
" Sekarang apa Mas Yudi baru menyadari kalau aku ini seorang ******...? Dimana 8 tahun kita hidup bersama, apa Mas nggak bisa menilai diriku yang sesungguhnya...?" tanya Rara berusaha menahan air matanya.
" Sayangnya aku nggak bisa dan nggak mau menilaimu Ra... Aku sungguh kecewa dengan sikapmu dan tindakanmu itu... Sungguh aku nggak nyangka kamu bisa serendah itu..." ucap Yudi sinis.
" Kalau memang kamu kecewa denganku dengan tindakanku ini.. Terus waktu kamu menceraikan aku dan menjalin hubungan dengan wanita lain.. Bagaimana perasaanku.. Haaa...?" ucap Rara emosi.
" Itu urusanmu sendiri...!" ucap Yudi tak peduli.
" Baiklah, karena ini sekarang kehidupanku jadi biarkan aku melakukan yang aku suka dan mau, termasuk bermesraan dengan kekasihku ini..." ucap Rara seraya memegang lengan Argan manja.
" Dasar wanita menjijikan, entah apa yang akan anakmu lakukan besok kalau tahu ibunya lebih dari seorang ******.. Hamil diluar nikah dan belum tentu juga pria itu mau bertanggungjawab menikahimu..." ucap Yudi dengan nada tinggi.
" Yang penting aku mendapatkan seorang anak, biar hidupku nggak sendiri lagi... Dan dengan ini aku bisa membuktikan padamu bahwa aku tidak mandul..." ucap Rara tersenyum.
" Terus maksudmu aku yang mandul begitu...?!" tanya Yudi penuh emosi.
" Sorry aku tak bilang seperti itu.. Dan karena Mas sudah ndak ada keperluan lagi denganku silahkan pergi dari sini...." ucap Rara dengan mengelus perutnya yang buncit.
__ADS_1
" Urusan kita sudah selesai.. jangan pernah datang kekehidupanku yang baru... Camkan itu..!" ucap Yudi penuh penekanan.
" Bukankah kalimat yang kamu ucapkan itu seharusnya ditujukan kepadamu sendiri Mas...? Karena yang kembali hadir itu kamu bukan aku..." ucap Rara penuh penekanan.
" Terserah..." ucap Yudi sinis.
" Sekarang cepatlah keluar dari sini... Pintunya disebelah sana... Atau Mas ingin melihat aku ***-*** dengan kekasihku ini...? Heemmm...? Maklumlah karena hamil ini aku inginnya selalu dimanja dan dibelai dengannya..." ucap Rara bergelayut manja dilengan Argan.
" Dasar wanita sinting..." ucap Yudi seraya berjalan keluar dan membanting pintu.
" Kenapa kamu tadi nggak jujur sama mantan suamimu kalau anak itu anaknya Dek...?" tanya Argan dengan membelai lembut rambut Rara.
" Apa Rara punya kesempatan untuk bicara jujur padanya...? Sebenarnya Rara tadi ingin bicara apa adanya tentang anak ini, tapi dia sendiri yang sudah menilai diriku seperti itu...?" ucap Rara menghela nafasnya.
" Yasudah dengan berjalannya waktu dia akan tahu dengan sendirinya..." ucap Argan menghibur Rara.
" Iya Mas..." ucap Rara santai.
__ADS_1
" Oya Dek, Mas akan keluar sebentar belanja bahan makanan untuk keperluanmu besok, sekalian Mas akan beli makanan untuk kita... Kamu istirahatlah baring-baring dikamar dulu biar pikiran dan hati kamu plong..." ucap Argan seraya mengelus rambut Rara.
" Baiklah Mas, bolehkah Rara minta sesuatu...?" tanya Rara ragu.
" Boleh, kamu mau minta dibeliin apa Dek.. ? Heeemmm...?" tanya Argan menatap Rara intens.
" Tolong beliin salad buah, es krim sama mie ayam bakso super jumbo... Mau ya Mas...?" ucap Rara memelas.
" Baiklah, ntar akan Mas beliin semuanya... Ada lagi yang kamu inginkan Dek...?" tanya Argan tersenyum.
" Sudah cukup itu saja Mas,.." ucap Rara malu.
" Yaudah, Mas pamit keluar dulu.. Assalamualaikum..." pamit Argan pada Rara.
" Hati-hati Mas dan cepatlah pulang.. jangan lama-lama..." ucap Rara manja.
" Iya bawel..." ucap Argan tersenyum sambil msngelengkan kepalanya.
__ADS_1