Cinta Ammara

Cinta Ammara
Bab 11


__ADS_3

" Biarkan saya yang nyuapi kamu Ra... " ucap Argan seraya memegang sendoknya.


" Sebetulnya saya bisa sendiri Pak, walau hanya pelan-pelan... " ucap Rara tak enak hati.


" Sudahlah kamu jangan keras kepala, sekarang makan, saya akan nyuapin kamu..." ucap Argan tegas.


Rara mengangguk dan pasrah, karena percuma jika dirinya kekeh dengan keinginannya, Argan tidak ingin dibantah. Hingga kini Rara telah selesai makan dan minum obat yang telah diberikan suster tadi.


Kini Rara bersandar di ranjangnya, sedangkan Argan duduk dikursi samping Rara. Argan memandang wajah Rara sehingga Rara malu dan menunduk gugup.


" Ra... Bolehkah saya tanya tentang privasimu...?" tanya Argan to the point.


" Bapak mau tanya apa ?" tanya Rara bersikap biasa.


" Kenapa kamu bisa bercerai dengan suamimu...? Dan kenapa mantan suamimu tidak boleh tahu kalau kamu hamil anaknya...?" ucap Argani penasaran.

__ADS_1


" Dia yang menginginkan cerai ini Pak, karena ada wanita yang lebih segalanya dari saya... Saya menikah dengan dia sudah 8 tahun tapi belum kunjung diberikan momongan... saya dan dia tetap berusaha dan berdoa hingga akhirnya dia memilih wanita itu karena merasa usahanya sia-sia... Dan dirinya pun tidak pernah percaya kalau suatu saat saya bisa hamil... Setelah bercerai dirinya tidak memperbolehkan saya bertemu atau menemuinya dengan kondisi apapun... Karena dirinya tidak mau kehidupan barunya diusik oleh saya..." ucap Rara menunduk seraya menahan kesedihannya.


" Kamu yang sabar Ra... Pasti kamu bisa melewatinya... " ucap Argani tulus.


" Terima kasih Pak..." ucap Rara tersenyum.


" Sama-sama, cepatlah pulih dan langsung masuk kerja.. Saya sudah kangen dengan kopi buatanmu Ra..." ucap Argan tersenyum.


" Iya Pak... " ucap Rara malu-malu.


" Oya kamu itu nikah umur berapa Ra...?" tanya Argani penasaran.


" Berarti umur kamu sekarang sekitar 26 tahun ya...?" tanya Argan mengira-ngira.


" Iya Pak... "

__ADS_1


" Berarti masih tua saya sedikit... Saya 28 tahun Ra... Oya kalau diluar seperti ini kamu bebas panggil saya apa saja... Yang jelas jangan Pak... Oke..." ucap Argani pada Rara.


" Kalau Kak Argan gimana...? Apa boleh...?" tanya Rara takut.


" Itu lebih baik Ra... Anggap saja sekarang kita Kakak Adek ya ...? Karena umur kamu dibawahku... Nggak papa kan...? Biar kamu nggak canggung dengan saya... " ucap Argan tulus.


" Baik Kak... Terima kasih..." ucap Rara tersenyum.


" Kamu mulai sekarang kalau butuh atau perlu sesuatu bilang langsung sama Kakak ya Dek...? Jangan sungkan..." ucap Argan hangat.


" Iya Kak... Oya Kak Argan nggak pulang dulu untuk mandi dan ganti baju...?" tanya Rara seraya menatap Argan.


" Nggak Dek... Nanti saja kalau Ibu sudah kesini... Apa kamu butuh sesuatu...?" tanya Argani pada Rara.


" Rara ingin ke kamar mandi Kak... Mau wudhu ini sudah masuk adzan magrib... Apa Kakak bisa bantuin Rara kesana..." ucap Rara memohon.

__ADS_1


" Baiklah... Akan Kakak bantu kamu kesana.. Berpeganggan ya Dek..?" ucap Argan seraya memapah Rara menuju pintu kamar mandi.


Sesampainya di pintu kamar mandi. Rara masuk dan berwudhu dengan hati-hati. Selesai wudhu Rara dengan pelan menuju ranjang dan naik ke ranjang dengan hati-hati. Setelah itu Rara langsung memakai mukenanya untuk sholat Magrib. Sedang Argani merasa teduh memandang Rara yang rajin sholat dan bermunajat pada-Nya.


__ADS_2