Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
18. INGIN RASANYA KU TUKAR TAMBAH DENGAN YANG BERWIBAWA


__ADS_3

Keduanya pun langsung berdiri dengan dada berdegup karena ada seseorang, yang sedang memergoki.


Tasya dan Abian pun membenarkan baju mereka masing dan tidak mau jika orang itu menganggap, jika keduanya sedang melakukan hal yang tak senonoh.


Ekhem.


"Ada apa kamu datang ke ruangan saya, harusnya sebelum masuk usahakan mengetuk terlebih dulu karena apa yang kamu lakukan itu, termasuk perbuatan lancang!" dengan tatapan tajam mengarah pada perempuan yang tiba-tiba masuk, Bian pun berucap dengan sangat tegas.


"Ma-af Pak, karena saya sudah lancang." Lantas perempuan yang menjabat sebagai kasir itupun langsung meminta maaf.


"Dasar ganjen, bisa-bisanya menggoda anak bos." Perempuan yang diketahui bernama Sandra itu mengumpat Tasya, karena dianggapnya ganjen.


"Lain kali usahakan mengetuk pintu terlebih dulu," ucap Bian dengan tatapan tidak suka.


"Saya hanya ingin memberikan ini." Lalu Sandra pun memberikan sebuah berkas pada Bian.


"Baik terimakasih. Kamu boleh pergi," ketus Bian.


Setelah kepergian Sandra, Tasya pun buru-buru meminta amplopnya agar dirinya bisa segera keluar, dari ruangan yang membuatnya gerah.


"Sekarang berikan gajiku!" seru Tasya dengan tangan menadah pada Bian.


"Ambil sampai dapat." Ucapan Bian membuat Tasya langsung melebarkan pandangannya dengan rasa tidak suka.


"Bisa saja sih saya memberikan gaji kamu ... Asal kamu mau mencium ini," rasa terkejut yang ada pada Tasya belum hilang, malah dipersulit lagi oleh bos gilanya itu.


"Tidak bisa begitu dong, itu kan hak ku. Jadi, sekarang serahkan karena aku harus bekerja lagi dan tidak mau menuruti ide gilamu itu," sergah Tasya yang menolak mentah-mentah permintaan konyol tersebut.


"Aku sudah meminta bos kamu itu untuk memecatmu, mengerti."


"Kamu keterlaluan ya, kamu tak pernah menjadi orang susah sepertiku dan bagaimana aku harus mengumpulkan uang-uang itu. Hanya untuk pengobatan pakde!"


Degh.


Seketika Bian menatap wajah Tasya dengan penuh rasa bersalah.


"Jadi ... Jadi selama ini ia bekerja untuk biaya pengobatan, kukira dia melakukan itu hanya karena ingin cepat kaya. Maka dari itu aku menawarkan kekayaan padanya," ucap Bian dalam hati karena ia pikir jika Tasya seorang penggila uang.


"Kenapa tidak menjawab! Apa kamu pikir aku seorang penggila uang hingga melakukan pekerjaan tanpa henti, kamu salah besar jika menilai ku seperti itu." Dengan amarah yang sedang menguasainya sedikitpun tak ada rasa takut untuknya. Dengan berani Tasya langsung mengambil amplop tersebut dari tangan Bian.


Setelah berhasil mendapatkan amplop tersebut, Tasya pun keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan pria gila itu, yang masih menatapnya tanpa berkedip.


"heh, jika menilai aku adalah wanita lemah dia salah orang." Tasya tak henti-hentinya ia mengumpat karena kesal.


Brakh


Pintu di tutup dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara keras. Sampai-sampai Abian terlonjak karena saking kagetnya.


"Dasar cewek bar-bar," gerutu Bian.

__ADS_1


Ceklek.


"Jangan berani-berani mengataiku."


Brakh.


Untuk kedua kalinya Tasya menutup pintu dengan sangat keras.


Yah, sewaktu tadi Tasya belum benar-benar pergi, ia masih berada di depan pintu karena yakin pasti pria gila itu akan mengumpatnya, dan ternyata benar. Sesuai feeling-nya kalau Bian memang mengumpatnya.


Sedang Abian tidak habis pikir dengan kelakuan perempuan yang sebentar lagi, akan menjadi istrinya. Tepatnya istri di atas kertas.


...----------------...


Benar saja. Sesampainya di tempat pak Sobri Tasya di suruh pulang, karena sudah mendapat ganti yang sudah dicari oleh pemilik warung lesehan itu sendiri.


