
"Tinggal sobek beres, apa ada masalah selain itu?" tanya Bian dengan menatap wajah Tasya dengan sangat intens.
Tasya bingung dengan perasaannya, rasa nyaman itu ada namun. Sepertinya ia belum menemukan rasa cinta di hatinya.
"Apa aku boleh berpikir, maaf bukan menolakmu tapi aku perlu menimbang semuanya." Mungkin inilah yang tepat untuknya, setelah berucap pun Tasya langsung melenggang meninggalkan Bian.
Tasya berlari ke arah kamar dan menuju ke balkon.
Tasya tidak mencintai Bian, dan dia juga tak ada perasaan sedikitpun pada lelaki yang berstatus suaminya tersebut. Bukankah ini adalah pernikahan kontrak, dan empat bulan lagi semuanya akan berakhir.
"Saya tahu kalau kamu tidak bisa mencintai saya. Saya juga tidak bisa memaksa kamu," suara bariton dari arah belakang membuat Tasya langsung menoleh.
"Maaf."
"Tidak perlu meninta maaf, karena kamu pun berhak untuk memilih lelaki yang kamu cintai." Bian ternyata membuntuti Tasya yang saat itu berlari dan saat ini mereka berdua sudah berada di balkon.
"Pilihlah lelaki yang baik dan tentunya sesuai apa yang kamu inginkan, ya sudah saya mau pergi jaga diri di rumah baik-baik." Entah mengapa saat Bian berkata seperti itu terasa hati yang tersayat yang dirasakan oleh Tasya.
"Kenapa hatiku tiba-tiba perih," ucap Tasya dalam hati. Pada saat Bian pamit pun ia juga tak menjawab malah dirinya membuang muka ke arah bawah. Sunggup Tasya merasa tersiksa dengan keadaan seperti ini.
Sedangkan Bian sudah turun ke bawah dan bersiap untuk pergi dengan Delon.
Di sisi lain, Delon dan Bian sudah berada di suatu tempat. Tempat dimana bisa melupakan akan hati yang patah untuk sesaat.
"Bi, sudah jangan banyak-banyak kalau minum." Yah, sekarang mereka berdua tengah berada di bar. Bian benar-benar lepas kontrol dan saat ini sudah menghabiskan dua botol, minuman yang membuat lupa akan segalanya, namun nyatanya dirinya tidak bisa melupakan sosok nama yang terus-terusan ia sebut.
"Syah, apa kurangku sampai-sampai kau menolakku." Bian mulai meracau dan nama istrinya lah yang tidak bisa ia lupakan, meski sekarang dengan keadaan mabuk.
"Sepertinya ada masalah mereka," gumam Delon.
"Bi, stop."
"Delon, istri saya tidak mencintai saya terus sekarang saya harus bagaimana?" sedikit sadar hingga membuat Bian mencurahkan isi hatinya pada temannya.
Namun, Delon bukan langsung menjawab malah terbesit di benaknya untuk mengatakan sesuatu yang ada di pikirannya. Kalau itu benar berarti saran yang nantinya akan diberikan cukup membuat keduanya bisa menumbuhkan benih-benih cinta.
"Apa kau sudah unboxing?" tanya Delon the to poin pada Bian.
"Saya sedang tidak memberi barang mana ada buka segel, ini nih tolong buka baru kebuka segelnya." Jawab Bian yang mulai berkeliaran ucapannya.
"Dasar kau ini! Seperti orang yang sudah sakaratul maut saja. Bicara sudah tak jelas arahnya," ucap Delon menggerutu karena Bian memang sudah tidak menyambung dengan pertanyaan, yang diajukan olehnya.
"Apa kau mendoakan saya mati," ujar Bian.
__ADS_1
"Ya saya harap begitu, tapi sayang karena bulan ini kau belum menggaji ku maka tetaplah hidup." Jawab Delon dengan wajah jengah nya.
"Dasar lelaki mata duitan, lelaki yang…."
Brukh.
Belum sempat Bian melanjutkan kata-katanya namun kepalanya sudah tergeletak di atas meja, dan sepertinya dia teler.
"Dasar bos gila," umpat Delon.
