Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
43. HATI ABIAN BERBUNGA-BUNGA


__ADS_3

"Jangan berbelit dan segera katakan," ucap Delon yang tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh Bian.


"Mama tadi ke sini hanya untuk menanyakan apakah Tasya sudah hamil atau belum," jelas Bian pada Delon.


"Jadi itu masalahnya?" tanya Delon dengan posisi jemarinya yang sedang memainkan pulpen.


"Iya, dan saya benar-benar bingung harus berbuat apa. Sedangkan kamu sendiri tahu bagaimana hubungan saya dengan gadis itu bukan," kata Bian yang memang hanya Delon lah yang tau soal ini, dan berharap dia juga tidak akan membocorkan semuanya pada orang-orang.


"Memang hubunganmu dengan istrimu harusnya seperti apa! Saya pun tidak bisa membantu kamu karena hidup saya juga sudah rumit," ucap Delon karena ia juga tidak mau terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang, meski itu sahabatnya. Namun, kalau hanya nasehat ia berusaha untuk memberikan yang terbaik.


"Saya tidak tahu, tapi saya memang sangat mencintai Tasya, walau dia masih tidak bisa membalas perasaan saya." Jawab Abian dengan mata menatap ke atas langit-langit atap.


Melihat temannya seperti ini membuat Delon kasian, pasalnya ini kali kedua Bian menjalin hubungan dengan seseorang dan berujung perpisahan, dan itu juga membuat dirinya sendiri untuk tidak memikirkan soal wanita. Itu karena ia takut jika nantinya akan dipermainkan sebagaimana Bian saat ini.


"Sepertinya kau perlu pergi ke suatu tempat, dimana kalian akan menghabiskan waktu bersama. Itu hanya saran dariku saja," kata Delon memberi usul pada Bian.


"Tidak buruk," ucap Bian. Setelah berpikir jika Tasya maupun dirinya butuh tempat untuk mencari ketenangan sesaat.


"Jadi, bagaimana?" tanya Delon dengan tatapan serius.


"Saya setuju dengan saran kamu, karena sepertinya memang kita butuh tempat untuk menenangkan hati dan pikiran. Siapa tahu dengan begitu Tasya perlahan bisa mencintai saya," ucap Bian yang mengungkapkan tentang perasaannya pada Tasya.


"Apa ada ide untuk tempatnya?" tanya Bian lagi.


"Pantai melihat keindahan senja di sana, dan menyaksikan matahari tengelam." Jawab Bian dengan cepat.


"Baiklah, terimakasih untuk usulnya, dan nanti sore saya akan menjemputnya di toko. Lalu untuk urusan klien sepertinya kamu yang harus turun tangan," ujar Bian pada Delon, untuk menggantikan dirinya bertemu dengan klien, karena kepergiannya dengan Tasya tentu untuk masalah hidup dan matinya.


"Sekarang kamu boleh keluar karena hari ini saya tidak mau di ganggu," ujar Bian pada Delon untuk segera meninggalkan ruangannya.


Ck.

__ADS_1


Ck.


"Dasar bedebah, giliran tadi merengek dan sekarang diri ini di singkirkan ... Kau sungguh terlalu," tukas Delon dengan menghentakkan kakinya, lalu keluar dari ruangan Abian. Orang yang sangat menyebalkan pikirnya.


Brakh.


Pintu di tutup dengan sangat kerasa, hingga membuat Abian berjingkat karena kaget.


"Dasar sialan," umpat Bian karena ulah Delon hampir saja dirinya mengalami jantungan.


"Belum rasain indahnya surga dunia, dan mempunyai anak. Masa ia mau kejang dulu, ih amit-amit." Bian berulang kali memukul keningnya sendiri saat dirinya mulai membayangkan, hal-hal yang terlalu jauh untuk dibayangkan.


Bian menaruh kedua kakinya berada di atas meja. Lalu menyilangkan kedua tangannya, kini semua ruangan seakan berubah menjadi wajah Tasya.


"Apa saya akan menjadi gila, karena terlalu banyak melihat wajah Tasya dimana-mana?" ucapnya pada dirinya sendiri yang saat ini tengah tersenyum bagai orang tidak waras.


"Kenapa dengan otakku, membayangkan yang indah-indah tentu saja mau. Apalagi dengan seorang istri," gumamnya dengan tatapan yang sama.


Sedangkan di toko, Tasya sedang menghias roti dengan sangat serius dan penuh ketelatenan. Hari ini dirinya sedang ada pesanan, itu mengapa ia menghias tart dengan hati-hati, dan tentunya akan membuat pelanggan begitu puas.


"Mbak, nanti kue nya sama yang punya di ambil jam tiga katanya." Salah satu karyawan menghampiri Tasya dan mengatakan perihal kue tersebut.


"Tentu, dan kamu tenang saja karena ini sudah hampir selesai." Tasya pun langsung memperlihatkan karyanya pada seseorang di sampingnya.


"Wah ... Cantik sekali," puji wanita itu.


"Kamu terlalu berlebihan," kata Tasya yang memang dia adalah tipe orang yang tidak suka di puji.


"Beneran Mbak, aku pengen bisa ikut menghias jadinya." Mendengar wanita itu berkata Tasya pun tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu aku akan melanjutkan membuat karya lagi," kata Tasya dan mengambil lagi butter krim.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian. Datang seorang laki-laki yang sangat tampan, dan dengan ramah Sonia pun menyambutnya.


"Selamat di toko roti kami."


Lelaki itu tersenyum namun tatapannya terlihat dingin.


"Saya mau mengambil pesanan kue tart saya, apa sudah jadi?" tanya pria itu pada Sonia.


"Silahkan duduk Pak, saya akan melihat ke belakang sebentar." Setelah berkata Sonia langsung meninggalkan si pria tersebut.


"Syah, apa sudah jadi kue nya? Pemiliknya sedang ada di luar menunggu," kata Sonia saat sudah berada di dapur.


"Iya, sudah kok. Ini mau di taruh di kotak dan orangnya suruh nunggu sebentar," ujar Tasya pada Sonia untuk menyampaikan pada laki-laki tersebut.


"Iya, aku akan mengatakannya." Jawab Sonia pada Tasya, lalu langkah Sonia pun menghilang dari penglihatan Tasya.


Sedangkan Tasya buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, karena tidak mau kalau pelanggan akan menunggu lama.


Huff.


"Akhirnya beres juga," ucap Tasya lirih.


Tasya pun berjalan dan membawa kotak berisikan kue tadi, dan segera memberikannya pada pria tersebut.


Sesampainya di luar.


"Pak, ini pesanan yang Bapak mau." Tasya pun langsung menegur laki-laki itu tanpa ia tahu siapa sosok pria tersebut. Posisinya yang tertunduk membuat Tasya tidak bisa mengenalinya.


"Oh, bisa saya melihatnya."


"Bisa," kata Tasya dan langsung memberikan kue itu pada pria tersebut dan.

__ADS_1


"Kamu!"


__ADS_2