
" Terimakasih Han, kamu begitu baik padaku.. Oya pekerjaan apa yang bisa aku kerjakan sekarang...?" ucap Rara sambil meletakkan tasnya.
" Cuma tinggal buatin minuman untuk Pak Damar dan putranya.. Apa kamu bisa Ra...?" ucap Hani sambil menoleh kearah Rara.
" Bisa Han, yaudah kamu istirahat dulu biar aku yang buat dan ngantar kesana..." ucap Rara tersenyum.
" Baiklah, jalannya hati-hati ya Ra... kasihan babynya..." ucap Hani serius.
" Siap Han..." ucap Rara tersenyum.
Rara pun segera membuatkan kopi dan langsung berjalan keruangan Pak Damar. Sesampainya disana, Rara mengetuk dan segera masuk.
" Maaf permisi, ini Pak minumannya..." ucap Rara sambil meletakkan minumannya dimeja Pak Damar.
" Ow.. Terimakasih Nak, gimana keadaan kamu, sudah baikan...?" ucap Pak Damar seraya menatap Rara.
__ADS_1
" Alhamdulilah sudah baikan Pak, maafkan saya Pak sudah membuat keluarga Bapak repot dan harus membiayai biaya Rumah Sakit saya..." ucap Rara menunduk.
" Jangan sungkan dengan Ayah Nak, sungguh Ayah sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri.. Biaya Rumah Sakit tidak sebanding dengan apa yang pernah kamu lakukan pada istriku..." ucap Pak Damar berjalan mendekat kearah Rara.
" Iya Dek, betul kata Ayah, jangan pernah sungkan dengan kami, bahkan kalaupun kamu jadi istriku Ayah dan Ibu tidak akan keberatan, iya kan Yah...?" ucap Argan santai sambil masuk keruangannya.
" Maksud kamu apa Ar...? apa kamu serius dengan ucapanmu itu...?" tanya Pak Damar pada putranya.
" Argan serius Yah, entah kenapa Argan ingin selalu ada disamping Rara, melindungi dan menyayanginya..." ucap Argan serius.
" Argan tahu Yah, walaupun baby yang dikandung Rara bukan darah dagingku, tapi aku sangat ingin menjadi Ayahnya Yah... " ucap Argan mantab.
" Maksud Ayah bukan itu Ar..." ucap Pak Damar mendesah.
" Maafkan saya Pak, Mas Argan sebaiknya saya undur diri dahulu.. saya permisi.." ucap Rara menunduk tak enak hati.
__ADS_1
" Tunggu Nak, jangan keluar dulu, kemarilah kita duduk santai di sofa dulu.. Ayo Ar..." ucap Pak Damar sambil mengenggam tangan Rara.
Setelah mereka duduk, Pak Damar segera memulai mengobrol dengan Argan dan Rara.
" Nak Rara, kamu jangan merasa tak enak hati dan bersalah karena Ayah akan marah sama Argan tentang keinginannya menjadikan kamu istrinya..." ucap Pak Damar santai.
" Lalu kenapa Ayah tadi mendesah seolah tidak mengijinkan dan merestui keinginan Argan...?" tanya Argan menatap Ayahnya.
" Kamu tahu kan, Rara sedang hamil, misalkan kamu ingin menjalin hubungan asmara dengannya tidak masalah, tapi untuk meresmikan hubungan kalian harus menunggu jabang bayi ini lahir dulu Ar... Kamu paham maksud Ayah...?" tanya Pak Damar menatap intens anaknya.
" Jadi maksud Ayah, Ayah merestui hubungan kami...?" tanya Argan seraya mengenggam erat lengan Ayahnya.
" Ayah merestui hubungan kalian, tapi Ayah nggak tahu dengan Ibumu, dia mau merestuinya atau tidak...? Dan dengan Rara sendiri mau tidak menerimu sebagai kekasihnya mungkin..." tanya Pak Damar sambil tersenyum melirik kearah Rara.
" Urusan Ibu biar Argan yang bicara Yah... Tapi kamu sendiri gimana Dek...? Mau kan menerima niat baik Mas ini..?" tanya Argan menatap Rara intens.
__ADS_1
" Maaf Mas, Rara masih binggung mau menjawab dan ngasih jawaban bagaimana ke Mas Argan... Jujur Rara sangat nyaman diperhatikan dan di lindungi Mas setiap saat... Tapi disini kondisi dan posisi Rara seperti ini..." ucap Rara sendu seraya menunduk.