
Setelah kepergian Hani, Argan berjalan kembali ke ruangannya tapi ditahan oleh Ayahnya.
" Tunggu Ar... ada apa kamu nyuruh Hani untuk memanggil Rara kesini.. apa ada hal yang penting..?" tanya Pak Damar pada anaknya.
" eeehhh... nggak ada sich yah... " ucap Argan sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
Pak Damar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran akan tingkah anaknya yang aneh, sedangkan Argan hanya cengengesan sambil berlalu keruangannya.
Kini Hani berjalan menuju pantry dan langsung mencari keberadaan Rara.
" Ra... kamu sedang apa...? Pak Argan memanggilmu untuk segera datang keruangannya..." ucap Hani sambil mencuci tangannya.
" Memangnya ada apa Han...?" ucap Rara menoleh kearah Hani.
" Aku nggak tahu Ra... lebih baik cepetan kesana saja biar itu yang nerusin aku..." ucap Hani sambil mengambil alih kain lap dari tangan Rara.
" Baiklah... aku kesana dulu Han..." ucap Rara mencuci tangannya dan langsung berjalan keluar pantry.
Kini Rara sudah sampai didepan ruangan Pak Damar dan Argan. Rara berusaha mengatur nafasnya entah kenapa dirinya merasa gugup. Rara pun mengetuk pintunya, setelah ada jawaban dari dalam Rara segera masuk.
__ADS_1
" Assalamualaikum yah.. maaf tadi Mas Argan manggil Rara ada perlu apa ya.. ?" tanya Rara sopan.
" Waalaikumsalam nak, Ayah nggak tahu ada perlu apa itu anak manggil kamu... lebih baik kamu langsung masuk saja keruangannya Argan..." ucap Pak Damar sambil tersenyum.
" Baiklah Ayah... Rara permisi keruagan Mas Argan dulu..." ucap Rara tersenyum dan menunduk hormat.
Pak Damar tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Rara mengetuk pintu ruangan Argan, setelah ada jawaban dari dalam dirinya segera masuk.
" Assalamualaikum Mas... maaf Mas Argan manggil Rara kesini ada apa..? apa ada pekerjaan yang harus Rara bereskan...?" tanya Rara yang masih berdiri.
" Waalaikumsalam Dek... kamu duduklah dulu.." ucap Argan berdiri mempersilakan Rara duduk disofa.
" Maaf sayang... ijinkan Mas tiduran dalam posisi seperti ini..." ucap Argan sambil menatap Rara.
" Tapi nanti kalau Ayah tahu bagaimana Mas...? Rara takut dan nggak enak, soalnya ini masih jam kerja..." ucap Rara panik.
" Ayah pasti tahu, sebentar saja... " ucap Argan yang sudah ganti posisi menghadap ke perut Rara.
" Halo babynya Papa, kamu sedang apa nak...? apa kamu hari ini rewel dan bikin mamamu kelelahan...?"tanya Argan sambil mengelus dan mencium perut Rara.
__ADS_1
" Alhamdulilah baby nggak rewel Mas..." ucap Rara haru reflek mengelus rambut Argan lembut.
" Berarti baby kita pengertian sayang..." ucap Argan menatap Rara sambil tersenyum.
" Iya Mas..." ucap Rara tersenyum.
" Dek, kamu tahu nggak...? Mas sangat nyaman jika seperti ini... " ucap Argan seraya memejamkan matanya sambil menikmati belaian lembut tangan Rara dirambut kepalanya.
" Apa yang membuat Mas Argan memilih Rara menjadi kekasihnya Mas...? padahal Mas Argan tahu semuanya tentang kehidupan Rara..." ucap Rara menunduk menatap Argan.
" Karena Mas merasa nyaman didekatmu, dan Mas mencintaimu Ammara...." ucap Argan bangun dan duduk.
" terimakasih Mas Argan, Rara juga mencintaimu..." ucap Rara malu-malu.
" Mas tahu, sekarang berdirilah... sini Mas bantu..." ucap Argan mengulurkan tangannya.
" Mas mau ajak Rara kemana...?" ucap Rara penasaran.
" Nanti kamu akan tahu sayang..." ucap Argan tersenyum berjalan menuju balkon ruangannya.
__ADS_1