"Saya memang gila Tasya … Gila karena sudah terlanjur mencintai kamu, sayangnya kamu memilih lelaki seperi Delon."
"Lha kenapa jadi saya yang di bawa-bawa?" Delon mengernyitkan keningnya saat Bian sadar untuk sesaat dan meracau lagi, lalu tiba-tiba kepalanya diletakkan kembali di atas meja.
"Bininya saja tidak tahu, gimana sih ini orang. Dasar boa somplak dan sekarang saya yang dibuat susah," gerutu Delon yang tak berhenti mengomel karena Bian benar-benar sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol yang ia teguk.
Delon sedikit bersyukur karena sewaktu tadi ia datang dengan mobil milik Bian, tapi yang di sesali kini dirinya harus membopong tubuh Bian, meski sedikit pendek namanya orang teler pasti terasa berat pikir Delon.
Dengan diiringi helaan nafas panjang Delon langsung mengangkat tubuh temannya sekaligus bosnya tersebut, untuk di bawa ke dalam mobil.
Mereka sudah berada di bawa mobil, sekarang dalam pikiran Delon. Secantik apa istri Bian, sampai-sampai dia menolak temannya itu.
"Jadi penasaran, apa memang dia sangat cantik?" di dalam mobil dengan keadaan menyetir Delon pun bertanya-tanya hingga membuat Bian sampai kehilangan akal sehatnya.
Huek.
Huek.
"Dasar menyebalkan," umpat Delon.
Sekitar satu jam dan tepat pukul satu dini hari, Delon sampai di pekarangan rumah Bian.
Gerbang yang tak di gembok sedikit memudahkan Delon untuk masuk serta membawa tubuh kekar Bian, terlihat pendek namun tubuhnya sangatlah berotot.
Tok.
Tok.
Tok.
"Semoga istri Bian mendengar," gumamnya.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
Sedang di dalam Tasya yang memilih menunggu suaminya pulang ia tidur di ruang tamu untuk berjaga-jaga, jika saja mendengar suara ketukan dan itu akan memudahkannya untuk bangun.
Ceklek.
Tasya membuka pintu dengan keadaan mata setengah sadar, dan saat itu juga matanya membelalak saat melihat Bian dengan keadaan di rangkul oleh Delon.
"Kau istrinya Bian?" tanya Delon langsung.
"I-ya. Itu kenapa pingsan?" tanya balik Tasya sambil tangan yang menuding ke arah sang suami.
"Cantik, makanya suami kamu sampai frustasi hingga kehilangan akal sehatnya."
Tasya masih bingung dan belum bisa mencerna kata-kata dari lelaki yang berada di depannya, sungguh itu membuatnya bertanya-tanya soal kalimat yang terlontar dari mulut lelaki tersebut.
"Maaf, aku sungguh tidak mengerti dengan kata-kata kamu?"
"Jangan sok polos tentunya kamu mengerti apa yang sedang terjadi pada suamimu ini, lihat lah dan buka mata kamu!" seru Delon memperlihatkan sisa-sisa muntahan yang ada di bajunya itu.
"Mabuk?"
"Iya dan semuanya karena kamu," ujar Delon tanpa basa-basi.
"Aku tidak melakukan apapun pada Bian si lelaki rese," kata Tasya yang memang dirinya merasa tidak ada salah pada lelaki tersebut.
"Dasar wanita, dimana-mana selalu benar dan tak mau mengakui kesalahannya." Delon berkata lirih karena menurutnya semua rata-rata para wanita selalu saja begitu.
"Hye, aku tidak kenal kamu. Bisa jaga gak itu mulut! Kalau kamu tidak mengatakan kesalahan yang kuperbuat lantas bagaimana aku bisa tahu bodoh," ucap Tasya panjang lebar dan itu membuat Delon langsung menelan ludahnya.
Glek.
"Cuit-cuit. Sadis amat ini bini orang kalau ngomong, kenapa saya jadi merinding ya." Lantas Delon langsung bergidik dan itu tak lepas dari sorot tajam milik Tasya.
"Apa kau pikir aku kuntilanak?"
"Tidak."
Brukh.
"Sialan kalian."
__ADS_1