasya merasa acuh pada Bian yang memilih pergi begitu saja, tanpa menyentuh makanan sedikitpun.


...----------------...


Keesokan paginya. Tasya seperti hari-hari biasa yang sibuk mencari uang demi bisa menyambung hidup dan membantu, perekonomian bu Rumi dan pak Harun.


Pagi ini Sonia sengaja pagi-pagi sudah datang untuk menemui Tasya. Itu karena Sonia takut jika temannya masih tidak terima akan penghianatan, yang dilakukan oleh Aldo! Mantan kekasih Tasya yang telah memilih menikahi keponakan dari temannya itu.


"Semoga Tasya sudah bisa melupakan lelaki brengsek itu," ucap Sonia yang ikut sakit hati karena temannya sudah dikhianati.


Tidak berapa lama kemudian. Sonia sudah berada di depan rumah bu Rumi, lalu ia pun menegur sang empu yang berada di depan dengan tangan yang memegang gagang sapu. Untuk dibuat bersih-bersih.


"Bude," sapa Sonia pada bude Rumi yang sedang menyapu pelataran rumah.


"Eh Sonia, masuk Nak." Bu Rumi pun mempersilahkan Sonia untuk masuk karena bisa dipastikan sedang mencari Tasya.

__ADS_1


"Iya Bude makasih," celetuk Sonia sembari langkahnya mengayun ke arah pintu.


Sonia celingukan mencari Tasya karena hampir semua ruangan ia jajahi, namun Tasya belum juga kelihatan.


"Kebiasaan ini anak, kemana sih perginya! Heran deh ah." Sonia tidak berhenti menggerutu karena ia merasa sudah muter-muter, namun belum juga terlihat.


Saat Sonia lelah dan memilih duduk, tiba-tiba dari arah kamar mandi keluar Tasya. Secara tiba-tiba dan itu membuat Sonia sedikit terkejut.


"Nah ini anak, aku cariin dari tadi kaga taunya di kamar mandi." Sonia menatap Tasya dengan wajah kesalnya.


"Memangnya itu semua salahku, salah sendiri!" sahut Tasya dari arah kamar mandi yanng tak jauh dari meja makan.


"Dasar sialan," umpat Sonia dengan memasang wajah kusutnya.


"Ada memangnya? Pagi-pagi sudah berada di sini," ujar Tasya sembari mengambil cangkir dari rak piring.


"Apa gak boleh mengkuatirkan seorang sahabat! Apa aku juga salah pagi-pagi sudah berada di sini?" kalimat yang keluar dari bibir Sonia. Membuat Tasya merasa bersalah.


"Bukan itu maksudku...."


"Bukan apa!" potong Sonia pada ucapan Tasya.


"Aku harap kamu baik-baik saja," ujar Sonia yang memilih menghindar dari ucapan sebelumnya.


"Kamu tenang saja, aku bukan perempuan lemah dan menangisi seseorang, yang sama sekali tidak berguna." Tasya berkata dengan meremas kedua tangannya dengan sangat erat. Walaupun sedikit dipermainkan oleh perasaan namun Tasya berusaha untuk melupakan.


"Bagus kalau begitu," puji Sonia.


Walaupun di dalam hati Sonia sedang berpikir keras, kenapa Tasya bisa segampang itu melupakan penghianatan yang tak lama terjadi. Apa mungkin Tasya sudah punya seseorang yang lain? Seakan semua menari-nari di dalam kepala Sonia.


"Son, kenapa kamu mendadak alim dan gak cerewet seperti tadi?" melihat Sonia diam dan sedang menatap langit-langit yang berada di plafon. Membuat Tasya langsung meluncurkan pertanyaan.


"Apa mau aku terus mengomeli kamu!" tukas Sonia dengan mata menjurus ke arah Tasya.


"Kalau bisa jangan. Suara kamu sudah mirip panci yang dilempar jadi lebih baik kamu tidak bersuara," ucapan Tasya mampu membuat Sonia kesal.


"Dasar menjengkelkan," sungut Sonia.

__ADS_1


"Syah, apa kamu merasa sudah baik-baik saja?" sekarang waktunya untuk Sonia berbicara serius.


"Seperti yang kamu lihat. Bahkan jauh lebih baik," ucap Tasya dengan begitu yakin dengan apa yang dirasakannya sekarang.


"Aku percaya. Sekarang lebih baik kamu siap-siap karena ini sudah jam delapan lebih," ucap Sonia yang menyuruh Tasya untuk segera bersiap.


"Iya." Tanpa protes Tasya pun langsung beranjak ke kamar untuk berganti pakaian.


Tidak berapa lama keduanya sudah siap untuk berangkat bekerja. Mengawali hari senin dengan penuh semangat, lalu melupakan segalanya yang dirasa tidak penting dan harus dibuang jauh-jauh.


Setengah jam kemudian. Sonia dan Tasya sudah berada di depan toko dan bersiap untuk membukanya. Masih ada sisa setengah jam lagi untuk Tasya mengatakan sesuatu pada Sonia


Belum sempat Tasya mengatakan akan akan pertemuannya dengan Abian. Sesosok anak manusia yang tengah bergandengan tangan dengan mesra, seakan tak sedikitpun mempunyai dosa kepadanya. Malah terlihat sangat bahagia di atas penderitaan orang dan seakan kedua pasangan itu seakan puas, melihat kehancuran Tasya.


"Syah, apa kamu tidak apa-apa?" pertanyaan itu lolos begitu saja karena sedari tadi, Tasya menatap kedua pasangan penghianat yang sedang berjalan ke arah toko.


"Tidak," jawab Tasya langsung.


Benar saja kedua orang itu sedang berjalan ke arah Tasya dan kini dihadapannya ada sosok yang pernah menemaninya dalam beberapa tahun lalu.


"Syah, maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir lelaki bajingan tersebut.


"Sayang, kenapa kamu malah meminta maaf pada perempuan pembawa sial ini...."


"Tutup mulutmu!" gertak Tasya tanpa ada rasa takut.


"Aku tidak butuh kata maaf kamu! Nyatanya kamu dan dia sama-sama bajingan," sergah Tasya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Lancang kau ya, mengatakan jika kami ada bajingan! Harusnya kamu sadar diri kalau memang kamu sana sekali tidak pantas, bersanding dengan Aldo." Tia pun tidak terima saat Tasya mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Namun, kenapa dengan mudahnya Tia menghina orang dengan seenaknya? Apa itu adil! Sepertinya tidak.


Cuih.


Tasya meludah tepat dihadapan sepasang pengantin baru.


"Jika kalian di sini hanya memamerkan semua itu padaku, ku rasa tidak perlu. Alangkah lebih baik jika kalian pergi dari depan mataku," ucap Tasya pada mereka berdua.


"Pantas saja orang tuamu mati, ternyata ini kelakuan anaknya yang tak bisa sopan saat berbicara!"

__ADS_1


PLAK!


__ADS_2