Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
53. ALDO BERCERAI


__ADS_3

Kenapa kamu tiba-tiba ingin bercerai denganku, apa kamu punya selingkuhan lain!"


"Tutup mulutmu! Harusnya kamu tahu kenapa aku seperti ini, dan jangan mencari kesalahan lalu melemparkannya padaku." Jawab Aldo dengan tegas pada Ita.


"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti itu, Aldo."


"Kenapa tidak bisa? Kamu pun bisa melakukan semua itu pada bukan," kata Aldo mengangkat kedua alisnya dan tersenyum licik.


"Apa kamu tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan padaku, aku mengorbankan seseorang hanya demi orang tuaku, untuk menikahimu."


"Ya sudah, itu tidak penting untukku. Kalau kamu pengen kita cerai, ya tinggal ceraikan."


Aldo pun seketika pergi dari hadapan Ita, untuk pulang ke rumahnya.


Sedangkan di tempat lain.


"Mas, kamu bau." Tasya menutup hidungnya saat Abian mendekat padanya.


"Tapi saya sudah mandi." Jawab Abian dengan menciumi ketiaknya dari yang kiri dan pindah ke kanan.


"Tapi kamu sungguh bau," kata Tasya yang sudah tidak tahan dengan bau suaminya itu.


"Syah, saya baru saja mandi dan sudah memakai parfum mahal. Masa ia saya masih bau," ucap Abian yang tidak terima dibilang bau.

__ADS_1


"Bisa tidak kamu itu kalau bicara pada gak perlu formal! Kesel deh dengernya." Tasya kesal pada Abian, karena setiap berbicara ia selalu berkata formal.


"Salah lagi," keluh Abian.


"Siapa yang nyalahin kamu?"


Abian menepuk jidatnya. Merasa jika istrinya makin bertambah galak, entah kehamilan Tasya sepertinya sangat menyiksanya.


"Saya…."


"Apa, lama kamu ku pecek jadi ikan lele ya."


"Ya Allah, nasib-nasib punya bini begini amat ya. Kapan aku benernya," keluh Abian dalam hati dengan tangan mengelus dadanya.


"Jangan mengumpat!" bentak Ta


Hufff.


"Sayang aku panggilin Sonia, ya."


Seketika wajah Tasya berbinar kala mendengar na Sonia. Seperti seseorang yang menemukan bongkahan berlian.


"Boleh, Mas. Jangan lupa segera mandi karena kamu bau bangkai," kata Tasya pada Abian.

__ADS_1


"Sadis banget, pakai ngatain bangkai, wanita hamil memang suka aneh." Dalam hati Abian tidak berhenti mengumpat karena Tasya terus saja memarahinya.


******


Benar saja. Sekitar setengah jam kemudian. Sonia benar-benar datang dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Syah, kata suami kamu, kamu sedang marah-marah. Kenapa?" tanya Sonia saat melihat Tasya sedang memainkan gawai yang berada di tangannya.


"Kesal aku, Son. Masa deketin aku mulu kan bau," keluh Tasya pada Sonia.


Sonia yang mendengarkan Tasya pun langsung mengerutkan keningnya.


"Suami Tasya baunya wangi banget, tapi kok aneh malah bilang bau?" dalam hati Sonia bertanya-tanya.


"Sepertinya hidungmu perlu di bawa ke dokter. Mana ada suami kamu bau," kata Sonia.


"Tau ah, pokoknya bau dan bau,"


***


Hari-hari yang dilewati Tasya terasa cepat, hingga usia kandungannya sudah menginjak lima bulan. Ia dan suaminya sengaja tidak mau memperlihatkan jenis kelamin dari anak-anak mereka. Tasya menerima apapun jenis kelaminnya saat keluar nanti.


"Sayang, aku mau makan mangga." Tasya pun merengek meminta mangga pada suaminya.

__ADS_1


"Tapi ini sudah jam sembilan, penjual buah pun pasti tidak ada yang buka, dan ini sudah malam." Jawab Abian yang kala itu ingin menuju kamar tidur, dan sudah bersiap pergi ke alam mimpi


"Aku gak mau tahu. Pokoknya belikan sekarang, dan cepat bangun." Tasya merajuk karena keinginannya belum terpenuhi, dan dan segera menyuruh suaminya mencarikan mangga.


__ADS_2