"Dasar pria gila, pria brengsek! Bisa-bisa nyuruh pak Sobri buat mecat aku, rasanya pengen ku bejek-bejek itu orang. Heran deh, apa sih mau itu orang." Sepanjang perjalanan pulang mulut Tasya tak henti-hentinya mengomel.


Saat pada sampai rumah pun mulutnya masih mengoceh memberi sumpah serapah pada Abian, karena ia sungguh-sungguh dirugikan.


Tasya pun tak menghiraukan bude Rumi dan pak Harun yang sedang bersantai. Ia melewati mereka begitu saja tanpa ada tegur sapa dan itu membuat kedua pasangan pasutri saling tatap.


"Kenapa itu anak?" tanya pak Harun pda sang istri.


"Kalau Bapak tanya Ibu, terus Ibu tanya siapa dong." Bu Rumi menatap lekat ke arah sang suami.


"Tanya tetangga siapa tahu," ujar pak Harun.


"Coba bilang sekali lagi," kata bu Rumi dengan ketusnya ia menantang pak Harun.


"Mana berani Bapak," jawab pak Harun yang mulai ketakutan.


"Bagus."


Setelah berkata bu Rumi pun berdiri, ia akan melihat Tasya yang sedang berada di kamar. Siapa tahu orang yang sudah dianggapnya layaknya anak kandungnya itu, sedang dirundung masalah.


Tok.


Tok.


Tok.


"Iya sebentar." Suara dari dalam itu sedang menyahuti ketukan pintu.


Ceklek.


"Bude."


"Bude, boleh bicara?"

__ADS_1


"Mau bicara apa, Bude." Tasya pun membuka pintu dan mempersilahkan bude Rumi untuk masuk.


"apa ada masalah?" tanyanya pada tasya.


"Tidak ada." Jawab Tasya dengan suara enteng.


"Terus tadi kenapa kek tawon yang lagi terbang. Udah gitu kamu gak salam dan tidak menegur kami!" bude Rumi memandang sosok gadis yang ada dihadapannya menelisik tiap inci wajahnya, guna mencari kebohongan.


"Tega sekali Bude aku kek tawon." Dengan mimik wajah setengah merajuk Tasya berkata.


"Lah emang seperti itu kan. Kamu marah-marah tidak jelas makanya mirip tawon terbang," ujar bude Rumi dengan wajah khasnya.


"Iya gak disamain kek tawon juga kan," ucap Tasya sedikit kesal.


"Kalau bukan mirip tawon, lalu mirip burung kutilang."


"Kenapa berubah jadi mirip kutilang." Tasya semakin merajuk, ditambah sang bude mengatakan jika dirinya sama dengan kutilang.


"Ya sudah kalau begitu mirip isi kebon binatang." Bude Rumi geram hingga kehabisan kata-kata.


"Terus kenapa kamu tadi ngomel ga jelas. Kamu belum jawab lho pertanyaan Bude tadi," ucap bude Rumi sembari membenarkan letak duduknya.


"Tadi hanya kesal saja karena ada orang gila yang terus mengejarku," kata Tasya yang sengaja berbohong. Rasanya tidak mungkin jika dirinya mengatakannya dengan jujur, kalau sebenarnya semua ini karena pria gila itu.


"Kamu serius dikejar orang gila?" bude Rumi rupanya percaya dengan ucapan Tasya.


"iya Bude, untung bisa kabur. Coba kalau tidak," ucap Tasya penuh keyakinan agar bude nya percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.


"tapi kamu tidak apa-apakan?" tanya bude Rumi.


"Gak papa sih, hanya saja otakku lama-lama yang bisa gila karena pria itu." Batin Tasya dengan hati yang dongkol jika teringat akan ulahnya yang seenaknya sendiri.


"Bude tenang saja, aku tidak apa-apa kok." Jawab Tasya dengan diiringi senyuman palsu.


"Bude, aku mandi dulu ya gerah." Tasya sengaja mencari alasan yang tepat karena ia tidak mau, makin jauh yang ada nanti bisa-bisa bablas.


"Ya sudah, segera mandi karena kita akan kedatangan calon suami kamu."


Hacihh.


Hacihh.


Bu Rumi menatap tidak percaya, karena orang yang kaget itu pasti akan tersedak, tapi ini. Ini malah bersin sungguh aneh bin nyata.


"Kamu flu?"


"tidak." Jawab Tasya.


"Lalu."

__ADS_1


"Bersin."


"TASYAAAA!"


__ADS_2